Jumat, 3 September 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Profesi: Menguji Pesawat agar Selamat
Tidak mudah menjadi test pilot. Selain dibutuhkan jam terbang tinggi, pendidikannya harus ditempuh di luar negeri. Peminatnya pun masih sedikit.

Lutfi Yusniar dan A. Sidarta (Bandung)
 
Dalam rancang bangun pesawat terbang, selain teknisi yang andal dan profesional, faktor lain yang paling menentukan adalah uji terbang. Ini penting karena merupakan tahap pengujian kualitas hasil rancangan. Atau, istilah kerennya, setelah jadi, proses inilah yang menentukan apakah pesawat tersebut laik terbang atau tidak.

Hanya Direktorat Sertifikasi dan Kelaikan Udara, Dirjen Perhubungan Udara, Departemen Perhubungan, yang berhak melakukan pengujian dan mengeluarkan sertifikasi kelaikan terbang. Aturan ini diadopsi dari lembaga administrasi penerbangan di Amerika atau Federal Aviation Administration (FAA).

 Artikel Lain
Heboh Playboy Melayu
Halal Haram Urusan Konsumen
Profesi: Menguji Pesawat agar Selamat
Ini Dia Gaya Berlibur Turis Arab
Satu Hari Bersama Ciputra: Membuat Orang Kerasan di Rumah
Menjadi Sehat di Tengah Krisis

Tapi tak banyak yang tahu bahwa sebuah pesawat laik terbang atau tidak ditentukan oleh segelintir orang. Mereka adalah orang-orang yang punya keahlian khusus dalam melakukan uji terbang. Satu di antaranya adalah Kapten Christian Tandirerung Bisara. Di kalangan awak penerbangan, ia dikenal sebagai inspektur penerbangan (flight inspector) berpengalaman dan profesional. Pengakuan profesinya ini datang dari Nav-Aid Amerika, International Civil Aviation Organization (ICAO), dan FAA.

Dengan profesi seperti itu, Christian berhak menilai apakah pesawat, baik yang baru dibeli atau dibuat di dalam negeri, laik terbang atau tidak. Boleh dikata, profesi yang digeluti Christian ini merupakan jenjang berikutnya dari test pilot alias bos para test pilot. Namun untuk mendapatkan predikat inspektur penerbangan, memang tidak mudah.

Untuk mengetahui berbagai karakter pesawat, Christian harus mengikuti banyak pelatihan terbang berbagai jenis pesawat. Misalnya, pesawat jenis King Air, Falcon 20F, Gulfstream G-III dan G-IV (sebagai tim validasi di Savannah, AS), Dash-7, Citation II, Canadair CL-44, dan Canadair 601-3A Challenger. Sementara itu pesawat-pesawat Garuda yang pernah diuji Christian di antaranya F-27, DC-10, A300-B4, dan B747-400. ”Biar tidak dibohongi oleh anak buah,” ujarnya.

Nah, orang-orang yang berprofesi sebagai test pilot ini hanya bisa dijumpai di PT Dirgantara Indonesia (dulu bernama Nurtanio), Bandung. Yang menarik, ada satu test pilot yang berjenis kelamin wanita. Ia adalah Kapten Pilot Esther Gayatri Saleh. Profesi ini digelutinya sejak ia masuk ke Nurtanio pada 1984 atau 19 tahun silam.

DIBUTUHKAN AKURASI YANG TINGGI
Esther mengakui, profesi test pilot memang berat. Dikatakan berat karena pekerjaannya didasarkan pada tingkat presisi atau keakuratan yang tinggi. Namun ia berhasil menjadi satu-satunya wanita test pilot di Indonesia yang mempunyai jam terbang di atas 5.000. Saat ini, ia dan 12 test pilot anak buahnya membawahi 5 helikopter dan 8 pesawat.

Ihwal pekerjaannya, Esther mengatakan bahwa itu semua tergantung pada permintaan pelanggan. Artinya, untuk melakukan satu mission flight testing (misi uji terbang), biasanya berdasarkan permintaan khusus dari pelanggan. Mereka ingin mengetahui kemampuan pesawat yang akan dibelinya. ”Uji terbangnya tetap mengacu pada kriteria yang sudah ada, baik dalam spesifikasi militer maupun sipil,” ujar wanita kelahiran Palembang, 41 tahun silam.
Sebelum uji coba terbang dilakukan, berbagai prosedur harus ditempuh oleh seorang test pilot. Di antaranya menganalisis data-data awal (preliminary data analysis) dari subyek yang akan diuji yang diberikan oleh spesialis. Hasil analisis tersebut kemudian dibahas dan diserahkan ke flight test engineer untuk dibuatkan flight test sequence (panduan tes terbang).

