Jumat, 3 September 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
 
 

From Russia with Money

Agus S. Riyanto, Julianto, dan Restu Wijaya
 
RUSIA adalah Rusia. Negeri Beruang Merah itu tetap disegani kendati kondisi sosial ekonominya tak terlalu membanggakan. Luas negeri itu 17 juta kilometer persegi, terbesar di dunia—nyaris dua kali luas Cina. Penduduknya 142 juta orang—dan seperempat dari angkatan kerjanya menganggur. Kesenjangan kaya-miskin di sana amat kentara. Rusia memproduksi 9,5 juta barel minyak per hari dan punya cadangan devisa US$ 200 miliar. Minggu-minggu ini kita merasa begitu dekat dengan Rusia.
Dua pekan silam, para balerina Moscow, pemain biola Pavel Sedov, dan pianis Vitaliy Yunitskiy menggelar Gala Concert Orchestra & Ballet di Jakarta. Konser itu bertajuk ”From Russia to Indonesia with Love”. Agak-agak mirip judul film James Bond. Di hari-hari itu pula, kantor berita Rusia, RIA, melansir kabar penjualan enam pesawat Sukhoi kepada Indonesia senilai US$ 300 (sekitar Rp 2,85 triliun). TNI AU sendiri sudah punya empat Sukhoi. Pekan ini, kita kedatangan orang nomor satu Rusia, Presiden Vladimir Putin.
Vladimir Putin akan datang 6 September ini untuk membicarakan pelbagai kerja sama bilateral, terutama di bidang keamanan internasional dan ekonomi. Kedatangan tersebut merupakan kunjungan balasan setelah sebelumnya Presiden Megawati Sukarnoputri (April 2004) dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (akhir 2006) melawat ke Rusia.

 Artikel Lain
Akhir Tragis Anak Singkawang
Bisnis Senjata demi Kayu
Lippo Merambah Ranah Maya
Datangnya Lokomotif Bisnis Rusia
From Russia with Money
Jalan Bakal Semakin Terjal
Menjadi Perkasa di Pasar Dunia
Memang Baru Bisa Mimpi
Cendera Mata yang Terus Bersinar
Gesekan di Pabrik Terigu
Tentu saja kedatangan Putin disambut antusias oleh pengusaha Indonesia. Maklum, ia memboyong sekitar 50 pengusaha Rusia (Didie W. Soewondho, Ketua Kadin Indonesia Komite Rusia, menyebutkan, 100 orang pengusaha yang akan datang bersama Putin). Sebuah forum bisnis akan digelar. Mereka siap menebar rubel di sektor pertambangan, energi, alat berat, dan perikanan. Selain itu, pasar Rusia dan 12 negara pecahan Uni Soviet yang bernaung dalam Commonwealth of Independent States (CIS), dengan 200 juta penduduk, juga mereka tawarkan, dan itu jelas potensial.
Dalam kunjungan sehari tersebut, sedikitnya ada tiga kontrak yang bakal diteken Putin dan Yudhoyono. Kontrak itu termasuk perjanjian antara PT Aneka Tambang (Antam) dengan United Company Rusal. Darma Ambiar, Direktur Pengembangan Antam, menegaskan, Rusal dan Antam akan membangun pabrik pengolahan (smelter) aluminium di Kalimantan Barat. Darma juga menuturkan, penjajakan dengan Rusal sudah dilakukan sejak setahun lalu. Saat ini, draf perjanjian kontraknya sudah disiapkan oleh kedua perusahaan itu agar bisa ditandatangani para presiden.
”Selain Rusal, ada beberapa perusahaan Rusia yang ingin melakukan kerja sama dengan kami,” ujar Darma. Namun, setelah manajemen Antam melihat berbagai hal, termasuk modal, teknologi, jaringan, dan sebagainya, Antam akhirnya memilih Rusal. Saat ini Rusal menguasai 16% pasar aluminium dunia.
Rencananya pabrik yang akan dibangun itu mampu menghasilkan satu juta ton aluminium per tahun. Pasokan itu untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Nilai investasinya sendiri sebesar US$ 1 miliar. ”Rusal menyediakan teknologinya, kami yang memasok bahan baku,” kata Darma.
Tersebut pula Chelyabinsk Tractor Plant yang berniat menggandeng PT Minang Jordanindo—pemilik PT Kutai Timur Energi yang punya 5% saham di PT Kaltim Prima Coal. ”Pengusaha Rusia memang ingin menjalin kerja sama dengan perusahaan kecil di Indonesia. Mereka enggan berhubungan dengan perusahaan besar, karena malas didikte,” kata Didie W. Soewondho.
Kelompok usaha lainnya adalah ADD Group—yang menawarkan proyek energi dengan kapasitas hingga 270 MW. Ada juga Altimo yang saat ini sedang mengincar bisnis seluler di Indonesia. Altimo merupakan anak perusahaan Alfa Group yang bergerak di bidang telekomunikasi.

