|
|
 |
 |
|
 |
|
|
Cendera Mata yang Terus Bersinar
|
| Dikky Setiawan dan Mega Julianti Sumantri |
| |
BOGASARI adalah sebuah cendera mata dari rezim Orde Baru. Awalnya, perusahaan yang bernama lengkap PT ISM Bogasari Flour Mills ini didirikan sebagai pabrik penggilingan gandum menjadi terigu. Gandum itu berasal dari Amerika, dialurkan lewat Bulog, dan merupakan gandum bersubsidi. Kabarnya, waktu itu, Bogasari mengutip ongkos giling gandum dari Bulog dengan biaya lumayan mahal.
Setelah itu, produksi terigu Bogasari terus membengkak. Perusahaan ini kemudian mengimpor langsung gandum dari mancanegara—tanpa lagi tergantung kepada Bulog. Penjualan terigu hasil produksi mereka juga tak lagi mengandalkan Bulog. Saat ini, Bogasari adalah penguasa pasokan terigu di pasar domestik. Skala produksi perusahaan yang berdiri pada 36 tahun silam itu sudah mencapai 2,5 juta ton per tahun. Perusahaan itu menguasai 75% pasokan terigu nasional.
Seiring dengan itu, konsumsi terigu di dalam negeri juga terus membengkak. Berdasarkan data di Asosiasi Produsen Terigu Indonesia (Aptindo), sebanyak empat juta ton tepung terigu habis dikonsumsi di negeri ini pada 2006 lalu. Itu artinya, ada kenaikan konsumsi sebanyak 12% dari tahun 2005. Tahun ini, kebutuhan itu diperkirakan akan naik lagi sekitar 5%
Di samping Bogasari, terdapat sejumlah pabrik terigu lain dalam skala lebih kecil. Ada PT Berdikari Sari Utama Flour Mills yang memasok 10% pangsa pasar. Lalu, ada pula PT Pangan Mas Inti Persada Flour Mills dan PT Sriboga Ratu Raya Flour Mills yang masing-masing memasok sekitar 5% dari kebutuhan. Sisa kebutuhan nasional, sekitar 7% sampai 10%, diimpor dari berbagai negara, seperti Australia, Uni Eropa, Uni Emirate Arab, Srilanka, dan Cina.
Kedigdayaan Bogasari di ranah bisnis terigu jelas memberi andil besar bagi kerajaan bisnis Salim Group. Franciscus Welirang, Wakil Direktur Utama Indofood, pernah mengungkapkan, pendapatan Bogasari mampu menyumbang bagian terbesar (33%) bagi pemasukan PT Indofood Sukses Makmur (induk perusahaan Bogasari). Indofood sendiri adalah angsa emas bagi Grup Salim di Indonesia.
Belakangan, setelah tak lagi mengandalkan Bulog sebagai distributor terigu, Bogasari cekatan mendekati kalangan usaha kecil dan menengah (UKM). Hingga pertengahan tahun 2007 ini, Bogasari sudah mengelola sedikitnya 28.252 UKM di seluruh daerah di Indonesia yang bergerak di bidang produksi makanan berbahan dasar terigu.
Hingga akhir tahun ini, manajemen Bogasari menargetkan jumlah UKM yang akan dibina mencapai 30.000 unit. Uluan D. Manurung, Small Medium Enterprise Manager PT Indofood Sukses Makmur Divisi Bogasari, menegaskan, UKM yang bergerak dalam produksi makanan lazimnya akan lebih kuat bertahan di tengah derasnya produk asing yang masuk.
Natsir Mansyur, Ketua Asosiasi Pengusaha Gula dan Terigu Indonesia, mengakui, pelahap terigu terbesar memang sektor UKM. Natsir mencatat, sekitar 40% pengguna terigu adalah produsen mi, 30% produsen roti dan biskuit, sisanya industri makanan lainnya.
Kendati jaringan pemasaran terigu Bogasari telah menggurita, bukan berarti peluang produsen terigu lainnya sudah tertutup. Sebab, konsumsi masyarakat di sini akan terigu masih terbilang rendah.
Ariyawan Prabawa, Vice President Commercial PT Indofood Sukses Makmur, menjelaskan, dibandingkan dengan Malaysia, konsumsi terigu masyarakat Indonesia masih separuhnya. Di Indonesia, lanjut Ariyawan, konsumsi terigu per kapita per tahun hanya sekitar 14-15 kilogram, sementara di Malaysia 30-40 kilogram. Itu artinya, peluang pengembangan pasar memang masih terbuka lebar. Tapi, tentu saja tak ada perusahaan lain yang lebih punya peluang menangkap potensi itu, kecuali Bogasari sendiri.
Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini
|
|
 |
|
 |
Edisi 09 - 10 Tahun VI 31 Desember - 6 Januari 2007 |
 |
|
 |
|