Rabu, 8 September 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
 
 

Empat Skenario Di Saku Laks

 
Pekan ini adalah pekan yang menentukan sekaligus mendebarkan bagi Saifuddien Hasan, Direktur Utama Bank BNI. Soalnya, Senin pekan depan (15 Desember), kelangsungan jabatannya akan diputuskan dalam rapat umum pemegang saham luar biasa. Kunci kelangsungan jabatan Saifuddien ada di tangan Laksamana Sukardi, Menteri Negara BUMN yang menjadi wakil pemerintah selaku pemegang saham mayoritas BNI.

Sejauh ini, Laksamana belum mau mengungkap secara terbuka pilihannya dalam perubahan susunan direksi BNI nanti. Namun, seorang pejabat Bank Indonesia bercerita bahwa Laksamana telah bertemu dengan Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah belum lama ini. Pada kesempatan itu, ia melakukan semacam konsultasi tentang persoalan BNI pascamencuatnya kasus pembobolan senilai Rp 1,7 triliun. Dalam pembicaraan tersebut juga disinggung empat skenario perubahan susunan direksi BNI.

 Artikel Lain
Karena Setiap Pesta Harus Berakhir
Kisruh Di Kemayoran Belum Usai
Siapa Pembobol Rekening 502?
Dikira kecil, padahal kakap
Empat Skenario Di Saku Laks
Giliran BRI Dibobol
Nissan Ditarik, Impian Tertunda
Selamat, Tapi Karena Utang
Penyelamatan BNI Perlu Tumbal?
Ancaman Rush di Balik Sebuah Fatwa

Dalam skenario pertama, pemerintah berencana mempertahankan Saifuddien Hasan sebagai Direktur Utama BNI. Pertimbangannya, Saifuddien diyakini tidak tersangkut dalam kasus pembobolan tersebut. Dengan bertahannya Saifuddien, maka Arwin Rasyid tetap dipertahankan sebagai Wakil Direktur Utama.

Jika Saifuddien dipertahankan, berarti tanggung jawab atas bobolnya BNI akan dibebankan kepada tiga orang direktur. Mereka adalah Mohammad Arsjad (Direktur Kepatuhan), Eko Budiwiyono (Direktur Treasury), dan Rachmat Wiriaatmadja (Direktur Internasional). Pada 2 Desember, Mohammad Arsjad mengajukan pengunduran diri. Katanya, itu sebagai bentuk pertanggungjawaban dirinya selaku Direktur Kepatuhan. Jadi, dapat dipastikan satu jabatan direksi BNI kini sudah kosong.

Dalam skenario kedua, meski Saifuddien dipandang tak bersalah dalam kasus pembobolan BNI, sebagai pimpinan tertinggi ia tetap harus bertanggung jawab dan akan dicopot. Diharapkan, pencopotan Saifuddien ini akan menjadi preseden yang baik sehingga para pemimpin bank BUMN menjadi lebih saksama dan hati-hati dalam mengendalikan bank-bank mereka.

Jika ini terjadi, posisi Saifuddien akan digantikan Arwin Rasyid yang sejak Juni silam memang sudah disiapkan Laksamana untuk menduduki jabatan puncak di BNI. Namun, karena Arwin dipandang sebagai orang luar, maka agar tidak timbul gejolak, ia harus didampingi seorang wakil direktur utama dari orang dalam BNI. Pilihan sebagai pendamping jatuh kepada Agoest Soebhektie, Direktur Ritel, yang juga dipandang bersih dari kasus pembobolan Rp 1,7 triliun.
Skenario lainnya merupakan alternatif dari skenario kedua. Arwin naik pangkat menjadi direktur utama tanpa didampingi Agoest. Pilihan sebagai pendamping Arwin dalam skenario ini jatuh kepada seorang old crack BNI, yakni Freddy Saiya.

Freddy adalah senior BNI yang kini ”ditransfer” ke BTN. Sejak tahun 2000, ia menjabat sebagai salah seorang Direktur BTN setelah 20 tahun lebih berkarir di BNI.
Sebenarnya, selain Agoest dan Freddy, ada Ignatius Supomo (kini Direktur Operasional BNI) yang dipandang layak mendampingi Arwin. Namun, Ignatius baru diangkat sebagai direktur pada Juni silam, sehingga dipandang masih terlalu hijau untuk jabatan setingkat wakil direktur utama. Karena itu, Ignatius tampaknya hanya akan bertahan pada posisinya yang sekarang.

