|
|
 |
 |
|
 |
|
|
Datangnya Lokomotif Bisnis Rusia
|
| Agus S. Riyanto |
| |
KONSTELASI Jakarta-Moscow sempat surut. Padahal, hubungan diplomatik antara Indonesia dan Uni Soviet sudah terjalin sejak 3 Februari 1950. Redupnya hubungan itu terus berlanjut hingga Uni Soviet bubar pada Desember 2001.
Uni Soviet boleh bubar. Tapi, di sana sudah berdiri kembali Rusia, sebuah negara besar yang amat disegani dunia. Megawati Sukarnoputri, saat menjadi Presiden RI, telah menghangatkan lagi jalinan diplomatik Jakarta-Moscow lewat kunjungan resmi pada April 2003. Di awal Desember 2006, kunjungan resmi juga dilakukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Portal Jakarta-Moscow sekarang sudah terbuka.
Bahkan, kunjungan tingkat tinggi tadi itu pun berbalas. Presiden Vladimir Putin bakal melawat ke Jakarta pada 6 September mendatang. Putin datang dengan membawa 50 pengusaha besar Rusia. Salah satunya adalah Mikhail Fridman, pemilik Alfa Group.
Fridman merupakan nama penting. Ia adalah orang terkaya ke-50 di dunia. Ia juga sepertinya ingin mengenal betul Indonesia. Sebelumnya, Fridman turut dalam rombongan pengusaha Rusia yang bertemu Presiden Yudhoyono, dalam sebuah forum bisnis di Negeri Beruang Merah itu. Alfa Group sendiri sudah tercium jejaknya di Indonesia sejak setahun lalu. Alfa Group masuk ke mari lewat bendera Altimo—salah satu anak usahanya.
Altimo datang dengan rencana menanamkan modal senilai US$ 2 miliar (sekitar Rp 18 triliun). Kirill Babaev, Vice President Altimo, mengaku tengah mempelajari cara berinvestasi di industri telekomunikasi, khususnya seluler, di Indonesia.
Suharto—Regional Director Strategic & Business Development for Central & South East Asia Alfa Group, sekaligus Head of Representative Alfa Group di Indonesia—menambahkan, spektrum frekuensi untuk seluler di negeri ini memang sudah habis. Makanya, Altimo akan mencari perusahaan seluler lain untuk dibeli. Apalagi, Altimo bukanlah operator telekomunikasi melainkan strategic investment company.
Namun, kedatangan Altimo seperti agak mencemaskan mereka yang merasa kepentingannya bakal terganggu. Apalagi, di sejumlah negara, Altimo dikenal sangat agresif dalam pengembangan network. Tak ayal, nilai perusahaan ini pun terus melesat bagaikan roket. Beberapa LSM di Jakarta lalu menuduh Altimo ingin menguasai Indosat dengan cara membeli dari Singapore Technologies Telemedia Pte. Ltd. (STT).
Saat ini Indosat memang dikuasai STT lewat dua vehicle-nya: Indonesia Communications Limited (Mauritius) dan Indonesia Communications Pte. Ltd. (Singapura). STT menggenggam 40,81% saham Indosat. Sisanya, sebanyak 14,29% dikuasai Pemerintah RI dan 44,90% dimiliki publik.
Tudingan Altimo ingin menguasai Indosat membuat STT gerah. Anak usaha Temasek Singapura itu buru-buru mengatakan bahwa Indosat tak akan dijual. ”Kami keberatan karena Indosat memiliki potensi pertumbuhan yang tinggi,” kata Senior VP Strategic Relations & Corporate Communication STT, Kuan Kwee Jee, Juni lalu, di Jakarta.
Kuan Kwee Jee juga menegaskan, STT ingin berinvestasi jangka panjang di industri telekomunikasi Indonesia. Sebab, negeri kita ini merupakan pasar yang potensial dengan angka penetrasi telekomunikasi yang masih rendah. Jadi, tidak ada alasan bagi STT untuk melepas saham Indosat.
Pasar seluler di Indonesia memang renyah. Hingga awal 2007, tercatat pemakai seluler di Indonesia hanya 61,8 juta orang atau 27% dari total jumlah penduduk. Jelas, pasar di sini masih terbuka lebar.
Pemerintah Indonesia juga menyatakan tak akan melepas sahamnya yang 14,29% di Indosat. Tapi, pemerintah juga tak akan menghalangi atau memaksa STT menjual sahamnya ke Altimo. ”Altimo adalah perusahaan besar dan investor yang tepat,” ujar Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil di Istana Negara, Jakarta, pekan lalu. Pertanyaannya, apakah mereka mau membeli saham STT atau tidak? ”Kami tidak bisa memengaruhinya. Tergantung STT. Mereka mau melepaskannya atau tidak?” Sofyan balik bertanya.
