Minggu, 5 Juli 2009 | Berlangganan Majalah TRUST 
 
 

Saling Salip di Jalur Pelat Merah

Kun Wahyu Winasis, Restu Wijaya, Hendra Gunawan, dan Syarif Hidayat
 
SOFYAN Basyir kini bisa menepuk dada. Hanya dalam dua tahun sejak menggantikan Rudjito, BRI dibawanya sebagai bank terbesar nomor tiga di Indonesia. Ini jelas sebuah prestasi besar. Maklum, selama ini mereka selalu berada di bawah bayang-bayang Bank Mandiri dan BNI. Dengan menggeser posisi BNI, Sofyan tentu bakal mendapat kredit poin dari pemegang saham. ”Prestasi itu membuat posisinya makin kokoh di BRI,” kata seorang pejabat di Kementerian BUMN.
Sebagai informasi, sejak September lalu, BRI berhasil menggusur BNI dari posisi tiga bank dengan aset dan dana pihak ketiga (DPK) terbesar di Indonesia. Prestasi ini makin melengkapi dominasi BRI terhadap BNI. Sebelumnya, BRI selalu lebih unggul dalam hal kredit dan laba bersih, namun aset dan DPK-nya selalu di belakang BNI.
Lantas apa yang membuat pamor BRI meningkat? Menurut Sofyan, ada beberapa faktor yang membuat perusahaannya dapat mengungguli BNI. Pertama, keputusan manajemen untuk masuk ke sektor konsumer dinilai tepat. Karena difokuskan untuk pasar Jabodetabek—yang berkantong tebal—produk tersebut memberikan kontribusi signifikan terhadap perkembangan dana masyarakat.

 Artikel Lain
Hati-hati meski Ada Prospek
Di Bawah Ancaman Minyak
Optimisme di Tahun Abu-abu
Menilik Rapor Bankir BUMN
Saling Salip di Jalur Pelat Merah
Meneropong Nasib Bumi dari Pulau Bali
Perlawanan dari Negeri Singa
Jalan Masih Sangat Jauh
Kali Ini Temasek Kalah
Bank BUMN Seperti Keong
Faktor kedua terkait penunjukan BRI sebagai Treasury Single Account (TSA) oleh pemerintah. Kontraknya berlaku selama tiga tahun hingga Oktober 2010. Sebagai TSA, maka setiap belanja dan pengeluaran negara harus melalui BRI. Sofyan menuturkan, aliran dana pemerintah tersebut, memang, tidak mengendap di rekening BRI. Namun, dampaknya tetap terasa bagi aktivitas bisnis perseroan. Saat ini dari total 172 Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) di Indonesia, 168 di antaranya menggunakan jasa BRI. Selama dua bulan terakhir, aliran dana yang masuk melalui BRI mencapai Rp 20 triliun.
Ketiga, terkait dengan strategi promosi ”Untung Beliung” beberapa waktu lalu. Sofyan bilang, melalui program undian tabungan berhadiah wah itu, perusahaannya bisa menjaring 500 ribu account baru. Dana masyarakat yang bisa ditarik mencapai sekitar Rp 4 triliun. Itu sebabnya, awal tahun depan program ini akan dirilis ulang.
Faktor keempat, penyaluran kredit BRI juga semakin lancar. Beberapa perusahaan perkebunan yang sudah mendapat plafon kredit, kata dia, belakangan ini mulai mencairkan dananya. ”Itu yang membuat kinerja kami makin bagus,” katanya.
Perkembangan yang diperlihatkan BRI tersebut tetap saja menimbulkan kekhawatiran. Seorang bankir mengatakan, prestasi tersebut, memang, patut mendapat apresiasi. Dia pun mengingatkan, risiko bisnis perseroan kini semakin membesar. Sebab, melambungnya kinerja BRI tersebut lebih banyak didorong oleh produk konsumen dan korporasi. Contohnya, proyek infrastruktur seperti jalan tol. Bahkan, kata dia, BRI berani memberikan pembiayaan ke proyek monorel yang kini mangkrak.
Keberanian BRI membiayai proyek perkebunan juga dinilai berisiko. Sampai akhir tahun, plafon kredit perkebunan diperkirakan mencapai 60%-70% dari total kredit korporasi senilai Rp 18,8 triliun. Jika kredit korporasi turun, kinerja BRI akan ikut down. Lain halnya jika mereka tetap bermain di UKM yang relatif stabil. ”Manajemen harus hati-hati dengan strategi bisnisnya. Itu bisa menciptakan bom waktu,” ujarnya.
Sofyan agaknya sudah kadung percaya diri. Dia berniat untuk terus mengembangkan strategi bisnisnya. Terutama meningkatkan penetrasi bisnis konsumen guna menjaring nasabah-nasabah kakap. Cuma, dia tak akan meninggalkan bisnis utama BRI. ”Kami akan tetap mempertahankan porsi UKM tetap dominan. Konsumen maksimal hanya 20%,” tuturnya.

