Jumat, 10 September 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
 
 

Medco Merambah Dunia

Eko Edhi Caroko, Hendra Gunawan, Sumi Fatimah S., dan Teguh Usia Imam
 
Tak ada yang lebih mensyukuri kenaikan harga minyak dunia selain produsen minyak seperti Medco Energi. Makanya, Medco pun terlihat semakin agresif sekarang. Akhir Januari lalu, produsen minyak yang didirikan Arifin Panigoro itu baru saja menemukan ladang minyak di Oman. Kapasitas produksinya nanti diduga akan lumayan besar, sekitar 18 ribu barel per hari. Medco pasti semakin kebanjiran rezeki.

Sebelum ini saja, Medco sudah memiliki kapasitas produksi minyak sekitar 60 ribu barel sehari plus 150 juta kubik kaki gas di ladang dalam negeri. Lalu, di Amerika--lewat perusahaan Novus yang baru dibeli akhir tahun lalu--ada 20 juta kubik kaki gas dan 500 barel minyak yang dapat ditambang setiap hari. Luar biasa!

 Artikel Lain
Duit dalam Kemelut
Pilih Salah Satu, Lalu Kocok Ulang
Fransiscus Welirang, Vice President Director PT Indofood Sukses Makmur:
Naga Asia Tak Pernah Berhenti Ekspansi
Medco Merambah Dunia
Ada Korupsi (Lagi) di Jamsostek?
Sulitnya Menjadi Tuan di Rumah Sendiri
Melacak Jejak Lama Sukanto Tanoto
Freeport Makin Repot
Bakal Dikuasai BRI Syariah

Eloknya lagi, kegembiraan itu masih akan berlanjut. Hilmi Panigoro, CEO Medco Energi Internasional, mengatakan, Medco akan menambah kapasitas produksinya dari ladang minyak yang ada di Libya. “Saat ini masih dalam tahap eksplorasi, mudah-mudahan akhir tahun 2007 sudah bisa berproduksi,” ujar Hilmi.

Tentu saja keceriaan itu menular. Mereka yang mengoleksi saham Medco di lantai bursa pun ikut tersenyum riang. Maklum, tahun ini Medco juga berencana memberikan dividen sebesar 40% dari keuntungan yang diperoleh, untuk tahun buku 2005.

Tak heran jika Hilmi Panigoro pun belakangan selalu terlihat sumringah. Apalagi, potensi pemasukan Medco ternyata tak hanya datang dari minyak semata. Akhir Januari lalu, Medco juga telah menyanggupi akan memasok kebutuhan gas untuk PT PLN dan PT PGN. Nilai kontrak tersebut senilai US$ 627,5 juta. Dua anak perusahaan Medco Group, yakni Medco E&P Indonesia serta Medco E&P Lematang, terlibat langsung dalam proyek yang masa kontraknya berlaku dari tahun 2007 hingga 2013.

Selesai? Belum. Soalnya, Medco juga belum mau berhenti menghasilkan pendapatan besar. Analis migas dari Danareksa, Bonny Budi Setiawan, mengatakan, Medco memang punya kelebihan. Perusahaan ini mampu mengeluarkan biaya hanya US$ 5 per barel untuk ongkos produksi minyaknya. Padahal, perusahaan lain bisa mencapai US$ 9-US$ 10.

Rahasianya, ujar Bonny, terletak pada teknik pengeboran minyak. Perusahaan lain akan terus mengebor sebuah sumur sampai benar-benar kering. Medco tidak begitu. Bila diperkirakan sebuah sumur sudah akan lantak, Medco akan pindah ke sumur lain. “Jadi dengan biaya yang sama Medco bisa mendapat lebih minyak,” kata Bonny.

Dengan kelebihan-kelebihan yang dimilikinya, tahun ini Medco pun bertekad menjadi perusahaan global. Tentu saja, rencana ini juga bakal dimulai dari bisnis Medco yang menyangkut energi. Bisnis yang satu ini akan banyak digarap di luar negeri. Pekan ini, Hilmi Panigoro pun bertolak ke sejumlah negara Afrika dan Timur Tengah untuk melakukan road show seputar rencana ekspansi perusahaan keluarganya tersebut.

Tak ayal, pendapatan usaha Medco dari unit bisnisnya di luar negeri akan semakin bertambah dalam tiga tahun ke depan. Saat ini baru 20% pendapatan Medco yang datang dari mancanegara. Nantinya, rasio itu akan berubah menjadi 60% dari dalam negeri dan 40% dari luar negeri. Hilmi bahkan sangat pede ketika mengatakan Medco akan tetap mendapat laba lumayan besar kendati harga minyak nanti turun ke level US$ 45 per barel. Kini, harga minyak masih sekitar US$ 55 per barel.

Artinya, Medco akan lebih bergelimang dolar. Lebih dari itu, menurut Hilmi, rating Medco juga akan terkerek. Selama ini, rating perusahaan itu di mata dunia internasional masih dianggap anak bawang. Di mata Standard & Poor’s serta Moody’s, dua lembaga pemeringkat terkemuka, peringkat Medco masih rendah karena banyaknya unit usaha yang berjalan di Indonesia--yang dianggap memiliki risiko besar.

