|
|
 |
 |
|
 |
|
|
Duit dalam Kemelut
|
| Hardy R. Hermawan, Febry Mahimza, Agus S. Riyanto, |
| |
GAYA kepemimpinan yang sengak atau ambisi nan terkuburkan rasanya terlalu kecil untuk membuat BUMN seperti Telkom gonjang-ganjing. ”Ngapain ribut kalau urusannya cuma gituan, gak ada duitnya,” ujar seorang pejabat menengah Telkom.
Jadi, keributan ini ”ada duitnya?” Masuk akal. Sejumlah sumber TRUST mengakui, sengkarut itu memang melibatkan uang besar. Mereka menegaskan, ini terjadi lantaran adanya tender pembangunan 2.000 menara base transceiver station (BTS) TelkomFlexi di Divisi Regional alias Divre II (Jabotabek), Divre III (Jawa Barat-Banten), dan Divre VI (Kalimantan). Telkom sendiri menganggarkan duit Rp 670 miliar untuk proyek itu.
Awalnya, tujuh vendor diundang untuk mengikuti tender, yakni Siemens, Ericsson, Lucent, Motorola, Samsung, serta dua perusahaan Cina: Huawei dan ZTE. Siemens dan Ericsson tidak berminat. Lucent tidak mengembalikan formulir tender. Sedangkan Motorola menarik diri. Tinggallah Samsung, Huawei, dan ZTE.
Samsung sebelumnya mendapat proyek BTS di Divre V (Jawa Timur-Bali) melalui penunjukan langsung. Lewat negosiasi ketat, Telkom mendapatkan harga US$ 16 per line. Lantas, Huawei menang tender terbuka di Divre I (Sumatra) dan Divre IV (Jawa Tengah-DIY) dengan harga US$ 18 per line. Tender di Divre I dan IV dilakukan dengan cara e-auction. Prosesnya seperti lelang melalui komputer. Setiap peserta bisa banting-bantingan harga.
Namun, Huawei sekarang disebut-sebut kesulitan mengintegrasikan BTS-nya di Sumatra—dengan sistem lama yang dikembangkan Ericsson. Akibatnya, tagihan Huawei ke Telkom senilai US$ 50 juta menjadi tersendat—kendati kabarnya sempat ada sejumlah duit yang lolos lewat jalur belakang.
Nah, awal Agustus lalu, menjelang e-auction di Divre II, III, dan VI, datanglah surat kaleng yang mengatasnamakan ZTE Employee. Surat itu dikirim ke Telkom dan semua peserta tender. Isinya mendeskreditkan ZTE. Cara kotor. Surat itu mungkin datang dari dalam Telkom sendiri. Sebab, isinya berdasarkan proposal yang diajukan ZTE ke Telkom. Pihak lain pasti tak tahu isi proposal itu—termasuk karyawan ZTE.
Telkom mau saja melakukan klarifikasi atas surat kaleng semacam itu. Syahdan, itu lantaran adanya surat desakan dari Huawei dan Samsung. Nyatanya, tak ada satu pun dari enam butir isi surat kaleng itu yang terbukti. Panitia tender dan komisaris juga melakukan pengecekan. Tapi, Huawei dan Samsung malah mengundurkan diri. Tender itu batal. Telkom terpaksa melakukan tender ulang mulai pekan ini. Kalau sampai tiga kali tender batal, Telkom akan melakukan penunjukan langsung.
Syahdan, semua ini terjadi lantaran persaingan hebat antara ZTE dan Huawei. Dalam tender di Divre I dan IV lalu, ZTE kalah. Padahal, kabarnya, ZTE sudah mengeluarkan duit banyak untuk pejabat penting Telkom dan orang-orang dekat Presiden. Makanya ZTE ngotot ingin menang dalam tender ini. ”Mereka berani pasang harga hingga US$ 12 per line,” ujar seorang sumber.
Huawei sama bernafsunya. Mereka juga dekat dengan orang penting Telkom lainnya plus tiga pejabat teras kabinet. Spekulasi mengatakan, Huawei menebar duit ke mana-mana. Bagi Huawei, menang sekarang adalah keharusan. Jika ZTE menang, maka Huawei harus mengalah dan mengintegrasikan jaringannya di Divre I dan IV dengan jaringan ZTE di Divre II, III, dan VI. ”Rahasia dapur” Huawei bisa terbuka.
Huawei juga tak mau menang dengan harga murah. Sebab, itu akan memengaruhi nilai harga di Divre I dan IV yang—menurut perjanjian—bisa dievaluasi setiap tahun.
Samsung? Mereka juga punya motif menggagalkan tender. Soalnya, harga negosiasi Samsung di Divre V—yang US$ 16 per line merupakan harga terbaiknya. Kalau berpegang pada harga itu, tak mungkin Samsung menang. Tapi, kalau tender gagal terus sampai tiga kali, mungkin Samsung bisa mendapatkan penunjukan langsung lagi—minimal untuk Divre VI.
Nah, akan seperti apa proses ini nantinya? Entahlah. Yang pasti, Joseph Lembayung, Assistant Director Sales Huawei, menjamin bahwa Huawei akan tetap ikut dalam tender. Begitu juga suara President Director ZTE Indonesia, Jim Hou Chengyu. o
Berikan Komentar untuk artikel ini
|
|
 |
|
 |
Edisi 09 - 10 Tahun VI 31 Desember - 6 Januari 2007 |
 |
|
 |
|