AKAN MERAMBAH MIGAS DAN BANK
Lalu, seberapa seriuskah Altimo? Ternyata, perusahaan itu juga tak terlalu ngoyo untuk memiliki Indosat. ”Altimo memang akan membeli operator seluler di Indonesia. Namun, belum tentu Indosat,” ujar Suharto. Kalau STT mau melepas sahamnya, Altimo menegaskan punya hak untuk membeli atau tidak membeli. ”Tak perlu ada yang khawatir atas keberadaan kami. Semua pasti kami lakukan sesuai norma dan etika bisnis yang berlaku,” kata Suharto.
Selain melebarkan usaha ke Indonesia, Altimo juga sudah memperluas sinyal telekomunikasinya ke Kamboja. Awal Agustus ini perusahaan itu mengumumkan telah mengambil alih 90% saham Sotelco. Operator seluler itu merupakan pemegang izin seluruh jasa telekomunikasi seluler, meliputi dual band GSM 900/ 1800, internet, dan VoIP. Sotelco juga memegang frekuensi jaringan 900 dan 1.800 MHz, serta memiliki izin penyediaan jasa WiMax di Kamboja.
Sebelumnya, Altimo telah mengambil alih 13,2% saham Turkcel di Turki, operator seluler yang memiliki 36 juta pelanggan dan menguasai 63% pangsa pasar setempat. Altimo juga menguasai telekomunikasi Ukraina dengan menguasai 43,5% saham Kyivstar.
Di Rusia sendiri, Altimo memiliki 29,3% saham Golden Telecom, operator telepon tetap terbesar di Rusia, plus 35,8% saham VimpelCom, operator seluler kedua terbesar di sana. Altimo juga mengoleksi 25,1% saham Megafon, operator seluler ketiga terbesar di Rusia.
Yang jelas, kalau Altimo sukses menanamkan modalnya di Indonesia, Alfa Group berniat mengalirkan lebih banyak dananya ke sini. ”Alfa Group sedang menjajaki untuk berinvestasi di bidang strategis lain, seperti pertambangan dan perbankan,” tutur Suharto. Namun, Suharto belum bersedia menjabarkan rencana investasi itu.
Alfa sendiri memang salah satu gergasi bisnis paling penting di Rusia. Jejaring bisnis Mikhail Fridman ini lahir dan besar dari perestroika—restrukturisasi ekonomi ala Mikhail Gorbachev, Sekretaris Jenderal Partai Komunis Uni Soviet medio 1980-an—yang membuka peluang swasta dalam perekonomian Soviet. Sejak 1988, Fridman mendirikan AlphaPhoto, ALFA/EKO (trading company), dan AlfaKapital (investment company). Dari situlah, Fridman lalu masuk dalam deretan orang kaya di Rusia dan dunia.
Dari tiga perusahaannya itu, Fridman lalu membentuk Alfa Group pada 1989, barengan teman kuliahnya di Moscow Institute of Steel and Alloys: German Khan dan Alexei Kuzmichov—yang juga termasuk orang-orang terkaya Rusia.
Fridman lantas mengakuisisi Alfa Bank. Sekarang, bank ini menjadi mesin pembiakan uang Fridman dan mengembangkan bisnisnya ke segala arah. Mulai dari tambang, telekomunikasi, hingga ritel. Alfa Group bergerak seperti lokomotif: Tak tertahankan.
Di jaringan ritel, Alfa Group memiliki Pyaterochka Holding N.V. dan Perekrestok Group of Companies, yang semua lini bisnisnya terbesar di Rusia. Di sektor tambang, ada Tyumen Oil Company. Sebagian saham perusahaan ini dijual kepada Beyond Petroleum dan beralih menjadi TNK-BP. Saat ini TNK-BP juga beroperasi di negara-negara pecahan Soviet di Asia Tengah dan Eropa.
Kini Alfa Group telah memiliki lebih dari 15 perusahaan dan tersebar di pelosok dunia. Gergasi itu akan masuk ke Indonesia. Bahkan, Alfa Group bisa menjadi lokomotif bagi pengusaha Rusia lainnya untuk berinvestasi di negeri ini. Kenapa tidak?
Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini
|
|
 |
|
 |
Edisi 09 - 10 Tahun VI 31 Desember - 6 Januari 2007 |
 |
|
 |
|