Rabu, 7 Januari 2009 | Berlangganan Majalah TRUST 
 
 

Ini Dia, All Riady's Men

Andrianto Soekarnen, Bajo Winarno, Kun Wahyu Winasis, dan Priyanto Sukandar
 
Setelah lolos dari uji fit & proper di Bank Indonesia (BI), para anggota Konsorsium Swissasia kini sudah bisa tidur nyenyak. Sebab, setelah lulus ujian plus membayar Rp 1,205 triliun, secara resmi konsorsium ini keluar sebagai pemenang tender 52,05% saham Bank Lippo dari BPPN. Cuma, yang tetap menjadi pertanyaan banyak kalangan, benarkah di konsorsium yang sejak awal begitu misterius itu tak terselip nama Mochtar Riady atau salah seorang anggota keluarganya.

Betul, Siti Fadjriah, Direktur Pengawasan BI yang melakukan uji kelayakan dan kepatutan, menyatakan tak menemukan jejak keluarga sang pemilik lama Bank Lippo. Namun, Kamis pekan lalu, sebagaimana dikutip Koran Tempo, Laksamana Sukardi, Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara, justru mencurigai sebaliknya. Ia mencium adanya keluarga Riady di belakang Swissasia. “Saya kira, itu [Swissasia] memang Grup Lippo,” katanya.

 Artikel Lain
Tuntutan RP 60 Milliar Bagi Coca-Cola
Pembobol BNI Lolos di Tangan Polisi
Mengungkap Mafia Kuota Tekstil
Setelah Pande Divonis Bersalah
Ini Dia, All Riady's Men
8.000 Halaman Reformasi Polisi
Awas, Bahaya Temasek!
Agar Digdaya dan Kaya Raya
Kartu Mati Bernama Winfried
Karena Setiap Pesta Harus Berakhir

Dugaan Laksamana itu muncul karena, sebelumnya, tak ada investor yang mau membeli Bank Lippo. Agar persoalan ini menjadi terang, menteri yang juga pernah bekerja di bank tersebut meminta daftar pemegang saham pengendali Swissasia diumumkan kepada publik. Ini penting, sebab para pemegang saham itulah yang harus bertanggung jawab dan bertindak manakala nanti terjadi sesuatu terhadap Bank Lippo. Maklum, ini perusahaan milik publik.

Namun yang muncul tetap saja nama-nama yang sebelumnya telah dilansir BI. Skema itu menjelaskan bahwa konsorsium tersebut terdiri dari Swissfirst Bank AG (24,5% saham), Raiffeisen Zentralbank Osterreich AG (RZB) melalui Chaffron Ltd. (24,5%), Topper Investment Ltd. (13%), Matrix Asia Holdings Ltd. (5%), Argyle Street Management Ltd. (19%), dan Farrell Opportunity Capital Ltd. (14%).
Kecurigaan jadi menebal ketika pemilik bank itu menyelenggarakan rapat umum pemegang saham (RUPS) yang dihadiri oleh Swissasia (52,05%), Lippo e-Net milik keluarga Riady (9,6%), dan publik (38,35%). Seperti yang diduga sebelumnya, rapat ini memutuskan Mochtar Riady tetap menduduki jabatan komisaris utama. Juga, jabatan direktur utama tetap dipegang Joseph F.P. Luhukay, orang dekat keluarga Riady.

Akan halnya Roy Edu Tirtadji dan Djisman Simandjuntak, dua orang yang juga dekat dengan keluarga Riady, tetap pula menduduki kursi komisaris mereka. Menurut Luhukay, pilihan Swissasia untuk mempertahankan Mochtar Riady disebabkan konsorsium itu melihat Mochtar sebagai bankir paling senior di Indonesia. Luhukay menolak anggapan terpilihnya Mochtar disebabkan ia—sebetulnya—berada di belakang Swissasia.

ADA BEKAS DIREKTUR ACROSS ASIA DI SITU
Meski Siti Fadjriah dan Luhukay menyanggah keberadaan keluarga Riady di belakang Swissasia, hasil penelusuran TRUST berbicara lain. Nama-nama di belakang konsorsium itu dan juga nama-nama anggota komisaris dan direksi yang terpilih terindikasi memiliki kedekatan dengan keluarga Riady.

