Jumat, 3 September 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
 
 

Penuh Tantangan, tapi Menjanjikan

Hendra Gunawan, Saswitariski, dan Restu Wijaya
 
INDUSTRI perbankan nasional bakal segera memasuki babak baru. Setelah Bank Indonesia menetapkan modal minimum sebesar Rp 80 miliar di akhir 2007, industri ini telah mengalami perubahan drastis. Para pemilik bank yang tidak mampu memenuhi ketentuan itu ramai-ramai menjual sahamnya kepada investor asing. Fakta tersebut sesungguhnya amat mengejutkan.
Dalam skenario BI, penetapan modal minimum itu akan mendorong para pemilik bank gurem untuk melakukan merger atau akuisisi. Sehingga, jumlah bank yang beroperasi bisa mengempis. Siti C. Fadjrijah, Deputi Gubernur BI, pernah mengatakan, sesuai Arsitektur Perbankan Indonesia (API) jumlah bank yang kini mencapai 130 akan diciutkan menjadi sekitar 60-70 bank. Tapi, apa daya skenario tadi berantakan. Para pemilik bank kecil lebih suka menjual banknya ke pemodal asing.
Sejumlah nama besar tercatat ikut terlibat dalam proyek akuisisi itu, seperti Hana Bank (Korea Selatan) yang mengambil alih saham Bank Bintang Manunggal. Lalu ada Industrial and Commercial Bank of China (ICBC/Cina) di Bank Halim dan The Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ Ltd. (Jepang) pada Bank Nusantara Parahyangan. Selain itu, masih ada Bank Commonwealth (Australia) yang menguasai saham Bank ANK. Sedangkan Rabobank (Belanda) mengambil alih dua bank sekaligus, Bank Haga dan Hagakita.

