|
|
 |
 |
|
 |
|
|
“Bagaimana Menjadi Kaya dengan Benar”
|
| Reza Rohadian, Oki Budhi Priambodo |
| |
Ahad pekan ini, Aa Gym baru datang dari “berkelana” ke seantero Nusantara. Di tengah kelelahannya itu, ia menerima wartawan TRUST Oki Budhi Priambodo, bersama tiga wartawan dari media lain. Dai yang lagi ngetop ini duduk bersila, bersandar ke dinding. Sesekali ia mengendurkan badannya.
Toh, dengan tubuh yang letih, bapak tujuh anak yang antirokok ini tetap mendengarkan pertanyaan dengan saksama dan menjawabnya dengan tenang. Sesekali ia membetulkan pembalut yang melingkar di telapak tangan kanannya. “Tangan Aa lagi bengkak,” ujarnya.
Aa Gym--sebagaimana tercermin dalam kumpulan ceramahnya yang dinamakan Manajemen Qolbu, antara lain menganjurkan umat harus kaya. Ia menceritakan hal berikut:
“Dikisahkan, ketika dipersilakan masuk ke surga terlebih dahulu, haji mabrur itu menolak. Alasannya, harus ulama dahulu karena haji itu mengetahui hukum-hukum haji dari gurunya yang seorang ulama. Begitu pula mujahid, ia tidak akan mengetahui keutamaan jihad kalau tidak ada ulama yang mengajarkannya. Ketika pada akhirnya ulama dipersilakan, ia pun menampik. Ulama itu malah mempersilakan orang kaya agar paling dulu masuk ke surga. Kata ulama itu, jika tidak ada bangunan-bangunan islami yang dibiayai orang kaya, ia tidak mungkin dapat berdakwah.”
Apa definisi kaya bagi Aa? Seberapa pentingkah menjadi kaya?
Menurut Islam, yang disebut orang kaya itu adalah orang yang kalbunya kaya dengan kebaikan. Tapi tidak ada salahnya orang yang kaya harta, hatinya juga kaya dengan kebaikan.
Kalau kita lihat negeri kita seperti sekarang ini, menjadi sebuah jihad bagi kita untuk membangkitkan ekonomi umat Islam. Karena, kalau ekonominya terbatas, kesehatan akan terbatas, kemampuan mengakses ilmu juga akan terbatas. Akibatnya, umat Islam jadi lemah. Kalau lemah, umat Islam jadi enggak berdaya untuk berbuat banyak kebaikan bagi orang lain.
Saya melihat sahabat rasul hidupnya makmur. Rasul sendiri orang yang berlimpah harta. Dan sebaik-baiknya harta adalah kalau dimiliki oleh orang yang saleh.
Tapi bagi Aa sendiri bagaimana?
Bagi saya, kaya itu relatif. Orang yang sedikit kebutuhannya itu adalah orang yang kaya. Saya merasa penting mempunyai perusahaan yang bagus. Pertama, karena saya harus punya laboratorium untuk membuat keyakinan bagi masyarakat bahwa bisnis yang berbasis akhlak yang baik itu bisa maju.
Kedua, saya harus mempunyai penghasilan yang cukup agar enggak jadi beban masyarakat, dan bisa menjadi contoh bagaimana menjadi kaya dengan cara mendapatkan harta dengan benar dan menafkahkannya dengan benar pula.
Kalau saya hidup sederhana karena enggak punya uang, ya sudahlah enggak usah banyak omong; namanya juga enggak punya uang. Sementara kalau saya kaya raya tapi hidup bersahaja dan menjaga kejujuran, mudah-mudahan orang lain bisa meniru.
Yang ketiga, biaya berdakwah itu besar sekali. Dan ini diupayakan agar tidak menjadi beban umat, syukur-syukur bisa meringankan umat.
Kalau begitu, untuk menyimak dakwah Aa, umat enggak perlu mengeluarkan uang sepeser pun?
Bukan saja tidak perlu mengeluarkan uang, tapi semoga mereka mendapat ilmu, bahkan mereka bisa mendapat bekal, misalnya buku dan makanan. Suatu saat, begitu harapan saya.
Jadi, Aa enggak setuju bila umat dikenai tiket masuk untuk mendengarkan dakwah seperti yang terjadi di Medan?
Makanya dakwah itu dibatalkan. Saya yang minta dibatalkan.
Bagaimana kalau ada yang menilai Aa komersial dalam berdakwah?
Orang berpikirnya negatif. Yang benar itu bukan membisniskan dakwah, melainkan dakwah dalam bisnis. Sepertinya, orang itu merasa berat kalau melihat orang Islam menjadi kaya.
Yang Aa lakukan adalah berdakwah dalam bisnis. Bisnis kan nilai moralnya rendah, makanya negara ini ambruk. Karena itu, kami memberi contoh bagaimana berbisnis itu bisa menjadi suatu pola dakwah. Bisnis kan bukan selamanya transaksi uang dengan barang. Yang benar, bagaimana kita dalam berbisnis bisa sambil beribadah, bisnis bisa dijadikan sarana untuk menyejahterakan diri dan orang lain, serta sebagai sarana dakwah.