Bagi Medco sendiri, masuk ke pasar internasional memang bukan hal baru. Strategi ini sudah dirintis sejak Desember 2005 lalu dengan dicatatkannya saham Medco di Pasar Modal Luxemburg. Kini sebanyak 42,6% saham Medco pun sudah dikuasai publik--termasuk yang melalui bursa Luxemburg tadi. Lalu, 50,7% saham perusahaan itu dimiliki Arifin Panigoro lewat perusahaan yang bernama Encore (Densico). Sisanya sebanyak 6,7% dikuasai pemegang saham berkategori lain-lain.

Jangan Asal Ekspansi, Dong…

Lantas, jangan salah, Medco itu tak hanya Medco Energi. Sejatinya, ada Group Medco yang memayungi nyaris seluruh bisnis Keluarga Panigoro. Di luar bisnis energi, Grup Medco juga sangat gesit. Dalam usaha finansial, misalnya, ada Bank Himpunan Saudara (HS) 1906, yang berencana akan melantai di bursa, Oktober nanti. Porsi saham bank yang akan dilepas itu berjumlah 30%. Dari sana, Bank HS diperkirakan akan mendapatkan dana segar sekitar Rp 50 miliar. Dana ini akan digunakan untuk penguatan sistem teknologi informasi dan perluasan jaringan.

Di bidang agrobisnis. Medco juga tampak serius. Februari lalu, Arifin sang pendiri--yang juga advisors Medco Energi--mengumumkan akan menginvestasikan dana Rp 3 triliun untuk memperluas perkebunan kelapa sawitnya di Kalimantan Tengah. Lewat investasi itu, luas lahan kebun tadi akan bertambah menjadi sekitar 100 ribu hektare.

Untuk menjamin setiap ekspansi itu sukses, Medco jelas tidak hanya mengandalkan feeling semata. Bukan juga sekadar ikut tren. Perusahaan ini juga memiliki divisi pengembangan bisnis (corporate growth) yang selalu mengkaji setiap peluang usaha yang bisa digarap. Yani Panigoro (Direktur Grup Medco) menuturkan, pada prinsipnya ada dua patokan buat Medco tatkala berekspansi. Pertama, bisnis yang dijalani harus menguntungkan. Kedua, bisnis itu mesti bisa mendukung usaha inti Medco di bidang perminyakan.

Itu sebabnya, Medco akan mendirikan pabrik etanol (biofuel) yang dibuat dari singkong yang mengandung racun (singkong nonkonsumsi). Perusahaan ini pun mengincar lahan ratusan ribu hektare di Kota Bumi, Lampung Utara, untuk dijadikan kebun “bensin tanam” itu. Tak kurang dari US$ 34,13 juta siap diinvestasikan dalam usaha ini. Harapannya pabrik baru itu akan menghasilkan 180 kilo liter etanol per hari. Untuk menjamin ketersediaan bahan baku, Medco bekerja sama dengan petani setempat. Yang jelas, pabrik ini akan siap berproduksi pada September 2007 nanti.

Tak salah jika Medco masuk bisnis energi hijau ini. Sebab, bisnis ini bukan hanya bisa meningkatkan citra perusahaan menjadi terlihat lebih peduli lingkungan. Lebih dari itu, energi hijau benar-benar merupakan bisnis masa depan. Sekarang saja, banyak pabrik otomotif dunia yang sudah mengembangkan kendaraan yang menggunakan biofuel. Bahkan di Amerika sudah ada ketentuan BBM untuk kendaraan minimal harus mengandung 5% biofuel. Di Brasil ketentuannya malah 20%.

Cyril Noerhadi, Chief Financial Officer PT Medco Energi, mengatakan, suatu saat nanti BBM fosil pasti akan habis. “Medco tidak boleh ketinggalan kereta dalam pengembangan energi alternatif ini,” ujarnya.

Pengembangan energi alternatif memang menggoda. A.B. Susanto, konsultan manajemen dari The Jakarta Consulting Group, menilai bisnis energi alternatif masih terkait dengan bisnis utama Medco. Jadi itu layak diteruskan.

Namun, untuk ekspansi usaha Medco yang lain, Susanto tampaknya agak cemas. Menurut Susanto, ada kecenderungan bisnis nonenergi Medco tidak didasarkan cetak biru yang jelas. Bisnis makanan dan hotel, misalnya.

Menurut sang konsultan, apa yang dilakukan Medco Group merupakan ciri khas perusahaan besar di negara berkembang. “Di negara macam itu, banyak peluang bisnis. Dan itu akan menggoda perusahaan besar untuk mencobanya meski harus keluar dari bisnis intinya,” kata Susanto.

Bagaimana jika Medco tetap mau melebarkan sayapnya? “Boleh saja.” Asal, mereka benar-benar mampu menjadi pemain di urutan pertama atau kedua dalam bisnis baru tadi. “Ya, seperti gaya General Electric (GE) dari Amerika,” ujar sang konsultan.

Advis yang bagus...


Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id
  Copyright © 2002-2006 Majalahtrust.com. All Rights Reserved. Design by Proweb Indonesia