|
|
 |
 |
|
 |
|
|
Jalan Bakal Semakin Terjal
|
| Kun Wahyu Winasis, Syarif Hidayat, dan Mega Julianti S |
| |
BAGI seorang pengusaha, memiliki bank jelas punya kebanggaan tersendiri. Selain berurusan dengan duit besar, bank adalah simbol kepercayaan masyarakat. Tapi itu dulu. Kini paradigma tersebut sudah mulai berubah. Lihat saja, perilaku pemilik bank-bank gurem yang begitu gembira melepaskan asetnya ke investor lain. Contohnya, kelompok bisnis Gudang Garam yang melepaskan sahamnya di Bank Halim Indonesia kepada ICBC dari Cina.
Secara finansial, sebenarnya, tak ada alasan bagi Rachman Halim cs (pemilik Gudang Garam) untuk melepaskan aset berharganya. Toh perusahaan rokok nomor dua terbesar itu masih kaya raya. Apalagi kondisi Bank Halim tidak dalam posisi sekarat. Akhir kuartal I lalu, modal intinya mencapai Rp 100 miliar, alias sudah berada di atas ketentuan yang dipersyaratkan BI senilai Rp 80 miliar.
Lantas kenapa dijual? Menurut seorang bankir, pelepasan itu lebih dilatarbelakangi oleh pemikiran bahwa bisnis bank kini telah berubah. Bank kini bukan lagi satu-satunya lembaga yang bisa memberikan kredit. Banyaknya sumber pembiayaan inilah yang akan membuat peran bank semakin menyempit.
Para pejabat di bank sentral pernah mengatakan, untuk mendapatkan pertumbuhan ekonomi 5%-6% per tahun, dibutuhkan pertambahan kredit sebesar 22%. Apa yang terjadi? Walaupun ekonomi kita tumbuh 6,13% di semester I-2007 (yoy), angka pertumbuhan kredit perbankan masih berada di bawah itu. Dalam periode tersebut, pinjaman yang dialirkan bank hanya tumbuh 20% atau senilai Rp 146 triliun.
Lantas kenapa ekonomi tetap tumbuh tinggi? Ya, itu tadi, lantaran sektor usaha kini memiliki banyak pilihan untuk mendapatkan modal kerja. Misalnya melalui pasar modal. Menurut Fuad Rahmany, Ketua Bapepam-LK, selama paruh pertama tahun ini, lembaganya sudah mengeluarkan 52 surat pernyataan efektif atas pendaftaran emisi (non-reksadana). Nilainya sekitar Rp 43,9 triliun. Jadi sebenarnya, jika digabungkan dengan kredit perbankan dalam kurun Januari-Juni 2007, daya serap sektor riil kita sudah cukup besar.
Mulai beralihnya sumber pembiayaan ke pasar modal, kata Cyrrilus Harinowo, ekonom sekaligus komisaris independen Bank BCA, sejatinya sudah berlangsung sejak tahun lalu. Ketika itu jumlah kredit yang disalurkan perbankan hanya Rp 98 triliun. Sementara dana yang berhasil diserap para emiten mencapai Rp 50 triliun. Jika kedua sumber pendanaan tadi digabungkan, maka pasokan dana ke sektor usaha mencapai Rp 148 miliar, jauh lebih besar ketimbang ekspansi kredit tahun 2005 yang hanya Rp 135 triliun.
Menurut Cyrrilus, cara berpikir para pengusaha sudah berubah. Untuk mengembangkan usahanya, mereka lebih memilih menggunakan modal sendiri. Itu sebabnya, bank tidak bisa seagresif dulu dalam menjalankan fungsi intermediasinya.
Tony Prasetyantono, ekonom BNI, mengatakan, idealnya kegiatan usaha perbankan lebih banyak disokong oleh fee based income. Jika pendapatan fee transaksi kian membesar, maka perbankan tak harus lagi bergantung pada selisih bunga pinjaman dan simpanan. Kondisi ini akan mendorong bank memangkas bunga kreditnya, sehingga mereka bisa bersaing dengan pasar modal atau bank asing.
Seorang bankir mengatakan, untuk bisa bertahan perbankan harus kreatif dalam menjalankan bisnisnya. Produk-produk treasury yang kini tak terlalu banyak digarap, seharusnya mulai dikembangkan. Menurut si bankir, pendapatan dari bisnis treasury ini sangat menjanjikan. Perbankan di Indonesia harus mulai berani masuk ke area investment bank (bank investasi).
