Jumat, 12 Maret 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
 
 

Arwin Rasyid, Direktur Utama PT Telkom: ”Lebih Etis Saya Sampaikan ke Komisaris”

 
JUMAT malam pekan lalu, penampilan Arwin Rasyid sangat tenang. Sesekali, pria kelahiran Roma (Italia), 49 tahun silam, itu melempar senyum khasnya. Tak ada rasa khawatir sedikit pun tersirat di wajah bankir ini. Padahal, beban yang ditanggungnya amatlah berat. Ia dianggap tak cakap dalam memimpin PT Telkom. Bahkan, sejumlah koleganya di jajaran direksi dan komisaris telah meminta Menneg BUMN Sugiharto menggantinya. Pasalnya, Arwin dianggap tidak dapat bekerja sama dengan direksi lainnya.
Selain itu, Arwin juga dianggap menabrak aturan AD/ART dalam menempatkan empat orang dari luar Telkom (dua di antaranya WNA) pada sejumlah posisi strategis. Benarkah semua tudingan yang dialamatkan kepada dirinya? ”Sebenarnya, mudah saja bagi saya untuk menjelaskan semua masalah tersebut. Tapi lebih etis bagi saya untuk menjelaskan hal tersebut langsung ke komisaris atau pemegang saham,” ujarnya kepada Febry Mahimza dari TRUST, setibanya di Jakarta dari kunjungan ke Sumatra Barat. Berikut petikannya:


 Artikel Lain
Siapa Terpilih Duluan?
Mengungkap Teroris di Balik Pembalakan Liar
Jurus BNI Memotong Rugi
Bakrie Enggan Lama-Lama Berkubang
Arwin Rasyid, Direktur Utama PT Telkom: ”Lebih Etis Saya Sampaikan ke Komisaris”
Duit dalam Kemelut
Pilih Salah Satu, Lalu Kocok Ulang
Fransiscus Welirang, Vice President Director PT Indofood Sukses Makmur:
Naga Asia Tak Pernah Berhenti Ekspansi
Medco Merambah Dunia
BAGAIMANA TANGGAPAN ANDA ATAS SURAT DEWAN KOMISARIS KEPADA MENNEG BUMN?
Saat ini saya tengah berupaya menjelaskan duduk masalahnya kepada dewan komisaris. Rencananya, Selasa besok akan saya jelaskan semuanya.

DI TELKOM, ANDA DIANGGAP TERLALU MENGANDALKAN TELKOMSEL DIBANDINGKAN ANAK PERUSAHAAN LAINNYA….
Telkom itu memiliki sekitar 9 anak perusahaan yang masuk dalam konsolidasi. Ini merupakan sebuah peluang emas untuk meningkatkan kinerja Telkom secara grup dalam kurun waktu 5 tahun ke depan. PT Infomedia Nusantara, contohnya. Anak perusahaan yang bermain di bisnis call center itu kini sudah memiliki sekitar 4.000 agen di seluruh Indonesia. Saya berencana meningkatkan nilai bisnisnya. Sebab, industri call center di India per tahunnya bisa mencapai US$ 20 miliar. Caranya yakni dengan menjadikan Infomedia sebagai pilihan outsourcing bagi negara-negara tetangga.

LANTAS, BAGAIMANA DENGAN NASIB PT INDONUSA TELEMEDIA (TELKOM VISION)?
Saat ini, dari sekitar 55 juta rumah tangga di seluruh Indonesia, kurang lebih 28 juta di antaranya memiliki pesawat televisi. Dari 28 juta itu, 10 juta di antaranya berada di perkotaan. Saya optimistis bisa menggarap separuhnya (5 juta) karena mereka sudah menjadi pelanggan Telkom. Tetapi karena Indonusa sedang melewati fase restructuring di jajaran manajemennya, saya harus menempatkan orang yang terbaik untuk membenahinya. Sebab, selama 3-4 tahun beroperasi, sampai sekarang pelanggannya baru beberapa ribu saja. Itu masih kalah jauh dibanding Kabelvision dan Indovision. Itu sebabnya saya menempatkan David Burke, mantan petinggi Kabelvision, untuk bisa memajukan Telkomvision.

BUKAN BERARTI PENGEMBANGAN FIXED LINE DILUPAKAN?
Bukan dilupakan. Tapi secara teknologi, fixed line itu bisa digantikan dengan fixed wireless. Sebab, investasinya lebih murah. Kalau fixed lines dulu US$ 1.000 per line, sekarang US$ 300. Sementara, Flexi nilai equipment-nya saja sudah US$ 18 ke bawah. Total investasinya paling hanya US$ 30. Jadi, lebih murah. Sehingga, untuk masuk ke Indonesia Timur, kita tidak perlu memasang fixed line. Cukup ada tower yang mengeluarkan signal.

PERLU PERUBAHAN BUDAYA KERJA UNTUK MENGEMBANGKAN TELKOM DAN ANAK-ANAK PERUSAHAANNYA. ANDA YAKIN BISA MENGUBAH BUDAYA ITU?
Saya kira bisa, selama kita niat dan bertekad mencari orang-orang yang berpandangan sama. Sebagai seorang profesional, di mana pun kita berkarya, kita harus meninggalkan legacy (kenang-kenangan). Saya ingin membuat Telkom sebagai perusahaan yang makin profesional, menjalankan GCG (good corporate governance) yang tinggi, serta memiliki entrepreneur spirit.

INI KAN PERUBAHAN BESAR, TENTUNYA HARUS MENDAPAT BACK-UP DARI PEMEGANG SAHAM DAN PEMERINTAH….
Saya sudah banyak berkomunikasi dengan komisaris dan Sugiharto. Beliau tahu betul itu. o


Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id
  Copyright © 2002-2006 Majalahtrust.com. All Rights Reserved. Design by ProWeb APDesign