Jumat, 3 September 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
 
 

Awas, (Tahun) Anjing Galak!

Hardy R. Hermawan, Hendra Gunawan, Subhan Atmaja, Sumi Fatimah S., Teguh Usia Imam, dan Teddy Unggik
 
Tahun Anjing, yang akan mulai menyalak pada 29 Januari 2006, agaknya memang bukan tahun yang cerah. Para pencari kerja, misalnya, sebaiknya tidak banyak berharap pada iklan lowongan. Soalnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia, paling banter, hanya akan mencapai 5,8%. Menteri Keuangan Sri Mulyani sendiri sudah mengungkapkan kesuraman itu.
Kalau benar begitu, pertumbuhan sebesar tadi paling-paling hanya akan mampu menyerap 1,4 juta tenaga kerja. Padahal, di tahun 2005 ini saja sudah ada 10,2 juta penganggur. Lantas, di tahun 2006, akan ada lagi 2,5 juta anak muda yang masuk dalam daftar angkatan kerja. Di sisi lain, angka pemutusan hubungan kerja (PHK) diperkirakan juga masih cukup tinggi.


 Artikel Lain
Si Mono yang Terbelah
Jurus Ampuh Memenangi Persaingan
Diet Baru Model Sampoerna
Nasib Theo Siapa Tahu
Awas, (Tahun) Anjing Galak!
Karena Makindo Adalah Gunawan Yusuf
Peluru Baru Salim
Sinarmas Bersinar Lagi
Seperti Gaya Seorang Eka Tjipta
Dipo dan Gagasannya
Menyedihkan, memang. Tapi, sekali lagi, keadaannya memang sungguh berat. Ferry Latuhihin, ekonom Bank Internasional Indonesia (BII), memperkirakan bahwa para bankir tetap akan kesulitan dalam mengucurkan kredit. Maklum, tingkat bunga dari bank sentral sepertinya tidak akan beranjak turun hingga akhir kuartal ketiga nanti.

Bank Indonesia (BI) memang bakal kesulitan menurunkan BI rate dan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Soalnya, Federal Reserve (The Fed) di Amerika diperkirakan masih akan menetapkan kebijakan moneter yang cukup ketat hingga akhir semester pertama 2006.

Selain itu, Hartadi A. Sarwono, Deputi Gubernur BI, juga menuturkan bahwa harga rata-rata minyak dunia sepanjang tahun 2006 diduga akan mencapai US$ 57 per barel—lebih tinggi dibanding rata-rata tahun 2005 yang US$ 53 per barel. Kenaikan harga rata-rata itu jelas membuat kebutuhan dolar pemerintah--untuk mengimpor minyak—menjadi lebih tinggi lagi.

Di sisi lain, penerimaan ekspor juga sulit diandalkan. Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan pertumbuhan ekspor Indonesia akan terus melambat hingga akhir tahun 2006. Bahkan, tren perlambatan itu sudah terjadi sejak Januari 2005, dari yang tadinya tumbuh 30% menjadi sekitar 19% pada Oktober.

Mudah ditebak, perlambatan itu dipicu oleh kenaikan ongkos produksi gara-gara naiknya harga BBM per 1 Oktober 2005. Sudah begitu, tuntutan kenaikan upah minimum juga memaksa dunia usaha melakukan pemutusan hubungan kerja sehingga kapasitas produksi tak bisa terpenuhi secara optimal.

Dantes Simbolon, Kepala Subdirektorat Statistik Ekspor Badan Pusat Statistik (BPS), juga menuturkan bahwa di akhir tahun 2005, pertumbuhan ekspor diperkirakan bakal tinggal 15% saja--dengan pencapaian nilai ekspor sekitar US$ 70,3 miliar. Di akhir tahun 2006 kelak, pertumbuhan ekspor diperkirakan hanya akan tinggal 10%. Pelemahan ekspor itu, pada gilirannya, akan turut membuat nilai tukar rupiah sulit diharapkan menguat seperti belakangan ini. Chatib Basri, Direktur LPEM FEUI, memperkirakan bahwa kurs rupiah sepanjang tahun 2006 akan berada di kisaran Rp 10 ribu per dolar. Tapi, Iman Sugema, ekonom lembaga riset Indef, menduga kurs itu akan sering melewati ambang Rp 10 ribu.

