Kamis, 11 Maret 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
 
 

Menjadi Kaya Itu Ibadah

Nurul Kolbi, Bona Ventura, dan Julianto
 
APA hubungan antara agama (keyakinan) dengan tingkat kemajuan ekonomi para penganutnya? Max Weber (1864-1920) mengatakan bahwa relasi antara keduanya itu ada dan saling menopang.
Sosiolog dan ekonom berkebangsaan Jerman ini berargumen: cara beragama dan nilai-nilai agama, jika diamalkan, sangat menentukan derajat kesuksesan orang. Dunia kemudian membaca karya Weber ”Etika Protestan dan Spirit Kapitalisme” (The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism: 1958).
Protestan lahir pada abad pertengahan di Eropa melalui ajaran yang dikembangkan oleh John Calvin dan Martin Luther. Intinya, secara ringkas, keberhasilan kerja seseorang di dunia sangat menentukan posisinya di akhirat. Kalau berhasil masuk surga, jika gagal ya bernasib sebaliknya.

 Artikel Lain
Jalan Masih Sangat Jauh
Kali Ini Temasek Kalah
Bank BUMN Seperti Keong
Menguji Nyali Bankir Pelat Merah
Menjadi Kaya Itu Ibadah
Islam Juga Bisa Kaya
KPPU Dilawan, KPPU Melaju
Kemelut di Injury Time
Akhir Tragis Anak Singkawang
Bisnis Senjata demi Kayu
Adanya etik seperti itu, menurut Weber, membuat para penganut Protestan bekerja keras untuk meraih sukses. Mereka bekerja bukan mencari kekayaan material, tapi untuk mengatasi kecemasan.
Weber juga pernah meneliti agama lain. Ia sempat menyinggung bahwa doktrin Islam tidak mendukung proses akumulasi pertumbuhan ekonomi kapitalisme secara keseluruhan. Sebaliknya, praktik-praktik sufistik dalam Islam pada umumnya cenderung ”melupakan dunia.”
Sebagian orang percaya akan pendapat itu. Namun, Peter L. Bernstein tidak. Dalam bukunya, Power of Gold (2004), ekonom ini terang-terang menegaskan bahwa etos bisnis orang Islam justru amat kuat—lebih kuat dari etika Protestan-nya Weber.
Qodri Azizi, mantan Rektor IAIN Walisongo, juga menegaskan, tak satu ayat pun di Al Quran yang mengajarkan umat hidup miskin. Bahkan nabi adalah seorang pedagang yang sukses. Orang Islam, ujar Qodri, justru harus kaya agar bisa berbagi dengan yang tak beruntung. Menjadi kaya adalah ibadah.
Maka, terasa melegakan ketika sekarang muncul nama-nama pengusaha muslim dalam daftar orang-orang terkaya di dunia. Betul, jumlah mereka yang masuk dalam daftar versi Forbes, misalnya, belum seberapa. Tapi cenderung ada peningkatan jumlah—termasuk jumlah hartanya—dari tahun ke tahun.
Belum lama ini, The Wall Street Journal melansir daftar serupa. Koran itu menempatkan Azim Premji, warga India, sebagai pengusaha muslim terkaya di dunia (lihat TRUST, edisi No. 49/V). Total kekayaannya ditaksir US$ 17 miliar. Di jajaran Forbes, Azim berada di urutan ke-21.
Azim sudah 62 tahun tapi tetap berjiwa progresif. Bisnisnya IT—bisnis yang lebih banyak digeluti orang-orang di bawah 40-an. Bisnis ini adalah inspirasi bagi siapa pun yang ingin maju. Forbes mencatat, enam dari 10 orang terkaya di dunia tahun ini adalah para pemain IT.
Selain itu, Azim yang dikenal pintar itu mau menularkan pengetahuannya kepada banyak orang lewat Azim Premji Foundation. Kesederhanaannya melegenda. Pemilik Wipro Ltd. itu hanya memakai mobil Ford Escort buatan 1995. Orang terkaya ketiga di India itu juga selalu datang pagi ke kantor untuk mendapat tempat parkir.
Azim telah berbuat banyak dan memberi teladan baik. Ia layak menjadi role model pengusaha muslim justru karena ia tak pernah menepuk dadanya sendiri sambil meneriakkan, ”Saya Islam.” 


Berikan Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id
  Copyright © 2002-2006 Majalahtrust.com. All Rights Reserved. Design by ProWeb APDesign