Rabu, 8 September 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Satu Hari Bersama Ciputra: Membuat Orang Kerasan di Rumah
Apa yang dilakukan para eksekutif di masa pensiunnya? Inilah salah satu dari mereka, ketika meninjau proyek di luar kota, di Surabaya

Andrianto Soekarnen
 
Bagi yang melihatnya dari luar, tak begitu jelas apakah ini perjalanan kerja atau rekreasi. Ciputra, pensiunan presiden direktur, berusia 71 tahun, Jumat pagi itu terbang dengan Garuda dari Jakarta ke Surabaya. Di Bandara Juanda, seorang direktur Citra Raya, perusahaan real-estate, sudah menjemputnya.

Ternyata, ini perjalanan kerja untuk suatu pekerjaan yang tampaknya secara fisik memang dekat dengan berekreasi. “Saya masih pebisnis. Jadi, karier masih penting bagi saya,” katanya dalam perjalanan menuju lokasi proyek Citra Raya, di pinggiran Surabaya.

 Artikel Lain
Heboh Playboy Melayu
Halal Haram Urusan Konsumen
Profesi: Menguji Pesawat agar Selamat
Ini Dia Gaya Berlibur Turis Arab
Satu Hari Bersama Ciputra: Membuat Orang Kerasan di Rumah
Menjadi Sehat di Tengah Krisis
Pensiunan Presiden Direktur PT Pembangunan Jaya ini bercita-cita menciptakan Bintaro-Jakarta di Surabaya. Lahan luas yang tersedia agak jauh dari jalan besar. Jalannya pun masih buruk. Karena Itu, mobil yang membawa mereka ke lokasi bergoyang-goyang. “Kami berpikir jangka panjang,” katanya.

Memang, kesulitannya banyak, mulai dari pembebasan tanah hingga pengadaan fasilitas. Tapi, katanya: “Jika Anda bisa mengatasi tantangan yang besar, itu akan menjadi kebanggaan.” Kota satelit mandiri di Surabaya ini memang masih nanti, 10 tahun lagi.

Orang yang sudah kenyang makan asam garam dunia pengembangan ini tahu benar bahwa soal real-estate bukan hanya membeli tanah dan membaginya menjadi kaveling-kaveling. Ia tak ingin membangun permukiman yang asalkan bisa dihuni. Kurang lebih, ia berambisi menciptakan permukiman dengan suasana home sweet home. Penghuni itu harus kerasan di rumah, ia mengungkapkan salah satu kiatnya ketika mobil mulai berputar-putar di lahan yang sebagian besar masih kosong itu.

Dan ini bukan cuma turne tanpa tujuan. Kadang-kadang, bos pengembang ini nyeletuk: sudut belokan itu harus diubah, tak enak untuk berbelok; tanah kosong itu ditanami saja dengan palem Amerika; ini bugenvilnya kurang rimbun. Dan banyak lagi hal yang ia kritik.


Klub Badminton

Dua jam kemudian, ketika matahari mulai condong ke barat, mobil pun menuju tempat makan siang yang sudah direncanakan. Dan ini bukan sekadar acara mengisi perut. Ciputra akan makan bersama Haris Supratno, Rektor Universitas Negeri Surabaya yang dulu bernama IKIP Negeri. Pak rektor itu perlu ditemui karena kompleks permukiman Citra Raya akan bertetangga dengan kampus universitas itu.
Sembari makan--Ciputra banyak minum juice belimbing dan memakan nasi dengan antara lain ayam goreng--mereka bicara soal pembangunan beberapa fasilitas bersama. Misalnya, pihak Citra Raya akan membangunkan gerbang kampus. Lalu, mantan Ketua Yayasan Jaya Raya--yayasan yang membantu kegiatan olahraga dan kesenian, antara lain, di Jakarta—ini mengusulkan agar dibentuk klub badminton baru mirip klub Jaya Raya Jakarta.

Kalau Anda ingin melihat profesi Ciputra sebenarnya, sebagai hasil dari sekolahnya di ITB, ini dia. Sekitar pukul 15.00, Ciputra mendiskusikan beberapa rancangan, antara lain rencana bentuk gerbang masuk kompleks dan beberapa bundaran. Ciputra kali ini tak cuma bicara, tapi juga mencorat-coret gambar-gambar rancangan itu dengan pensil. Ia menunjukkan betul keahliannya sebagai seorang pengembang. Ia tidak hanya membahas masalah filosofi perusahaan dan kebijakan besar, tapi juga masuk ke hal-hal yang detail. Dulu, di ITB, Ciputra memang pintar menggambar dan cekatan dalam bidang matematika--dua hal yang dia padukan dan hasilnya gelar insinyur teknik sipil.
Satu jam kemudian, salah satu pendiri Yayasan Prasetya Mulya itu memberikan ceramah di hadapan sekitar 35 manajer Grup Ciputra Surabaya. Temanya: menjadi manusia yang unggul. Kata-katanya bukan lagi soal teknis, tapi menjadi rangkaian kalimat yang memotivasi mereka untuk terus giat berkarya.

