Jumat, 12 Maret 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
 
 

Nissan Ditarik, Impian Tertunda

Hardy R. Hermawan, Bogi Triyadi, dan Febry Mahimza
 
Jangan heran kalau suatu saat Anda melihat mobil Nissan X-Trail teronggok lesu tak berdaya di tepi jalan. Sebab, kendati mobil berwarna silver mengilap itu baru beberapa hari meluncur dari show room, bisa jadi si X-Trail ini mengidap cacat bawaan pada sensor mesinnya. Nah, kerusakan itulah yang membuat mesin mobil ini sulit dihidupkan atau bahkan mati mendadak.

Memalukan? Memang. Soalnya, tak pantas kalau mobil baru seharga Rp 275 juta itu memiliki kelemahan yang begitu mencolok. Lagi pula, dengan tongkrongan-nya yang teramat garang, tentu amat menggelikan bila mesin si X-Trail ini sulit dihidupkan.

 Artikel Lain
Siapa Pembobol Rekening 502?
Dikira kecil, padahal kakap
Empat Skenario Di Saku Laks
Giliran BRI Dibobol
Nissan Ditarik, Impian Tertunda
Selamat, Tapi Karena Utang
Penyelamatan BNI Perlu Tumbal?
Ancaman Rush di Balik Sebuah Fatwa
Mimpi Hartati Terhalang Edward
Komplotan Pembobol BNI

Masih mending kalau mesin mobil itu hanya susah dinyalakan. Bagaimana kalau yang terjadi justru mesin mobil itu tiba-tiba mati ketika tengah melaju dalam keadaan kencang di tengah jalan tol yang lumayan ramai? Jelas, akibatnya akan lebih dari sekadar memalukan. Itu menyeramkan, namanya.
Celakanya lagi, tak hanya si X-Trail saja yang memiliki cacat seperti itu. Pemerintah Jepang rupanya menemukan 23 varian merek Nissan lain yang juga mengalami nasib serupa. Rotating censor yang merupakan sensor elektrik penggerak rotasi pada sejumlah kendaraan itu kedodoran setelah dipakai beberapa waktu. Alhasil, para pejabat Nissan Motor Corporation di Jepang pun dibuat kelimpungan. Maklum, ini soal reputasi dan tanggung jawab atas keamanan konsumen.

Makanya, Menteri Pertahanan, Infrastruktur, dan Transportasi Jepang mengumumkan agar mobil-mobil Nissan yang sudah kadung dijual itu segera dipanggil kembali (recall) ke bengkel untuk menjalani perbaikan. Tak ada jalan lain, pihak Nissan harus menerima keputusan itu. Syahdan, di seluruh dunia, jumlah mobil yang akan di-recall itu mencapai 2,56 juta unit. Dari jumlah itu, tak kurang dari 1,03 juta unit mobil Nissan beredar di negerinya sendiri.

Untunglah, di Indonesia, Nissan yang beredar di jalanan tak terlalu banyak. Kalaupun ada, kebanyakan adalah Nissan Terrano yang sepanjang delapan tahun beredar di sini sudah terjual 11.500 unit. Atau, ada juga 10 ribu unit Nissan Sunny yang banyak dipakai sebagai angkutan taksi di Jakarta. Tapi, Terrano dan Sunny tidak tertulari penyakit tadi. Jadi, mobil Nissan yang harus menjalani recall di sini pun tidak terlalu banyak, paling banter hanya 500 unit.

Lagi pula, tidak semua X-Trail mengalami kondisi memalukan itu. Bahkan, X-Trail yang dirakit di Indonesia justru bebas dari cacat tersebut. Menurut Teddy Irawan, Deputi Direktur PT Nissan Motor Indonesia, penyakit ini memang hanya menimpa mobil-mobil yang didatangkan secara utuh dari luar negeri (CBU).

Nah, selain si X-Trail CBU yang peredarannya mencapai 394 unit, ada lagi produk Nissan lainnya yang juga akan di-recall layaknya politisi dari parlemen. Produk itu adalah Nissan Sentra yang pertama kali datang tahun 2002 dari Thailand dan Filipina. Sampai saat ini, jumlah Nissan Sentra yang sudah merasakan aspal di Indonesia kira-kira mencapai 80 unit.

Sayang memang jika si X-Trail dan Sentra ini harus mendapat cap sebagai mobil cacat. Soalnya, keduanya diharapkan mampu membantu Terrano mengangkat pamor Nissan yang sempat pudar di Indonesia. X-Trail bahkan dijagokan sebagai maskot baru Nissan untuk merebut pamor sebagai produsen mobil Sport Utility Vehicle (SUV) nomor satu di Indonesia.

Mobil itu sendiri datang pertama kali ke negeri ini untuk unjuk gigi pada pameran Gaikindo Expo 2001. Setahun kemudian, mobil ini langsung masuk ke pasar. Tak dinyana, animo masyarakat terhadap SUV berkapasitas 2.500 cc itu ternyata besar. Perakitan produk ini kemudian dilakukan di Tanah Air.