Skenario terakhir akan dipilih bila sosok Arwin Rasyid—yang tidak berkarir di BNI—mendapat penolakan keras dari dalam. Bila itu terjadi, posisi Direktur Utama BNI akan jatuh ke Agoest Soebhektie. Mengikuti tiga skenario sebelumnya, pilihan terakhir kepada Agoest ini bisa dipandang logis. Ini seperti metode urut kacang saja. Jika Saifuddien dipilih, Arwin menjadi wakilnya. Jika Arwin yang terpilih, Agoest menjadi wakilnya.

BISA-BISA DIKUASAI GENG BPPN
Lantas, skenario mana yang akan dipakai? Laksamana tetap tutup mulut. Kepada publik, ia hanya mengatakan bahwa nama-nama calon direksi BNI sudah diserahkan kepada BI untuk dilakukan uji kelayakan dan kepatutan. Daftar nama itu terdiri dari sekitar 10 orang. Jumlah yang lebih banyak dari kursi direksi itu untuk berjaga-jaga kalau ada calon yang gagal uji kepatutan. Daftar itu, menurut Laksamana, merupakan kombinasi dari orang dalam BNI dan orang luar. Alasannya, ia mengharapkan orang dalam BNI bisa maju. Meski demikian, ia juga ingin mengubah kultur di dalam BNI dan untuk itu ia perlu memasukkan orang luar.

Di antara nama-nama orang dalam yang masuk daftar ikut uji kelayakan dan kepatutan ini, salah satunya adalah Masrokan Nasuha, yang akan dipromosikan menjadi salah seorang direktur. Ia kini menjabat sebagai Pemimpin Divisi Sumber Daya Manusia. Selain itu, beredar pula nama Gatot Siswoyo (Pemimpin Divisi Pengelolaan Bisnis Kartu), Pramono (Pemimpin Divisi Korporasi), dan Achmad Baiquni (Pemimpin Divisi Perencanaan).

Menyangkut orang-orang luar BNI yang akan dimasukkan menjadi direktur BNI, kabar paling santer adalah kemunculan nama dua pejabat BPPN, yakni Mohamad Syahrial (Deputi Ketua BPPN Bidang Aset Manajemen Kredit) dan I Nyoman Sender (Deputi Ketua BPPN Bidang Restrukturisasi Perbankan). Jika keduanya jadi masuk, berarti mereka mengikuti jejak Arwin Rasyid yang sebelum menjadi Direktur Bank Danamon juga pernah bekerja di BPPN. Dan jika ini terjadi, maka berpindahlah geng BPPN ke BNI.

Informasi yang diterima TRUST juga menyebutkan bahwa ada pemikiran untuk memindahkan Rudjito, Direktur Utama BRI, ke BNI. Diharapkan, pengalamannya dalam mengelola BRI bisa ditularkan kepada BNI. Jika Rudjito pindah, posisinya akan digantikan salah seorang direktur BRI. Namun begitu, manuver pemindahan Rudjito ini terbilang rumit, karena RUPS BRI belum akan dilakukan dalam waktu dekat. Mungkinkah Rudjito memegang posisi tertinggi di dua bank yang sama-sama baru saja dibobol pada waktu bersamaan itu?

Selain Rudjito, nama Sigit Pramono (Presiden Direktur BII) juga disebut-sebut memiliki kans untuk menclok di BNI. Munculnya nama Sigit berkaitan dengan pembelian BII oleh konsorsium Sorak dari BPPN beberapa waktu lalu. Sebagai pemegang saham mayoritas, konsorsium Sorak tentu memiliki hak untuk mengganti Sigit dengan orang mereka sendiri. Nah, menganggurnya Sigit ini—konon—akan dimanfaatkan untuk mengisi kekosongan di BNI.
Lantas, skenario mana yang akan dimainkan?

Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id
  Copyright © 2002-2006 Majalahtrust.com. All Rights Reserved. Design by Proweb Indonesia