Orang terpenting yang patut mendapat sorotan adalah Christopher James Williams. Dalam skema yang dikeluarkan BI, lelaki ini dikatakan sebagai pemegang saham Topper Investment Ltd. Kini, Williams menjabat sebagai salah seorang Komisaris Bank Lippo mewakili Swissasia.
Williams adalah ahli merger dan akuisisi perusahaan. Ia pernah bekerja untuk Kantor Hukum Richards Butler di Hong Kong. Di antara klien Richards Butler tercatat nama Lippo China Resources Limited, anak perusahaan dari Grup Lippo.
Lebih jauh, pada Juni 2000, Williams diangkat menjadi salah seorang direktur non-eksekutif dari Across Asia Multimedia Ltd. Secara “kebetulan”, Mochtar Riady juga menjabat direktur non-eksekutif di situ. Ini wajar. Across Asia memang dimiliki keluarga Riady. Perusahaan ini merupakan induk dari perusahaan televisi bayar Kabelvision. Singkat cerita, Williams sudah pasti memiliki kedekatan dengan keluarga pendiri Lippo ini.

Selain Williams, tercatat nama Steven B. Simpson sebagai pemegang saham Topper. Selain masuk ke Swissasia melalui perusahaan itu, Simpson ternyata juga masuk melalui Matrix Asia Holdings Ltd. Pastinya, Simpson juga emiliki keterkaitan dengan keluarga Riady melalui perantaraan Williams.

Argyle Street Management Ltd., induk dari ASM Investment, yang memegang 19% saham Swissasia, merupakan perusahaan investasi yang berkedudukan di Hong Kong. Sejauh ini, tak ditemukan keterkaitan langsung antara perusahaan ini dengan keluarga Riady. Satu-satunya indikasi hubungan adalah alamat dari perusahaan, yakni Tower 2 Gedung Lippo Centre di Hong Kong. Mungkin, Kin Chan, manajer dan pengawas di ASM Investment, mendapat ide ikut membeli Bank Lippo setelah keseringan melihat logo bank itu bertengger besar di atas gedung tempat ia bekerja.

Salah satu pemegang saham terbesar dalam Konsorsium Swissasia adalah Swissfirst Bank AG, sebuah bank besar di Swiss. Yang aneh dengan keberadaan bank ini dalam konsorsium, mereka sama sekali tak mengumumkan pengambilalihan Bank Lippo kepada publik di Swiss. Padahal, sebagai bank publik yang sahamnya tercatat di bursa saham Swiss, mestinya bank tersebut mengumumkan seluruh kegiatan operasionalnya yang besar. Melalui e-mail kepada TRUST, Robin M. Willi, juru bicara dari Swissfirst, memberikan konfirmasi bahwa perusahaannya memang termasuk dalam Konsorsium Swissasia. Namun begitu, Willi tak menjawab mengapa bank itu tidak melakukan pengumuman terbuka tentang pengambilalihan Bank Lippo.

Yang semakin menunjukkan “ketidakseriusan” Swissfirst dalam proses pengambilalihan Bank Lippo, mereka sama sekali tak menyimpan orang dalam jajaran komisaris ataupun direksi. Ketika ditanya soal hal ini, Willi hanya menjawab bahwa yang penting bagi perusahaannya adalah keterwakilan Konsorsium Swissasia dalam jajaran komisaris dan direksi.
Sebagaimana Swissfirst, Raiffeisen Zentralbank Osterreich AG atau RZB dari Austria juga tak mengumumkan pengambilalihan Bank Lippo. Memang, RZB bukan bank publik sehingga tak perlu mengumumkan pengambilalihan ini. Namun begitu, ketika bank tersebut mengambil alih Savings Bank of Albania dengan harga US$ 95 juga pada Desember 2003, peristiwa itu diumumkan melalui situs mereka.

Jika Anda masih ingat, nama RZB ini juga sempat muncul ketika BPPN menjual 51% saham Bank Internasional Indonesia (BII) pada Oktober 2003. Salah satu penawar adalah Bank Panin. Namun, BPPN kemudian meminta Bank Panin menggandeng bank asing jika hendak ikut menawar BII. Dalam waktu yang sangat singkat, bank itu ternyata berhasil membentuk konsorsium yang salah satu anggotanya adalah RZB ini.
Berkaitan dengan Bank Lippo, perlu diketahui bahwa pendiri Bank Panin, yakni Mu’min Ali Gunawan, merupakan ipar dari Mochtar Riady. Jadi, bukan tak mungkin kemunculan RZB dalam Konsorsium Swissasia adalah berkat koneksi keluarga.

