Jumat, 3 September 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
 
 

Gesekan di Pabrik Terigu

Agus S. Riyanto, Mega Julianti, Julianto, Priyanto Sukandar, Ahmad Pahingguan, dan Wisnu Arto Subari
 
DUA orang tamu menghadap Franky Welirang, akhir Juli silam. Mereka adalah Kasim Purwo Diharjo dan Rochim AS. Franky adalah Wakil Dirut Indofood. Kasim dan Rochim adalah mitra Bogasari yang menyalurkan produk terigu perusahaan itu kepada sejumlah pelaku usaha kecil dan menengah di Jawa Tengah.
Duet Rochim dan Kasim ini ingin curhat kepada Franky. Mereka merasa, jatah terigu dari Bogasari mulai seret datangnya. Sudah begitu, ada terigu Bogasari lain yang beredar di wilayah mereka dengan harga lebih murah. Kasim dan Rochim menyerap terigu dari Bogasari sebanyak 250 sak per hari. Tiap sak berisi 25 kilogram dengan harga rata-rata Rp 100 ribu.
Syahdan, yang membuat Kasim dan Rochim kesal adalah sosok bernama Hans Ryan Aditio, Senior VP Marketing Bogasari. Hans inilah yang disebut-sebut memiliki jaringan distributor lain di wilayah Jawa Tengah—dan mengganggu pasar Kasim dan Rochim.

 Artikel Lain
Jalan Bakal Semakin Terjal
Menjadi Perkasa di Pasar Dunia
Memang Baru Bisa Mimpi
Cendera Mata yang Terus Bersinar
Gesekan di Pabrik Terigu
Mimpi Indah B.J. Wong
Upaya Membuka Keran Ekspor Pasir Laut
Rupiah Bertaburan di Jakarta
Menakar Janji Adang dan Foke
Asing Didamba, Asing Dipangkas
Seorang sumber mengisahkan, Franky sempat kaget mendengar cerita itu. Ia kemudian memanggil Hans dan memarahinya. Tapi, Hans bergeming. ”Hans di-back up Anthony Salim,” ujar sumber tadi.
Siapa pun paham, Anthony adalah Direktur Utama PT Indofood Sukses Makmur, induk Bogasari. Anthony juga adalah pemegang kemudi Grup Salim, konglomerasi paling terkemuka di negeri ini.
Anthony, anak tertua Liem Sioe Liong, rupanya mengerti benar, bila tak dipersiapkan sejak dini, pasar terigu yang dikuasai Bogasari akan tergerus oleh pesaing dan pemain lain. Saat ini saingan Bogasari adalah PT Sriboga Ratu Raya, PT Eastern Peral Flour Millis, dan PT Pangan Mas Inti Persada. Plus importir yang tahun 2006 memasukkan 554 ribu ton. Selain itu, ada juga empat calon pemain baru yang sudah memperoleh izin usaha penggilingan gandum.
Bogasari sendiri ditengarai memiliki kelemahan. ”Organisasinya terlalu gemuk,” kata sumber TRUST yang pernah bekerja di Bogasari. Produktivitas pekerja di Bogasari hanya setara dengan setengah produktivitas pekerja di pabrik pengolahan biji gandum di negara lain. Selain itu, mesin-mesin di Bogasari juga termasuk uzur.
Makanya, Anthony terus melakukan pembenahan. Beberapa upaya dilakukan, termasuk menugaskan anak-anak muda yang potensial untuk memimpin bisnis di Bogasari. Nah, anak muda yang menonjol di Bogasari adalah Hans Aditio itu tadi.
Sebelumnya, Anthony juga memplot Franky Welirang menjadi Wakil Direktur Utama PT Indofood. Franky adalah ipar Anthony. Peran Franky kemudian lebih sebagai juru bicara Keluarga Salim. Di Bogasari, peran Franky tak lagi besar.
Padahal, Franky-lah yang berada di balik keberhasilan Bogasari keluar dari krisis. Rhenald Kasali, Ketua Program MM UI, menguraikan, awalnya, Bogasari mendapat hak untuk menggiling gandum yang di impor oleh Bulog. Akibat proteksi itu, karyawan Bogasari tidak mengenal segmentasi marketing. Bogasari terlena dengan posisi sebagai produsen atau penggiling gandum Bulog.