Sekadar mengingatkan, bank investasi berperan membantu perusahaan (termasuk BUMN) dalam menggalang perolehan dana dengan cara menerbitkan atau menjual efek ke pasar modal. Bank investasi ini juga berperan sebagai konsultan sekaligus pialang dalam mewakili nasabahnya melakukan transaksi. Nah, untuk saat ini, peran seperti itu masih lebih didominasi oleh bank-bank asing.
BANK INTERNASIONAL, SEBUAH CITA-CITA
Cyrillus mengatakan, industri perbankan kita sesungguhnya memiliki prospek cerah. Secara fundamental, kondisinya kini sudah jauh lebih baik ketimbang sebelum krisis. Dari sisi permodalan, misalnya. Hingga akhir Juni kemarin, rasio kecukupan modal (CAR) perbankan kita rata-rata 21% alias jauh di atas ketentuan Basel II yang hanya 12%.
Dalam konteks Arsitektur Perbankan Indonesia (API), kerja keras yang dilakukan Bank Indonesia sejatinya mulai terlihat. Langkah merger yang akan dilakukan sejumlah bank—seperti Bank Haga dengan Hagakita dan Bank Multicor dengan Bank Windu Kencana—menjadi salah buktinya. Menurut Siti Chalimah Fadjrijah, Deputi Gubernur BI, jika API berjalan mulus, kelak hanya akan ada 60-70 bank yang beroperasi di Indonesia.
Seorang bankir menuturkan, ide BI membuat API sesungguhnya amat baik. Sayang, dalam implementasinya diterjemahkan berbeda oleh pemilik bank. Penjualan bank-bank kecil kepada investor asing menjadi salah satu buktinya. Gara-gara pelepasan aset itu, kini porsi kepemilikan asing di perbankan diperkirakan sudah lebih dari 50%.
Dalam proyeksi Cyrillus, beberapa bank papan atas seperti Mandiri, BCA, dan BNI berpotensi menjadi bank berskala internasional. Hanya saja itu belum akan terjadi dalam jangka pendek. Artinya, target API yang ingin membentuk dua-tiga bank internasional tahun 2010, kemungkinan masih sulit tercapai. Pasalnya, modal bank-bank tadi masih jauh di bawah ketentuan yang dipersyaratkan BI sebesar Rp 50 triliun. Kecuali jika bank-bank tersebut membesar secara an-organik. Misalnya dengan melakukan merger atau akuisisi.
Bagi bank pemerintah, opsi merger sejatinya cukup ideal untuk melahirkan bank berskala internasional. Hanya saja, guna menggabungkan bank-bank pelat BUMN juga bukan perkara gampang. Selain tidak populer—karena akan melahirkan efisiensi dan pengurangan karyawan—mengawinkan bank dengan karakteristik berbeda amat sulit dilakukan. Makanya, pembentukan holding bank BUMN dinilai menjadi opsi yang paling tepat untuk saat ini.
Lantas bank mana yang akan jadi holding? Ini yang belum jelas. Bank Mandiri, kata Bambang Setiawan, memang tengah bersiap menjadi bank internasional pada 2010. Caranya dengan memperkuat kompetensi bisnis internasionalnya. Seperti meningkatkan kapasitas layanan transaksi ekspor impor, letter of credit (L/C), dan memperbanyak cabang di luar negeri. ”Dalam waktu dekat, kami akan membuka cabang di Shanghai yang sebelumnya hanya representative office,” kata Direktur Bank Mandiri itu. Perseroan juga sedang mempertimbangkan untuk membuka kantor cabang di New York dan Dubai.
Hanya saja, kata Cyrrilus, untuk menjadi bank internasional tidak cukup dengan memiliki cabang di Tokyo atau New York. Sebab, pada kenyataannya kantor cabang itu lebih banyak menjadi guide pada saat kunjungan direksi. ”Tadinya BCA punya cabang di New York dan Fujian- Cina. Tapi akhirnya cabang-cabang tadi kita tutup. Kesempatan bisnis di Indonesia jauh lebih besar dibanding dengan di luar,” ungkapnya.
Jadi, akan lebih baik, jika bank-bank yang berambisi go international itu membuka pasarnya di kawasan Asia. Sebab, dengan meningkatnya transaksi yang melibatkan pengusaha Indonesia di kawasan ini, kehadiran bank berbendera merah putih dengan skala internasional amat dibutuhkan.
Berikan Komentar untuk artikel ini
|
|
 |
|
 |
Edisi 09 - 10 Tahun VI 31 Desember - 6 Januari 2007 |
 |
|
 |
|