MENGINCAR MIGAS, DIBILANG TAK PENGALAMAN
Investasi lainnya yang diincar Rusia adalah minyak dan gas. Di sektor ini, ada Sintez Group, Lukoil Overseas, dan Tyumen Oil Company-BP (TNK-BP). Sintez adalah perusahaan minyak milik tycoon Leonid Lebedev, pria kelahiran tahun 1956. Lebedev termasuk dalam deretan orang kaya Rusia. Majalah Finansmag Russia mencatat kekayaan pribadinya tahun ini mencapai US$ 115 juta (sekitar Rp 1 triliun).
Lukoil dimiliki Vagit ”Si Jenderal” Alekperov. Perusahaan ini sangat disegani. Lukoil memiliki kontrak eksplorasi migas di banyak negara. Mereka juga berbisnis kilang dan bahkan pom bensin. Bisnis Lukoil terbentang di empat benua, dari hulu hingga ke hilir. Di Amerika, pom bensin milik Lukoil mencapai 1.300 unit.
Vagit Alekperov disebut si Jenderal karena pembawaannya yang tegas dan galak. Majalah Forbes menempatkannya di urutan ke-47 orang terkaya dunia dengan aset US$ 12,4 miliar. Tapi, Finansmag mencatat kekayaan Vagit ”hanya” US$ 4,17 miliar.
Lukoil dan Sintez menjalin kerja sama dengan PT Pertamina EP untuk melakukan eksplorasi ladang minyak di beberapa tempat di Indonesia Timur. Modal yang akan dikucurkan kedua perusahaan itu sekitar US$ 4 miliar. Bahkan nota kesepahaman kerja sama antara Pertamina dan Lukoil telah ditandatangani di Moscow, April lalu.
Kalau Lukoil dan Sintez sudah mulai menjalin mitra di Indonesia, TNK-BP baru sampai tahap rencana. Para petinggi Alfa Group, induk TNK-BP, ikut dalam rombongan Putin ke Indonesia untuk menjajaki peluang investasi di bidang migas. Alfa adalah milik Mikhail Fridman, yang termasuk dalam daftar lima orang terkaya di Rusia.
Sektor migas memang menjadi incaran Rusia, selain nikel dan komoditi pertambangan lainnya. Menurut Suryo Guritno, pengusaha yang sering membawa peralatan militer Rusia ke Indonesia, saat ini Rusia gencar mencari tambang di negara-negara lain. Wilayah yang dimasuki petambang Rusia adalah Amerika Selatan dan Afrika. ”Kalau Rusia perang dingin lagi dengan Amerika, mereka sudah memiliki cadangan bahan bakar dan bahan industri selama 25 tahun,” ucap Suryo.
Di Asia, Rusia bertarung memperebutkan sumber migas sejak 1990-an. Menurut studi Zbigniew Brzezinski (mantan penasihat Presiden Jimmy Carter), pada 1997, Rusia dan Cina merupakan ancaman Amerika di kawasan Asia Tengah. Studi itu merekomendasikan Washington untuk mengelola dan memanipulasi beberapa negara kecil dekat Rusia. Ukraina, Azerbaijan, Kazakhstan, dan Iran dijadikan sasaran. Negara-negara itu diupayakan harus menjadi kekuatan pro-Amerika dan dapat membendung Rusia atau Cina dalam menguasai sumber migas di Asia Tengah.
Konstelasi itu kini belum banyak berubah. Rusia dan Cina tetap merupakan rival kuat bagi negara besar mana pun saat ini. Jika Rusia sekarang tengah mengembangkan rubelnya ke mana-mana, semestinya Indonesia bisa kecipratan. Toh, Indonesia juga sedang menunggu investasi dari mana pun.
Hanya saja, Sofjan Wanandi, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), berharap agar pengusaha kita berhati-hati. Sebab, pengusaha Rusia belum termasuk pemain internasional. Sofjan mengaku cemas. Biasanya, ujar Sofjan, selalu terjadi perselisihan antara pengusaha Rusia dengan mitra lokalnya. ”Mereka belum terbiasa dalam bisnis internasional,” kata Sofjan.
Hati-hati memang perlu. Tapi, kata siapa orang Rusia belum terbiasa main di level dunia? Faktanya, jejaring bisnis pengusaha Rusia di kancah internasional berkali-kali lipat lebih hebat ketimbang pengusaha kita. Delapan orang Rusia masuk dalam daftar 50 orang terkaya dunia tahun ini versi Forbes—terbanyak kedua setelah Amerika. Masa segitu dibilang tak berpengalaman? Ada apa, sih? 


Berikan Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id
  Copyright © 2002-2006 Majalahtrust.com. All Rights Reserved. Design by Proweb Indonesia