ISU PERGANTIAN DIREKSI
Jika Sofyan sedang di atas angin, lain halnya dengan Sigit Pramono. Sodokan BRI mulai menggoyang eksistensi orang nomor satu di BNI tersebut. Apalagi, sejak tahun lalu, Gatot Suwondo, Wadirut BNI, sudah digadang-gadang untuk menggantikan eks Dirut BII itu.
Sumber TRUST mengatakan, di BNI sekarang ini seolah ada dua nakhoda. Keduanya saling bersaing dan sama-sama memiliki cantolan politik yang kuat. Kata dia, andai kata terjadi pergantian direksi, maka pelaksanaannya tidak akan dilakukan mendadak. ”Kemungkinan masih menunggu masa jabatan Sigit habis tahun depan,” ujarnya.
Kementerian BUMN pun kelihatan bakal memilih opsi itu. Parikesit Soeprapto, Deputi Menteri BUMN Bidang Jasa Perbankan, mengatakan, pemerintah hanya akan mengisi posisi Tjahjana Tjakrawinata yang mengundurkan diri. Jadi, tidak ada agenda untuk melengserkan Sigit Pramono. ”Kami hanya melakukan fit and proper test untuk mengisi satu jabatan itu,” ungkapnya.
Mungkin, itu sebabnya Sigit tak terlalu khawatir dengan posisinya. Pria yang dekat dengan pers ini juga tak ambil pusing dengan posisi BNI yang digeser BRI. Menurut dia, bagi BNI gampang untuk kembali menjadi nomor tiga. Masalahnya, saat ini hal itu bukan menjadi fokus manajemen.
Perseroan, kata Sigit, akan lebih berkonsentrasi untuk memperbaiki kinerjanya. Terutama meningkatkan dana-dana murah. Sehingga net interest margin yang kini masih di bawah 5% bisa naik lebih tinggi. Dibandingkan bank pelat merah lain, NIM BNI memang paling bontot. Di BRI angkanya mencapai 11%, Bank Mandiri dan BTN masing-masing 5%. Sedangkan BNI cuma 4%. Sementara rata-rata NIM perbankan berkisar 5,7% di akhir September lalu.
Seorang analis saham mengatakan, kecilnya NIM BNI tersebut merupakan salah satu penyebab harga saham perseroan sulit meningkat. Iman Sugema, pengamat perbankan bilang, sebaiknya isu pergantian direksi tidak terlalu dibesar-besarkan. Menurut dia, calon pengganti Sigit belum tentu lebih baik. ”Bisa saja lebih jelek, kita kan tidak tahu juga kualitasnya,” katanya.
Iman justru menyarankan agar BNI lebih berkonsentrasi menyelesaikan persoalannya. Terutama mengatur kembali portofolio bisnisnya. Berbagai persoalan yang dihadapi BNI, kata dia, sebagian besar merupakan warisan masa lalu. Terutama kredit-kredit ke korporasi. Nah, jika masalah ini bisa diselesaikan, Iman yakin kinerja BNI akan kembali memikat. 


Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id
  Copyright © 2002-2006 Majalahtrust.com. All Rights Reserved. Design by ProWeb APDesign