MENJADI PERUSAHAAN SESUNGGUHNYA
Setelah rezim Orde Baru terguling pada 1998, hak Bulog untuk mendatangkan gandum distop. Bulog juga tak lagi menjadi penjamin pasokan sejumlah kebutuhan pokok rakyat—termasuk terigu. Otomatis, Bogasari harus bergerak cepat mencari pemasok gandum dan jaringan distributor terigu. Nyatanya, Bogasari mampu berubah secara cepat.
Di sinilah peran Franky terlihat. Ia merekrut Philip Purnama, lulusan Harvard University. Franky juga menjalankan fungsi kepedulian sosial perusahaan (CSR) dan lobi, seperti melakukan pendekatan kepada tokoh masyarakat atau ulama. Franky pula yang menggandeng para pengusaha mi, pengusaha roti, dan tukang bakso. Jaringan pengusaha kecil dan menengah inilah yang menjadi cikal-bakal jaringan distribusi Bogasari usai era kemitraan dengan Bulog.
Franky dan Philip adalah ujung tombak Bogasari saat itu. Franky juga berhasil membawa Bogasari lolos dari jeratan kasus dugaan monopoli dari Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Lantas, Philip Purnama melakukan fungsi marketing dan logistik. Ia bernegosiasi dengan pemasok gandum di luar negeri. Hasilnya luar biasa. Bogasari bisa berubah menjadi perusahaan yang sesungguhnya—dari yang tadinya hanya sebagai penerima order pemerintah.
Philip juga yang berada di balik strategi pemasaran Bogasari yang unik. Ketika menjual produksinya, Bogasari tidak mempromosikan terigu. Mereka justru mempromosikan produk akhir dari terigu, seperti roti, mi, atau martabak. Kebanyakan produk akhir itu dibikin oleh pengusaha kecil dan menengah (UKM). Semakin luas produk makanan itu dikenal, maka semakin tumbuh si pengusaha UKM tadi, dan produk Bogasari juga makin laris.
Bogasari juga berani menyisihkan anggaran 10%-15% dari penjualan per tahun untuk biaya riset. Dengan penjualan berkisar Rp 6 triliun, maka biaya riset Bogasari mencapai Rp 600-900 miliar. Itu jumlah yang lumayan. Setiap riset di Bogasari tak melulu berbentuk produk, tapi juga bisa berupa inovasi marketing ataupun proses. Dari sana, terbentuklah Bogasari Baking Centre (BBC) yang bertujuan membantu inovasi dalam pembuatan roti buat kalangan usaha kecil menengah.
Konsep BBC nyatanya berhasil. Dari sana, muncul 10 ribuan pebisnis makanan baru berbasis terigu. Mereka semua mengandalkan produk Bogasari
Tapi, bisnis memang kejam. Ketika waktu terus bergulir, regenerasi di Bogasari harus dilakukan. Philip Purnama pun mental dan digantikan Hans Aditio. Kabarnya, Hans nanti juga akan menggantikan Franky. Tapi, selain Hans, Anthony juga mempersiapkan tiga manajer lain di Bogasari—Jeremia Siswopurnomo, Arief Indrawan, dan Alvin Alden Setiono—untuk menjadi pemuncak Bogasari.
”Semuanya masih muda dan ada hubungan emosional dan sejarah dengan Keluarga Salim,” ujar seorang pejabat Indofood. Rhenald Kasali menilai regenerasi itu sebagai hal yang wajar. Menurut Rhenald, Anthony Salim memang termasuk orang yang suka bereksperimen.
Kini eksperimen itu mulai bekerja. Riak-riak terlihat. Kasus Kasim dan Rochim tadi adalah salah satunya. Seorang analis menilai, apa yang terjadi di Bogasari merupakan sebuah bentuk peningkatan profesionalisme. Para manajer muda itu sepertinya menilai bahwa posisi Bogasari sekarang sudah cukup kuat. Jadi, hubungan emosional yang kontraproduktif dengan konsumen harus mulai dikikis.
Kisah Kasim dan Rochim sendiri bermula dari perkenalan mereka dengan Franky. Kasim adalah pedagang mi di Jakarta. Ia adalah pendiri Paguyuban Tunggal Rasa Jakarta. Kasim sejak dulu berusaha menjadi agen Bogasari. Namun, ternyata tak gampang memperoleh kepercayaan Bogasari untuk mengambil terigu dari gudang dan mendistribusikannya kepada anggota paguyuban yang belum disetujui.
Jalan Kasim menjadi mitra Bogasari akhirnya terbuka. Ketika kerusuhan Mei 1998 meletus, tidak ada distributor yang berani mengambil terigu di gudang Bogasari dan memasoknya ke pasar. Akibatnya, pasokan terigu di pasar kosong selama sebulan.
Kesempatan itu dimanfaatkan Kasim. Ia berani menjamin bahwa truk pengangkut terigu bisa ke luar pabrik dengan aman di daerah Tanjung Priok, Jakarta. Sebagai imbalannya, Kasim meminta bagian kepada Franky senilai Rp 10 tiap sak untuk paguyubannya. Permintaan itu dipenuhi. Mereka lalu membuat perjanjian tertulis. Franky kemudian memanfaatkan Kasim untuk membangun banyak paguyuban pedagang mi dan makanan di kota-kota di Jawa. Kasim kemudian menjadi sahabat baik Franky.
Nah, kalau Rochim, awalnya ia adalah pedagang bakso—lalu menjadi produsen mi di Sragen, Jawa Tengah. Usahanya terus berkembang hingga dilirik Bogasari untuk dijadikan mitra. Kedekatan Rochim dengan Franky makin erat setelah Rochim sukses membongkar mata rantai jaringan pemalsu dan pengoplos tepung Bogasari di Jawa Tengah. Seperti Kasim, Rochim juga memiliki kedekatan emosional dengan Franky.