Kemudian, dilanjutkan dengan pertemuan dewan keselamatan uji terbang (flight test safety board). Materi yang dibahas biasanya berkaitan dengan teknik uji terbang (flight test technique) dan tujuan dilakukannya uji terbang (flight test objective) tersebut. Pertemuan ini menjadi penting ketika ditemukan hal-hal yang tidak diharapkan. ”Maka langkah penyelamatan langsung disiapkan,” ujar Esther. Semua prosedur tersebut dikaji dan diteliti secara detail agar keselamatan dan keberhasilan selama uji terbang dari pesawat tersebut bisa dicapai secara maksimal.

Jika semua prosedur telah dilakukan, barulah dilakukan uji terbang yang melibatkan para kru (flight test crew). Biasanya para kru ini terdiri dari test pilot, flight test engineer, dan onboard specialist (mission specialist). Uji terbang sering kali dilakukan pada pagi hari dan dipantau oleh para ahli dari berbagai disiplin ilmu.

Mereka memonitor setiap gerak terbang pesawat secara online melalui monitor komputer dengan test aircraft yang terpasang pada menara uji coba. Artinya, dalam setiap uji coba terbang, keselamatan penerbangan (flight safety) merupakan prioritas. ”Ini dipakai guna memperoleh data yang akurat bagi test aircraft,” kata Esther. Data tersebut dilaporkan ke Direktorat Sertifikasi dan Kelaikan Udara untuk ditentukan apakah pesawat tersebut laik terbang atau tidak.

TAK BISA INSTAN
Esther juga menjelaskan bahwa ada beberapa tes yang harus dilakukan oleh seorang penguji pesawat. Antara lain, experimental test atau uji terbang pesawat yang masih dalam tahap eksperimen. Lalu, development test, uji coba terbang pengembangan dari performance pesawat yang ada. Ada juga maintenance test atau uji coba pesawat setelah dilakukan perawatan.

Berikutnya, production test atau uji coba terbang setelah pesawat mendapat sertifikasi menjadi massive production. Lalu, ada demonstration flight, yaitu flight display pada setiap airshow yang memperlihatkan kemampuan terbang pesawat yang akan dijual. Nah, yang terakhir adalah airline pilot atau pilot yang melakukan terbang dalam komunitas airline. ”Itu semua sudah saya lalui,” kata Esther dengan bangga.

Semua pengalaman itu tak diperolehnya begitu saja. Setelah masuk Nurtanio, Esther menempuh pendidikan di Sawyer School of Aviation, Phoenix Arizona, Amerika Serikat. Ia berhasil memperoleh sertifikat Commercial Pilot License serta Ground Instructor. Pada 1989, Esther harus sekolah lagi untuk memperoleh sertifikat Flight Instructor yang dikeluarkan oleh FAA. Pada tahun yang sama, Esther memperoleh sertifikat Airline Transport Pilot License FAA.

Untuk mengasah kemampuannya, Esther harus melakukan serangkaian tes penerbangan guna menambah jam terbangnya yang hanya 200 jam ketika masuk Nurtanio. Berbagai pesawat pernah diujinya, mulai jenis Cessna, Cassa, Super Decathlon, hingga Christen Eagle (pesawat aerobatik). Selain itu, dia juga bertugas sebagai pelatih pilot dari pembeli pesawat buatan Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN), seperti Thailand, Brunei, Malaysia, Uni Emirat Arab, dan Korea Selatan serta berbagai maskapai penerbangan swasta nasional. ”Mungkin ini yang menjadi kendala mengapa profesi tersebut kurang diminati oleh para wanita,” ujar Esther.

Esther mungkin benar. Tapi, setidaknya, ia telah membuktikan bahwa profesi test pilot bisa menjadi profesi yang cukup menjanjikan bagi wanita. Siapa mau mencoba?

Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id