Ada perubahan setelah Aa kaya seperti sekarang?
Pertama, saya makin malu punya sesuatu yang bagus dan mahal. Anda lihat, dulu saya punya BMW, sekarang jadi Espass. Padahal, maaf ya, kalau saya mau membeli pesawat terbang, sekarang pun kebeli. Tapi saya makin malu. Rumah saya juga tetap kayak begini.
Kedua, saya makin leluasa membantu tetangga dan sanak saudara, sehingga tetangga bisa punya usaha. Ketiga, yang paling saya sukai adalah saya bisa membuka lapangan kerja bagi banyak orang. Dan itu menjadi fokus pikiran saya, terutama bagi orang-orang cacat. Saya sangat ingin, nanti, di perusahaan ini 20 persen pegawainya orang cacat. Saya senang kalau orang jadi termotivasi dan bangkit semangatnya untuk mandiri. Kalau itu enggak ada contohnya, kan susah.
Berapa penghasilan Aa sebulan?
Enggak tahu atuh. Saya enggak pernah ngitung uang yang masuk. Yang saya butuhkan tiap bulan itu adalah dana untuk saya sedekahkan. Dari hasil perusahaan, saya minta sama orang keuangan agar saya dibekali uang untuk ber-sodaqoh. Selebihnya, hasil perusahaan itu diurus oleh sistem.
Sekarang, berapa besar Aa bersedekah?
Enggak, saya enggak mau nyebutin. Pokoknya, saya ber-sodaqoh minimal 20 persen dari penghasilan.
Sebenarnya, Aa suka enggak diekspos media massa seperti sekarang ini?
Enggak, dan janganlah kita minta diekspos dan ingin popular. Tapi, kalau Allah yang menakdirkan Aa seperti ini, mau bagaimana lagi? Kan bukan keinginan Aa. Yang penting, masyarakat mengetahui saya apa adanya, tidak bicara lebih dari kenyataan. Banyak yang menganggap saya ini ulama. Saya sendiri sama sekali belum layak disebut ulama; baru bercita-cita menjadi ulama. Saya ingin dianggap sebagai kawan dalam upaya memperbaiki diri.
Ada ketakutan nanti masyarakat menjadi jemu karena Aa terlalu sering muncul di media?
Enggak. Yang saya takutkan, saya enggak bisa mengevaluasi diri dan tidak bisa memperbaiki diri. Untuk penampilan di masyarakat, saya punya tim khusus yang mengatur berapa banyaknya Aa harus memberikan dakwah, berapa sering Aa harus tampil. Sesudah Ramadan ini, masyarakat akan sulit mencari Aa di TV, karena Aa bakal berhenti banyak dari TV.
Berapa lama? Kenapa?
Mungkin seperempat sampai setengah tahun. Karena, Aa harus mengevaluasi diri, dan jangan sampai overexpose. Kalau Ramadan ini Aa banyak tampil, itu karena ada yang enggak bisa bangun pagi, bisa melihat Aa siangnya, yang pulang kerja bisa melihat malamnya. Kalau targetnya cuma satu kali muncul, waah bisa bablas …
Apa target terbesar Aa dalam berdakwah?
Target pertama, menampilkan Islam yang sejuk dan damai. Tanpa damai, bangsa ini enggak bisa bangkit meski SDM-nya begitu hebat. Kedua, Aa ingin menciptakan Islam yang universal, Rahmatan lil alamin. Sehingga yang mendapat manfaat dari Islam ini tidak hanya orang Islam, tapi juga yang non-Islam. Orang non-Islam itu seharusnya bukan takut sama Islam. Seharusnya, mereka malah senang, merasa terayomi, diperlakukan adil, dan bahagia berada di lingkungan Islam.
Ketiga, tujuan dakwah Aa adalah Islam yang membangun jiwa wiraswasta dan profesionalisme. Tanpa jiwa wirausaha yang baik dan profesional, sehebat apa pun SDM-nya, tidak akan mendatangkan kesejahteraan yang maksimal.
Ada kabar, ketika Aa baru merintis Pondok Daarut Tauhuid, K.H. Zainuddin M.Z. menyumbang uang 200 juta rupiah?
Kita harus berbicara berdasarkan fakta. Kasihan yang diberitakan seperti itu. Nanti Pak Zainuddin jadi enggak enak. Kabar itu enggak benar. Saya mah lebih suka uang seribu rupiah dari banyak orang daripada seratus juta dari satu orang. Karena, yang dibangun itu adalah komitmen, bukan uangnya. Ini penting. Bagi Aa, uang enggak begitu penting, yang penting itu komitmen.
Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini
|
|
 |
|
 |
Edisi 09 - 10 Tahun VI 31 Desember - 6 Januari 2007 |
 |
|
 |
|