Jika sudah demikian, para pejabat BI di Kebon Sirih biasanya akan sangat cemas terhadap terjadinya inflasi. Alhasil, suku bunga bank sentral bakal sulit ditekan. Ujung-ujungnya, pembiayaan untuk investasi dan modal kerja bisa terhambat. Makanya investasi domestik masih sulit diharapkan bisa mendorong naiknya pertumbuhan.

Tak ayal, pertumbuhan di tahun 2006 pun akan kembali menumpukan harapan pada sektor konsumsi. Selama ini, lebih dari 60% pendapatan domestik bruto (PDB) kita memang berasal dari sektor ini. Di tahun 2006, BI memperkirakan pertumbuhan sektor konsumsi akan mencapai 5,7%.

Namun, patut diingat, kenaikan harga BBM dan terhambatnya kenaikan upah minimum membuat daya beli masyarakat kian tertekan. Bahkan, kalangan menengah ke atas pun kini tak bisa leluasa lagi dalam berbelanja. Buktinya terlihat dari melemahnya penjualan otomotif sebesar 40% pada Oktober 2005. Hingga akhir tahun nanti, target penjualan 500 ribu unit mobil sepertinya akan meleset. Makanya sejumlah ekonom memandang konsumsi rumah tangga tak bisa terus diharapkan--jika tidak diimbangi dengan investasi yang memadai.


Itu sebabnya Iman Sugema mendesak pemerintah memanfaatkan anggaran dalam jumlah memadai untuk dibelanjakan pada sejumlah pos yang bisa merangsang pertumbuhan ekonomi. Persoalannya, anggaran kita juga dibebani oleh kewajiban membayar utang—bunga plus pokok—yang teramat besar. Di Tahun Anjing Api kelak, beban utang itu memang masih menggunung. Nilainya mencapai sepertiga dari total anggaran. Itu sebabnya ekonom semacam Iman Sugema dan Revrison Baswir dari UGM, selalu mendesak agar pemerintah mengupayakan pemotongan utang luar negeri kepada negara-negara kreditor.

Namun, di luar beban utang yang menumpuk tadi, sebenarnya pemerintah juga punya duit yang lumayan dari hasil menaikkan harga BBM kemarin. Menurut Chatib Basri, dana yang bisa diamankan pemerintah dari pemangkasan subsidi itu tak kurang dari US$ 5 miliar. Sudah begitu, ada pula sisa anggaran tahun 2005 yang tak sempat terpakai karena stabilitas pemerintahan yang belum mapan. Artinya, peluang bagi pemerintah untuk menstimulasi perekonomian memang agak terbuka. Ferry Latuhihin bahkan menduga, kalau proyek infrastruktur yang digagas pemerintah jadi berjalan, maka pertumbuhan 6% mungkin bisa diraih.

Apalagi, Menteri Keuangan Sri Mulyani cukup yakin tentang masuknya investasi asing secara langsung (FDI) dalam jumlah yang lebih besar ketimbang tahun 2005 ini. Semoga saja keyakinan itu menjadi kenyataan. Sebab, kenaikan FDI dalam jumlah berarti biasanya efektif untuk mendongkrak PDB kita.

Masalahnya, kenaikan FDI itu pun sulit diharapkan bisa mengatasi problem pengangguran yang sudah begitu gawat. Hendri Saparini (ekonom dari lembaga riset Econit) menuturkan bahwa investasi asing biasanya membutuhkan sedikit tenaga kerja. Itu pun tenaga kerja terdidik. Padahal, kebanyakan angkatan kerja lokal berpendidikan pas-pasan.

Tak pelak, isu pengangguran memang bakal menjadi beban paling menonjol di sepanjang tahun 2006. Makanya Pande Radja Silalahi, ekonom senior CSIS, mengingatkan pemerintah untuk memperhatikan benar persoalan ini. Soalnya, kaum pengangguran—apalagi jika ditambah dengan bencana alam dan mewabahnya sejumlah penyakit—bisa menjelma bagai anjing-anjing galak yang dapat menciptakan gejolak sosial. Pada akhirnya, stabilitas ekonomi pun akan terganggu.

Bahkan, segala prediksi--yang sebenarnya kurang mengasyikkan—tadi mungkin juga tak bisa kita capai jika pemerintah kurang mampu mengatasi persoalan pengangguran tersebut.


Berikan Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id
  Copyright © 2002-2006 Majalahtrust.com. All Rights Reserved. Design by Proweb Indonesia