Jumat, 10 September 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
 
 

Welcome Back, Che Wei

Agus S. Riyanto
 

ANDA semua mau bikin pendidikan gratis. Duitnya dari mana?” Pertanyaan itu diajukan Lin Che Wei, tahun 2004 silam, kepada para calon presiden saat debat di televisi.
Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla (SBY-JK) diam seribu bahasa. Amien Rais sigap menjawab; ”Menurut Profesor Soemitro Djojohadikusumo, korupsi di Indonesia mencapai 30% dari anggaran. Jika kita berantas korupsi, sebanyak 30% itu yang bisa digunakan.”

 Artikel Lain
Menakar Janji Adang dan Foke
Asing Didamba, Asing Dipangkas
Saudi Masuk, Saudi Terhadang
Perahan Bernama Danareksa
Welcome Back, Che Wei
Mundur karena Komitmen
Selamanya Jadi Incaran
Pekatnya Bau Temasek di Astra
Uniquely Singapore’s Business
Hedging untuk Siapa?
Jawaban Amien sangat cerdas. Amien juga yang menguasai panggung debat. Namun, Che Wei punya penilaian sendiri. Pria kelahiran Bandung, 1 Desember 1968 ini, lalu merapat ke pasangan SBY-JK bersama pengamat politik Denny J.A. Sekelompok ekonom UI yang dipimpin Irsan Tanjung, ekonom IPB Joyo Winoto, dan Andi Mallarangeng juga bergabung.
Nyatanya, SBY-JK menang. Sebelum pelantikan presiden, Lin Che Wei kerap terlihat di Cikeas (rumah SBY). Namanya disebut-sebut bakal duduk di posisi penting pemerintahan SBY.
Tapi, rekor Che Wei di birokrasi nyaris nol. Maka, ia pun ”disekolahkan” dulu di Kementerian BUMN, sebagai staf ahli. Ia juga sebentar menjadi Staf Khusus Menko Perekonomian Aburizal Bakrie. Pada 15 Juli 2005, ia menjadi Direktur Utama PT Danareksa. Tahun 2006, Che Wei menjabat sekretaris tim perundingan pemerintah Indonesia, untuk bernegosiasi dengan ExxonMobil, membahas pengelolaan Blok Cepu.
Karir Che Wei di Danareksa diakhiri dengan sepucuk surat pengunduran diri, Kamis pekan lalu. ”Banyak orang yang tidak suka. Dan,… ya, begini begitu,” katanya.
Lin Che Wei punya ”nama Indonesia”: Weibinanto Halimdjati. Tapi, ia lebih suka dengan nama aslinya yang berarti orang yang teguh hati. Ia insinyur lulusan Universitas Trisakti dan mendapat MBA dari Universitas Nasional Singapura (1994). Che Wei lalu memperoleh sertifikat CFA (Chartered Financial Analyst) dari Association of Investment Management in Research pada tahun 2000.
Debutnya sebagai analis saham dimulai saat ia bekerja di PT WI CARR Securities, tak lama setelah meraih gelar MBA. Dua tahun ia bertahan di situ. Pada 1996, Che Wei mencoba peruntungan di Deutsche Bank.
Tapi ia tak lama menjadi bankir. Che Wei kembali ke dunia aslinya, pasar modal, lalu menjabat Presiden Direktur PT SocGen Indonesia. Kala itulah, ia dikenal sebagai analis paling mahal di Indonesia. Ia hijrah ke Singapura, menjadi Co-Head Research Societe Generale Global Equities (SocGen) untuk Indonesia, Thailand, dan Filipina.
Sejak sepuluh tahun silam, data dan analisisnya banyak menghiasi media massa. Pada tahun 1999, Che Wei menjuluki Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) sebagai mobil Formula-1 yang dikendarai sopir bajaj. Komentarnya dimuat di salah satu majalah Ibu Kota. Pejabat BPPN kesal. SocGen yang dipimpin Che Wei terancam tak mendapat proyek BPPN.
Che Wei lalu curhat kepada sahabatnya, seorang redaktur di majalah itu. Dan redaktur itu jadi saling ”gak enakan” dengan koleganya, sesama redaktur yang menulis komentar Che Wei tadi. Beberapa tahun kemudian, ketika BPPN akan bubar, di sebuah seminar mahasiswa, Che Wei lantang membanggakan komentarnya soal Formula-1 dan bajaj tersebut.
Che Wei juga ikut melucuti kasus penjualan saham Indomobil oleh BPPN. Tapi, yang paling menggebrak adalah soal dugaan rekayasa keuangan Lippo E-net dan kejanggalan laporan keuangan Bank Lippo. Di sini, Che Wei sampai berurusan dengan aparat hukum. Ia dilaporkan petinggi Grup Lippo dengan tuduhan pencemaran nama baik. Che Wei kala itu lebih dikenal sebagai aktivis GCG (good corporate governance).
Kasus Lippo membuatnya harus bolak-balik ke kantor polisi dan ke kejaksaan. Bahkan di Pengadilan Tinggi DKI Jakarta, ia hampir ditahan. Untunglah, majelis hakim menolak gugatan tersebut.
Sejak menjadi orang pemerintah, kita tak pernah membaca ulasan kritis Lin Che Wei. Semoga, ia tak lantas tersangkut masalah hukum selama menjadi orang pelat merah. Dan, suaranya bisa kembali lantang. Welcome back, Che Wei. 


Berikan Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id
  Copyright © 2002-2006 Majalahtrust.com. All Rights Reserved. Design by Proweb Indonesia