FRANKY DIADU DENGAN HANS?
Mungkin karena kedekatan emosional itu tadi, atau mungkin pula karena sebab lain, belakangan Kasim dan Rochim mulai seret menyetor pembayaran. Kasim mengaku masih memiliki utang sebesar Rp 86 juta kepada Bogasari. Rochim bahkan mengaku tak tahu berapa besar tunggakannya yang harus disetor kepada Bogasari.
Dihadapkan pada persoalan itu, Hans Aditio tidak tinggal diam. Ia menilai bahwa Kasim dan Rochim perlu diberi perhatian khusus. Hans lantas menerapkan peraturan ketat. Terigu hanya akan dikirim bila tunggakan-tunggakan itu mulai dilunasi. Bila tidak, pasokannya akan dihentikan.
Seiring dengan itu, Kasim dan Rochim menengarai. Hans juga memakai distributor lain untuk mengisi pasar di wilayah mereka. Akibatnya, Rochim dan Kasim mulai ditinggal pelanggannya. Soalnya, para distributor tadi berani perang harga. ”Selisihnya bisa mencapai Rp 1.750 per sak,” tutur Rochim.
Tentu saja Rochim dan Kasim kelabakan. Makanya, datanglah mereka menghadap Franky. Mereka juga mengancam, kalau Bogasari tetap mempersulit mereka memperoleh terigu, maka paguyuban yang mereka pimpin akan mengambil terigu dari Malaysia. Mereka mengaku sudah berulang kali didekati perusahaan terigu Malaysia untuk dijadikan distributor. ”Saya pikir, bisa saja kami beralih ke produk Malaysia,” kata Salim.
Menurut sumber TRUST, Franky kaget mendengar pengaduan mereka. Walaupun kemampuan mereka menyerap terigu kecil, kemitraan yang dijalin dengan Paguyuban Tunggal Rasa adalah bentuk dari kepedulian sosial (CSR) Bogasari. Akibatnya, pria berambut gondrong itu memanggil Hans untuk menjernihkan masalah.
Benarkah? Hans menolak untuk menjawab. Jawaban malah datang dari Franky. Menurut Franky, Rochim dan Kasim bukanlah distributor. Mereka hanya menjual langsung kepada konsumen akhir, yaitu anggota paguyubannya, seperti pembuat bakso dan pembuat mi. ”Kalau Hans melakukan perubahan jalur distribusi itu tidak benar, karena memang tidak ada perubahan dan tidak masalah,” ucap dia.
Hans juga menegaskan tidak ada masalah apa pun soal distribusi tepung terigu Bogasari. Soal kekecewaan Rochim dan Kasim akan perlakuan Hans yang mengurangi pasokan tepung? ”Ah, tak ada itu,” katanya. ”Kok, saya malah diadu dengan Hans?”
Franky menduga, munculnya isu tersebut akibat masuknya pesaing dari luar negeri yang ingin menjual produknya di Indonesia. Bogasari memang layak untuk diincar. Maklum, perusahaan ini adalah pemegang 70% pangsa pasar terigu di dalam negeri. Benar nih, tak ada hubungan dengan regenerasi? 


Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id
  Copyright © 2002-2006 Majalahtrust.com. All Rights Reserved. Design by Proweb Indonesia