Jumat, 3 September 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
 
 

Bisnis Senjata demi Kayu

A. Reza Rohadian dan Riza Sofyat
 
GRUP Djajanti ”berkibar” lagi. Kok bisa? Bukankah perusahaan yang menggenggam 20 hak pengusahaan hutan (HPH) seluas 2,8 juta hektare itu sudah kolaps? Betul, perusahaan yang didirikan oleh Burhan Uray setengah abad silam itu kini tak ubahnya mayat hidup. Utangnya di Bank Mandiri mencapai Rp 850 miliar—belum termasuk bunga 8,5% per tahun. Belum lagi tunggakan pajak dua anak perusahaannya di bidang perikanan yang mencapai Rp 382,9 miliar. Tapi, begitulah, di dunia internasional nama Djajanti saat ini sedang menjadi buah bibir.
Menjulangnya nama Djajanti tak lepas dari proses hukum terhadap mantan penguasa Liberia, Charles Ghankay Taylor di Mahkamah Internasional, Den Haag, Belanda. Mantan diktator yang mulai diadili 20 Agustus silam ini menghadapi 11 dakwaan. Taylor yang terpilih sebagai presiden tahun 1997, dituduh melakukan kejahatan dalam perang (war crimes) dan kejahatan terhadap kemanusiaan (crimes against humanity).
Sebagai penjahat perang nomor tiga yang paling dicari, Taylor dituding membentuk dan mendukung milisi-milisi pemberontak di Sierra Leone, termasuk pembunuhan politik, perkosaan mahasiswa perempuan, dan penganiayaan. Sedikitnya, pada masa ia berkuasa (hingga 2003) 300.000 orang kehilangan nyawa. Sepak terjangnya berakhir setelah tentara Inggris melakukan intervensi ke Liberia.

 Artikel Lain
Islam Juga Bisa Kaya
KPPU Dilawan, KPPU Melaju
Kemelut di Injury Time
Akhir Tragis Anak Singkawang
Bisnis Senjata demi Kayu
Lippo Merambah Ranah Maya
Datangnya Lokomotif Bisnis Rusia
From Russia with Money
Jalan Bakal Semakin Terjal
Menjadi Perkasa di Pasar Dunia
Taylor yang menimbulkan kekacauan di sepanjang Afrika Barat pada tahun 1990-an, sesungguhnya tak perlu diadili di Mahkamah Internasional. Namun, lantaran kemampuannya memobilisasi kekuatan bersenjata yang menggunakan anak-anak di bawah umur, PBB akhirnya membawa pria kelahiran Arthington 59 tahun lampau itu ke Belanda. ”Tak ada yang meragukan kemampuan Taylor dalam mengacaukan kawasan itu (Afrika Barat),” ujar seorang pengacara asal Inggris.
Selain doyan perang, Taylor dikenal pula sebagai orang yang piawai menghasilkan uang. Tak heran jika ia memiliki julukan superglue lantaran uang seolah tak pernah lepas dari genggamannya. Maklumlah, ia memang dekat dengan kalangan pengusaha.
Menurut laporan yang dilansir Amnesty Internasional dan TransArms (Research Center for the Logistics of Arms Transfers) pada 10 Mei 2006, kejahatan Taylor didukung oleh Oriental Timber Company (OTC), konglomerasi terbesar Liberia. Presiden perusahaan itu, Guus van Kouwenhoven yang berkewarganegaraan Belanda telah ditangkap di Tanah Airnya sendiri pada 18 Maret 2005. Ia dituding telah menggunakan perusahaan kayu tersebut untuk memasok senjata ke Liberia. Tindakan tersebut melanggar embargo perdagangan senjata api oleh PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) terhadap negara tersebut.
Mengutip laporan Dewan Keamanan PBB (tanggal 26 Oktober 2001), Amnesty International dan TransArms menyatakan OTC memiliki perusahaan induk yang berbasis di Singapura. Borneo Jaya Pte Ltd—demikian nama perusahaan induk itu—menurut panel ahli Dewan Keamanan PBB mengirimkan uang sebesar US$ 500.000 kepada perusahaan trafficking senjata San Air untuk pengiriman senjata. Pembayaran melalui Chase Manhattan Bank, New York, tersebut dilakukan atas nama Dato Seri Bong Uray pada 26 Agustus 1999. Sekadar informasi, Dato Seri merupakan gelar kehormatan Malaysia. Pemegang saham mayoritas Borneo Jaya adalah Quick Earnings Finance yang teregister di British Virgin Islands.
Menurut laporan itu pula, kapal-kapal yang terkait OTC menurunkan peralatan militer di Liberia sambil menunggu muatan kayu. Pekerjaan bongkar muat umumnya dilakukan malam hari oleh pasukan tentara dan personalia OTC sendiri, bukan oleh buruh pelabuhan biasa. Kapal-kapal carteran OTC juga dilaporkan mengirim senjata ke pasukan-pasukan Presiden Charles Taylor.
Selain itu, OTC menurut Dewan Keamanan PBB mempunyai kaitan dengan Global Star Holdings (perusahaan yang berbasis di Hong Kong). Korporasi itu merupakan bagian dari Djan Djajanti. Berkantor di Singapura dan Hong Kong, Djan Djajanti memiliki investasi besar di Indonesia dan Cina. Djan Djajanti yang didirikan oleh pengusaha Burhan Uray bertanggung jawab atas 70% modal investasi (senilai US$ 110 juta) konsesi di Liberia tersebut. Selebihnya dimiliki oleh Guus Kouwenhoven. Bisnis itu dikelola oleh Joseph Wong Kiia Tai, salah seorang anak pimpinan Djan Djajanti.
Harian South China Morning Post mengungkapkan, Global Star pada tahun 2001-2003 mengirimkan senapan AK-47, senapan mesin, pelontar granat, dan Howitzer ke Liberia atas pesanan Van Kouwenhoven.