Kata Ciputra, bisnis properti Grup Ciputra tidak semata-mata bisnis mencari keuntungan. “Kelompok Ciputra membangun properti untuk membantu masyarakat mendapatkan perumahan yang layak,” tuturnya. Meski begitu, bukan berarti berbisnis boleh merugi. “Bisnis harus untung, supaya kita bisa mengembangkan yang lain lagi.”
Lalu, ia ceritakan bahwa Taman Impian Jaya Ancol di Jakarta bukan semata-mata diadakan untuk mencari keuntungan, tapi juga untuk memberikan sarana hiburan kepada rakyat. Gagasan ini, konon, diilhami pengalaman pribadi Ciputra ketika masih mahasiswa. Mungkin karena susah mencari tempat, ia lalu berpacaran di Gedung Sate, Bandung. Satpam mendatangi sapasang muda-mudi yang tengah asyik mengobrol itu, menanyakan macam-macam, dan akhirnya mengusir mereka.


Sedetail-detailnya

“Padahal, kami cuma duduk-duduk saja,” katanya. Di samping sakit hati, muncul cita-cita di hatinya. Ia ingin membuat taman yang nyaman tempat muda-mudi berasyik masyuk tanpa diganggu satpam. Jadilah Taman Impian Jaya Ancol itu, yang semula rawa tempat jin buang anak. Dan bukan cuma mereka yang hanya duduk-duduk berpacaran yang tak diganggu, transaksi dan praktik jual-beli cinta sesaat di Ancol pun ditanggung aman.

Setelah ceramah, barulah Ciputra mengakui bahwa berusia kepala tujuh memang berbeda dengan ketika masih berkepala lima. Ia tampak capek, dan acara golf pun dibatalkan. Repotnya, ada kebiasaan yang terbawa sampai sekarang: terbangun tengah malam. Dulu, inilah jam-jam ia memikirkan apa yang harus ia kerjakan esok harinya. “Orang yang tidur nyenyak sampai pagi, baru esoknya ia berpikir. Saya sudah memikirkannya semalam,” katanya seraya mengenang. Kini, mungkin tak terlalu banyak lagi yang ia pikirkan. Pada jam-jam terjaga itu, Ciputra biasanya berdoa. “Saya hamba Tuhan, tapi tidak setia,” ujarnya.

Kisahnya, di zaman krisis mulai melanda, Grup Ciputra terlilit utang. Pengembang kawakan ini pun baru merasakannya meski sudah mengerti bahwa “hidup dan kekayaan sama sekali tidak kekal.” Sejak saat itu, tiada hari tanpa berdoa.
Jadi, utangnya sudah lunas? Belum, baru sebagian yang ia bayar. “Tapi malunya tidak tertahankan,” katanya, sambil mengenang ketika ia harus mengaku tidak bisa membayar utang pada waktunya, dan karena itu harus dijadwal ulang.
Hidup pun harus berhemat. Ia pindahkan kantornya dari Gedung Jaya di Jalan Thamrin ke sebuah bangunan kecil di Jalan Casablanca. Di Garuda tadi pagi, Ciputra beserta salah seorang menantunya pun hanya duduk di kelas bisnis.
Apa yang dipikirkan Ciputra suatu malam di Surabaya itu, di vila di lapangan golf? Ia sebenarnya bukannya mau main golf, melainkan mencoba “enak-tidaknya” lapangan itu sehingga tak mengecewakan pelanggan. Sebagaimana dalam hal properti, dalam hal golf pun Ciputra paham hingga ke detail-detailnya. Kata Margiman, General Manager Ciputra Golf & Klub Keluarga, esok harinya: “Pak Ci paham hingga urusan mesin pemotong rumput.”

Ciputra seperti tak mengenal masa pensiun. Menurut presiden direktur yang baru pensiun pada usia 65 tahun itu: “Apa pun, kalau dikerjakan dengan senang hati, itu namanya istirahat juga.” Konon, pencinta lukisan Hendra Goenawan--salah seorang angkatan peletak batu pertama seni rupa modern Indonesia—ini memperoleh “filosofi” tersebut dari para pelukis. Pelukis, katanya, karena ketika bekerja dengan gembira, ya seperti tidak bekerja, tapi “istirahat.”
Bahagiakah Ciputra--bapak empat anak dan kakek dari sembilan cucu--dengan segala yang telah dicapainya? Katanya, ia akan merasa lebih bahagia lagi bila orang Indonesia bisa menikmati masa pensiun sebagaimana dirinya: tetap gembira dalam bekerja.


Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id