Jumat, 3 September 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Temasek

 
SINGAPURA dewasa ini boleh dibilang si kecil yang teramat raksasa. Negeri pulau ini luasnya cuma selebar Kota Jakarta, tapi pendapatan penduduknya sudah lebih dari US$ 20 ribu per kepala per tahun. Sementara Indonesia, meskipun memiliki orang-orang kaya yang dahsyat, penduduknya masih hidup dengan GNP di bawah US$ 2.000.
Negara dengan penduduk sekitar tiga juta jiwa ini juga menerima investasi asing yang melimpah ruah. Tapi tidak selamanya posisi Singapura menguntungkan. Ekonomi negara ini amat rawan terhadap perubahan dari luar. Tahun 1985, misalnya, ketika dunia dilanda resesi, perekonomian Singapura babak belur akibat lesunya investasi dan perdagangan.
Pengalaman pahit itu rupanya memberikan pelajaran yang sangat berharga. Singapura harus berdiri di atas kakinya sendiri, begitu tekad para pemimpinnya. Tapi, kemungilan ukuran dan terbatasnya sumber daya—baik alam maupun manusia—membuat Singapura seperti tidak punya kaki yang kukuh. Ia tidak bisa leluasa bergerak.

 Artikel Lain
Apa Kabar Koperasi
Liberalisasi
OKB
Privatisasi Superholding
Temasek
Spekulan
Erosi Kepercayaan
Upah Buruh vs Inflasi
Memutasikan Bisnis Semen
Berharap pada Yen
Jalan keluarnya ternyata cukup sederhana: meminjam kekuatan ekonomi negara tetangga. Ide growth triangle alias segitiga pertumbuhan yang melibatkan Indonesia dan Malaysia, merupakan ide Singapura untuk memindahkan industrinya yang kurang memiliki nilai tambah ke luar negeri. Ketika Cina membuka diri terhadap dunia luar, Singapuralah yang paling agresif menanamkan investasinya di sana. Tak hanya ke Indonesia, Malaysia, dan Cina, Singapura juga melebarkan sayapnya ke Thailand dan India.
Di Indonesia, Temasek melebarkan bisnisnya di industri yang cukup strategis, seperti per-bankan, telekomunikasi, perkebunan, dan belakangan ke sektor otomotif. Di sektor keuangan, Temasek paling tidak memiliki saham di lima bank swasta (Danamon, BII, Permata, NISP, dan Buana). Sementara di industri telekomunikasi, Temasek tercatat sebagai pemilik Indosat dan Telkomsel. Temasek juga masuk ke sektor perkebunan dan otomotif.
Dengan begitu banyaknya perusahaan nasional yang diambil Temasek, tak heran bila seorang pengusaha berkomentar, ”Sekarang Indonesia sudah menjadi milik pemerintah Singapura.” Benarkah? Bisa benar, mengingat perusahaan Indonesia yang dikuasai Temasek kian hari kian banyak dan beragam. Komentar itu juga valid, mengingat besarnya pengaruh perusahaan-perusahaan milik Temasek pada dunia bisnis nasional.
Tapi, apakah kita bisa melihat Indonesia secara statis? Tentu tidak. Perkembangan kelompok usaha Temasek bagaimanapun amat tergantung pada kebijakan pemerintah. Masalahnya, kehadiran Temasek saat ini sudah telanjur kukuh. Di sektor perbankan, misalnya, kekayaan lima bank milik Temasek sudah mencapai total Rp 200 triliun lebih atau sekitar 12% dari seluruh aset bank yang ada di Indonesia. Sementara itu, Indosat dan Telkomsel menguasai lebih dari 50% pasar seluler di Indonesia. Keperkasaan Astra juga tak diragukan lagi. Sekitar 40% pasar mobil nasional dikuasai perusahaan ini.
Dalam sejarah ekonomi Indonesia, perusahaan besar biasanya cenderung menguasai produksi dan pasar. Tapi yang lebih mengkhawatirkan lagi jika suatu saat nanti hubungan Indonesia-Singapura tidak harmonis. Bisa dibayangkan, apa yang akan terjadi pada perekonomian Indonesia bila tiba-tiba Singapura ”ngambek”. Tak heran bila ada yang mengusulkan agar ekspansi Temasek di Indonesia dibatasi. Pemerintah juga harus mencegah terjadinya akumulasi modal yang menjurus pada terbentuknya oligopoli.
Oligopoli, atau apa pun namanya, memang jelek karena produksi dan penawaran barang hanya dikuasai segelintir pemilik. Kecenderungan konsentrasi kekuatan ekonomi pada satu kelompok juga akan mempersulit kedudukan pengusaha kecil. Tapi, harus diakui, tak mudah mengendalikan perusahaan raksasa. Indonesia akan menanggung risiko tersendatnya pertumbuhan ekonomi bila PMA seperti Temasek dibatasi ruang geraknya.
Akhirnya, yang bisa kita lakukan adalah merenungi kebodohan kita sendiri. Mengapa Indonesia yang kaya sumber alam bisa kalah dari Negara Kota yang tak memiliki apa-apa. 


Berikan Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id