75% KAYU DJAJANTI DIIMPOR DARI LIBERIA?
Dalam sebuah kesaksian di hadapan Kongres Amerika Serikat, pada 28 Juli 2005, Presiden Environmental Investigation Agency, Allan Thornton, menyatakan Presiden Liberia ketika itu Charles Taylor, menggunakan sumber daya dari kayu bagi aksi militernya dan untuk mendanai tentara bayaran di Sierra Leone dan Pantai Gading.
Di Singapura, Borneo Jaya mempunyai anak perusahaan bernama Natura Holdings. Berdasarkan beberapa invoice ekspor, perusahaan itu bertugas menerima pembayaran dari para pembeli kayu OTC. Sayangnya tak mudah untuk mengusut Borneo Jaya lebih jauh. Pelacakan yang dilakukan wartawan harian Business Times (BT) terhadap perwakilan perusahaan itu di Singapura pun menemui jalan buntu. Direktur perusahaan itu, Gary Chan Wei Long, yang dicari di 808, French Road, ternyata tak terdaftar di alamat itu. Ia pun tak menjawab telepon yang berulang kali diajukan oleh BT.
Djajanti sendiri dilaporkan mengimpor kayu dari OTC dan Natura untuk pabrik plywood Djajanti Nusantara di Indonesia. Data yang dilansir oleh departemen statistik Organisasi Pangan Dunia (FAO) serta UN Commodity Trade Statistics Database bahkan menyebutkan pabrik Djajanti Nusantara menerima paling tidak 75% kayu yang diimpor dari Liberia ke Indonesia.
Benarkah? Sungguh tak mudah untuk menjawab pertanyaan itu. Kepada TRUST, seorang kerabat dekat Burhan Uray yang minta namanya tidak dicantumkan, menyatakan Djajanti tidak tahu-menahu hubungan dengan OTC. ”Kami tidak ada urusan dengan perusahaan itu,” ujarnya. Demikian halnya perdagangan senjata dengan Charles Taylor. ”Mana mungkin kami berbisnis senjata, tahu sendiri risikonya sangat tinggi,” sahutnya. 


Berikan Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id
  Copyright © 2002-2006 Majalahtrust.com. All Rights Reserved. Design by Proweb Indonesia