Adapun Sentra merupakan sedan kelas medium berkapasitas 1.800 cc. Maunya pihak Nissan, Sentra bisa bersaing dengan Honda Civic, Toyota Corolla Altis, dan Mitsubishi Galant. Tapi sejauh ini, Sentra belum mampu melibas ketangguhan lawan-lawannya kendati penampilan sedan seharga Rp 252 juta ini tidak kalah mewah dan canggih dibanding tiga pesaingnya tadi.


Memerlukan Biaya Rp 1,25 Triliun
Nah, menghadapi pelaksanaan recall atas produk Sentra dan X-Trail CBU ini, Teddy tentu harus menghitung ulang mimpi dan rencana besarnya yang ingin menjadikan Nissan sebagai produsen SUV nomor satu itu tadi. Soalnya, isu cacat bawaan jelas sangat sensitif bagi strategi penjualan. Apalagi, citra Nissan di Indonesia memang tak kelewat bagus karena terimbas performa Datsun--merek mobil yang pernah dilansir oleh Nissan--yang sedemikian buruk di masa lalu. Datsun dulu pernah menjual mobil di sini tanpa ada dukungan suku cadang, bengkel, dan layanan pascajual yang memadai.

Tapi, menyangkut teknis pelaksanaan recall, Teddy pasti tidak kelewat pusing. Toh, yang dilakukan hanyalah mengganti sensor elektrik tadi dengan peranti baru yang lebih canggih. Sensor elektrik ini juga tidak besar, paling-paling hanya seukuran dua bungkus rokok yang ditumpukkan. Jadi, perbaikan yang dilakukan dalam recall itu hanya akan memakan waktu satu jam untuk setiap kendaraan. Teddy juga sudah menyiapkan 34 bengkel di seluruh Indonesia untuk menerima perbaikan tersebut.

Dan yang penting, Nissan Motor Indonesia tidak perlu mengeluarkan uang untuk melakukan recall tersebut. Soalnya, seluruh biaya itu akan ditanggung induk perusahaannya. Nissan Jepang sendiri sudah merogoh kocek senilai 16 miliar yen atau setara dengan Rp 1,25 triliun untuk ongkos perbaikan 2,56 juta kendaraan itu. Artinya, untuk 500 kendaraan yang akan di-recall di sini, Nissan Indonesia akan mendapatkan 3,2 juta yen atau sekitar Rp 25 miliar.

Untuk perusahaan sekelas Nissan Motor Corporation, jumlah dana itu mungkin tidak seberapa. Soalnya, pabrikan ini merupakan perusahaan otomotif terbesar ketiga di Negeri Matahari. Betul, dalam laporan sepanjang Maret sampai September tahun ini, laba bersih Nissan anjlok 17,4% menjadi tinggal US$ 2,16 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Tapi, pendapatan dari penjualan Nissan pada kurun tersebut justru mampu mencapai level US$ 32,22 miliar, atau meningkat 8,2%.

Jadi, persoalan terpenting bukan terletak pada dana recall yang harus digelontorkan itu. Adalah masalah keamanan dan kepercayaan konsumen yang seharusnya menjadi pusat perhatian. Makanya, langkah pemerintah Jepang yang mampu mendeteksi kelemahan Nissan ini seharusnya bisa menjadi teladan. Soalnya, kalau mengharapkan keterusterangan pihak produsen saja, jelas akan lebih sulit.

Contohnya di Indonesia. Ketika tabloid Otomotif menemukan masalah pada filter udara mobil Baleno Next G dan Aerio keluaran Suzuki, pihak Indomobil Niaga Internasional--agen tunggal Suzuki--terkesan menjaga gengsi dengan tidak terbuka menindaklanjuti temuan media otomotif itu.

Betul, pihak Indomobil menggelar acara bertajuk “Suzuki Peduli” pada tanggal 3 sampai 15 November ini untuk memperbaiki masalah yang disebabkan karena posisi corong air intake yang terlalu rendah. Bebin Djuana, Manajer Pemasaran Indomobil, kepada Otomotif juga mengakui bahwa rendahnya posisi corong air intake itu bisa membuat saluran udara kemasukan air. Lalu, kata Bebin, dalam program “Suzuki Peduli” tadi, corong air intake itu akan diganti dengan yang baru dan konsumen tidak perlu menanggung biaya apa pun.

Masalahnya, manajemen Indomobil tidak mau terbuka mengatakan akan melakukan program recall. Lalu, tak pernah juga ada kejelasan soal risiko bagi pengemudi dan penumpang kendaraan sekiranya corong air intake yang kelewat rendah itu tetap dibiarkan seperti semula. Padahal, kondisi itu bisa membuat mesin mati tiba-tiba. Nah, itu berbahaya bukan?
Lebih celaka lagi, pemerintah kita justru pernah tidak tahu-menahu dengan masalah-masalah seperti ini. Padahal, pendapatan pajak yang didapat pemerintah dari bisnis otomotif ini bukan main besarnya.

Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id
  Copyright © 2002-2006 Majalahtrust.com. All Rights Reserved. Design by ProWeb APDesign