 Artikel Lain
Ketika Tarif Semakin Miring
Penuh Tantangan, tapi Menjanjikan
Hati-hati meski Ada Prospek
Di Bawah Ancaman Minyak
Optimisme di Tahun Abu-abu
Menilik Rapor Bankir BUMN
Saling Salip di Jalur Pelat Merah
Meneropong Nasib Bumi dari Pulau Bali
Perlawanan dari Negeri Singa
Jalan Masih Sangat Jauh
Pemodal lokal? Walaupun tidak seagresif asing, investor pribumi sejatinya juga ikut terlibat dalam proses akuisisi itu. Contohnya Bank BRI yang membeli saham Bank Jasa Arta, Bank Victoria yang mengambil alih Bank Swaguna, dan Bank Mandiri yang kini berkuasa di Bank Sinar Harapan Bali.
Pertanyaannya, apa yang mendorong para pemodal itu begitu antusias untuk menginvestasikan dananya di sini? Bukankah perbankan merupakan bisnis padat modal yang cukup berisiko? Menurut Ryan Kiryanto, pengamat perbankan dari BNI, agresivitas pemodal tersebut didorong oleh prospek pasar perbankan nasional yang amat menjanjikan.
Ryan lantas mengungkapkan sejumlah fakta. Selama 2007, tingkat pertumbuhan bisnis perbankan meningkat amat tajam. Penyaluran kredit yang di tahun 2006 hanya naik 14%, di tahun anjing api ini bisa tumbuh 25%. Dampaknya, fulus yang diperoleh pun ikut melambung.
Berdasarkan data Bank Indonesia, sampai Oktober lalu kredit yang telah disalurkan mencapai Rp 937 triliun. Adapun laba bersih yang dikantongi bank senilai Rp 30 triliun atau naik 27,7% dibandingkan periode sama tahun lalu. Menurut Iman Sugema, pengamat perbankan dari Indef, tingginya keuntungan itu disebabkan dua hal. Pertama, penurunan suku bunga simpanan yang cukup cepat tidak diikuti oleh bunga kredit. Kedua, kredit terbesar berada di pasar UMKM dan konsumen yang memiliki margin tinggi.
PERSAINGAN MAKIN KETAT
Walaupun mulai menggerogoti pangsa pasar bank-bank lokal, khususnya bank BUMN, kehadiran investor asing sebenarnya cukup memberi manfaat. Selain memperkuat permodalan, masuknya investor tersebut membuka peluang kerja baru bagi masyarakat lokal. Cyrillus Harinowo, ketua STIE dan STIMIK Perbanas, mengungkapkan, belakangan ini kebutuhan terhadap tenaga bankir amat besar.
Menurut dia, bank-bank yang diambil asing mulai agresif membuka cabang-cabang baru. Bank NISP misalnya, dua tahun terakhir sudah membuka 170 kantor cabang baru. ”Tahun depan kami akan membuka 20 kantor lagi,” ungkap Pramukti Surjaudaja, Bos NISP. Sedangkan Bank Bintang Manunggal berencana membuka sekitar 50 kantor baru pascamasuknya Hana Bank.
Agresivitas para pemain baru ini, tentu, akan membuat persaingan semakin ketat. Iman mengatakan, perbankan akan semakin sulit untuk mendapatkan dana pihak ketiga. Meningkatnya pemahaman masyarakat terhadap produk investasi, seperti saham, reksadana, maupun Obligasi Ritel Indonesia (ORI) yang memberikan return besar, akan mendorong pemilik dana keluar dari perbankan. ”Deposito dianggap sudah tak menarik lagi,” katanya.
Selain itu, perebutan debitor juga akan semakin menggila. Tahun depan, banting-bantingan bunga kredit diyakini akan semakin ramai. Seorang pejabat di salah satu bank BUMN mengungkapkan, persaingan bunga kredit tidak hanya melibatkan bank swasta dengan bank pemerintah, tapi juga di antara bank BUMN itu sendiri.
Si bankir lantas bercerita. Seorang debitor bagus datang ke salah satu bank BUMN, katakanlah BRI. Di bank ini dia mendapat kredit dengan bunga 12% per tahun. Di lain waktu debitor itu datang ke BNI atau Mandiri. Karena melihat debitor tersebut cukup bonafide, dua bank BUMN itu berani memberi bunga di bawah bunga kredit BRI. ”Istilahnya itu BRI minus 2% atau bahkan 3%. Pokoknya persaingan sudah sangat tidak sehat,” ungkapnya.
Muliaman D. Hadad, Deputi Gubernur Bank Indonesia, mengatakan, perbankan sudah seharusnya tidak hanya berkutat pada persaingan bunga. ”Tuntutan masyarakat akan semakin kompleks,” ujarnya. Menurut dia, di tahun 2008 isu perbankan bakal bergeser. Tidak lagi berkutat pada persoalan modal, penyaluran kredit, ataupun kredit bermasalah atau non performing loan (NPL). Sebab, tiga hak itu sudah mengalami perbaikan yang berarti di 2007.
Dalam hal permodalan, misalnya, rata-rata capital adequacy ratio (CAR) sudah berada di level 20%. Pertumbuhan kredit juga lumayan tinggi, sekitar 22%-25%. Adapun angka kredit bermasalah sudah turun drastis di posisi 5,05% (Oktober 2007). Masalahnya, kata dia, akankah kinerja itu bisa dipertahankan dalam jangka panjang. Jangan-jangan kreditnya bakal kempis lagi. ”Isu mengenai sustainability bisnis perbankan akan lebih dominan di 2008,” jelasnya.
Hanya saja, Deputi Gubernur BI paling muda itu masih optimistis kinerja perbankan tahun 2008 tetap positif. Dalam perhitungan BI, kredit bakal tumbuh lebih baik ketimbang 2007. Betul, kenaikan harga minyak dunia, kasus subprime mortgage, dan inflasi tinggi di Amerika Serikat, bisa berdampak terhadap ekonomi global. Namun, Muliaman yakin, situasi tersebut tidak akan berdampak besar terhadap perekonomian nasional.
Keyakinan yang sama diungkapkan Sigit Pramono. Menurut Dirut BNI itu, bisnis perbankan masih akan tumbuh cepat. Dengan asumsi pertumbuhan ekonomi nasional di level 6,5%, maka kredit perbankan seharusnya tumbuh sekitar 26%. Sigit yakin pertumbuhan kredit BNI pun akan berada di level itu. Apalagi, sejak secondary offering Agustus lalu, modal bank meningkat cukup besar. ”Tahun depan SBI akan berkisar di level 7,75%. Itu akan mendorong kredit naik lebih tinggi,” ujarnya.
Ryan Kiryanto menambahkan, infrastruktur, seperti jalan tol, perkebunan, crude palm oil (CPO), dan pertambangan (khususnya batu bara), merupakan sektor bisnis yang amat potensial di 2008. Jangan dilupakan juga sektor UMKM yang selama ini mendominasi kredit perbankan kita. Ryan berharap para pejabat pemerintah lebih berani untuk menggunakan anggaran. Menurut dia, belanja modal pemerintah pusat sebesar Rp 540 triliun dan daerah senilai Rp 270 triliun itu bisa digunakan untuk menggerakkan sektor riil.
Kendati prospek bisnis tahun depan lumayan cerah, Iman mengingatkan agar perbankan tetap waspada. Meningkatnya NPL kartu kredit belakangan ini, kata dia, menunjukkan produk ini berpotensi menciptakan masalah. Selain itu, perbankan juga harus lebih efisien. ”Banyak debitor bagus mulai jual saham di bursa. Itu bisa menjadi ancaman bagi penyaluran kredit perbankan,” katanya. 


Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id
  Copyright © 2002-2006 Majalahtrust.com. All Rights Reserved. Design by Proweb Indonesia