SWISSASIA ATAU ING BARINGS?
Keberadaan keluarga Riady di belakang Swissasia semakin tercermin dalam susunan komisaris dan jajaran direksi baru Bank Lippo, yang ternyata banyak diisi “orang-orang” keluarga Riady. Hasil RUPS menyebutkan empat komisaris baru diangkat mewakili Konsorsium Swissasia: Rainer Silhavy, Jan G. Cherim, James C. Ng, dan Christopher Williams. Di jajaran direksi, Swissasia menempatkan Lee Heok Seng dan Mark Mc Kenny.

Diantara para komisaris itu, James C. Ng saat ini tercatat bekerja sebagai CEO dari e-New Media Company Ltd. Perusahaan itu pada 2000 diketahui membeli 72,3 juta lembar saham Across Asia Multimedia Ltd., perusahaan milik keluarga Riady dan tempat Christopher Williams sempat bekerja. Sebelum masuk e-New Media, Ng tercatat sebagai Direktur Eksekutif First Pacific, perusahaan investasi yang dimiliki keluarga Salim, sahabat lama keluarga Riady. Jadi, sebagaimana Williams, Ng boleh dikata punya hubungan dengan keluarga Riady.

Komisaris lain yang mewakili Swissasia adalah Jan G. Cherim. Dapat dipastikan juga, Cherim telah kenal lama dengan Mochtar. Soalnya, antara 1999 dan 2002, Cherim menjabat sebagai Komisaris Bank Lippo. Ketika itu, tentu saja, Mochtar Riady adalah presiden komisaris.
Masuknya Cherim ke Bank Lippo pada 1999 berkaitan dengan terpilihnya ING Barings dari Belanda untuk membantu restrukturisasi Bank Lippo. Ketika itu, tepat sebelum masuk dalam pengelolaan BPPN, Bank Lippo menandatangani kerja sama restrukturisasi dengan ING Barings. Dengan masuknya ING ini, BPPN tak bisa menempatkan orang-orangnya di Bank Lippo. Baru pada 2002, setelah kontrak Bank Lippo-ING selesai, orang-orang BPPN bisa masuk.

Di jajaran direksi, Lee Heok Seng yang juga mewakili Swissasia adalah assistant general manager di bagian risk control management head di RZB Cabang Singapura. Yang menarik, sebagaimana dapat dilihat pada situs Life Bible-Presbyterian Church Singapura, Lee adalah penceramah pada gereja itu. Kebetulan, keluarga Riady juga penganut aliran gereja ini.

Hubungan berupa sesama penganut satu aliran gereja tak bisa diabaikan begitu saja. Jika Anda ingat kasus sumbangan ilegal James Riady kepada calon presiden Bill Clinton pada Pemilihan Presiden Amerika 1992, di situ Anda akan menemukan nama Jim Guy Tucker. Melalui mantan Gubernur Arkansas inilah Riady berkenalan dengan Clinton. Majalah Fortune pernah menulis bahwa kedekatan Riady dengan Tucker bermula dari perkenalan keduanya ketika sama-sama aktif di Gereja Presbyterian di Little Rock, Arkansas, sekitar 20 tahun sebelumnya.

Sosok terakhir yang juga dikatakan mewakili kepentingan Swissasia adalah Mark Mc Kenny. Sebagaimana Jan G. Cherim, lelaki berkebangsaan Amerika Serikat ini adalah pegawai ING Barings. Ia juga pernah bekerja di Bank Lippo antara tahun 1999 dan 2002 ketika kerja sama restrukturisasi tengah berjalan. Ketika itu, Mc Kenny menjabat sebagai konsultan.
Kehadiran Mc Kenny dan Cherim tak pelak menimbulkan pertanyaan, apa hubungan ING dengan Swissasia? Jangan-jangan, ada rencana mengembalikan ING ke Bank Lippo. Kemungkinan kehadiran kembali ING ini semakin kental ketika TRUST mendapat informasi bahwa seorang pegawai ING bernama Bert Ten Cate kini tengah berada di Indonesia. Menurut informasi dari kalangan pasar modal, Cate sedang mencari orang untuk dijadikan staf penasihat di Bank Lippo.
Nah, sekarang setelah Anda membaca latar belakang orang-orang di seputar Swissasia seperti di atas, masihkah Anda meragukan kehadiran keluarga Riady di belakang konsorsium itu?

Berikan Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id
  Copyright © 2002-2006 Majalahtrust.com. All Rights Reserved. Design by ProWeb APDesign