Jumat, 10 September 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

OKB

 
PEKAN lalu, ada dua berita yang cukup mengejutkan. Yang pertama datang dari Bursa Efek Jakarta. Sekitar 20 broker diindikasikan gagal bayar dalam pembelian saham PT Agis Tbk. Berita kedua tentang hasil survei Merrill Lynch. Menurut hasil kajian Merrill Lynch, Indonesia merupakan negara keempat yang paling banyak menciptakan orang-orang kaya baru (OKB) sepanjang 2006, setelah Singapura, India, dan Rusia.
Sejak sebelas tahun lalu, Merrill Lynch bersama Capgemini (penyedia jasa teknologi dan lain-lain) secara teratur melakukan survei orang-orang terkaya di dunia. Kriteria kaya menurut survei perusahaan konsultan dan manajemen keuangan yang punya kantor di 35 negara ini adalah mereka yang nilai kekayaan pribadinya minimal US$ 1 juta (di luar aset rumah pribadi) dalam bentuk uang tunai, saham, obligasi, dan lainnya.
Lantas, apa hubungannya antara hasil survey Merrill Lynch dengan berita gagal bayar 20 broker di BEJ? Mungkin tidak ada kaitannya, tapi juga bisa ada. Sebab, survei ini menyimpulkan, pada umumnya orang-orang kaya tersebut adalah para investor yang bermain di pasar modal. Mereka lazimnya orang-orang yang tak begitu peduli pada ”krisis politik”, yang tak takut mencairkan deposito dan memindahkannya ke bursa efek.

 Artikel Lain
Walau Cuma Sehari
Liga Inggris
Apa Kabar Koperasi
Liberalisasi
OKB
Privatisasi Superholding
Temasek
Spekulan
Erosi Kepercayaan
Upah Buruh vs Inflasi
Ciri lain orang-orang yang berhasil meraih US$ 1 juta atau lebih itu tak begitu saja mau percaya pada nasihat pialang saham. Mereka ini begitu pintar menginvestasikan uangnya setelah mendengar dari sana-sini dan kemudian memilih investasi yang menurut perhitungannya tak begitu bergejolak untung-ruginya. Salah satu yang membuatnya kaya karena mereka bermain di investasi yang disebut hedge funds, yang relatif dijamin aman.
Pertumbuhan ekonomi yang kuat di India dan Singapura, plus pertumbuhan Rusia yang membaik di luar dugaan, memang telah memberikan suntikan kepada beberapa kelompok orang yang berdasarkan kriteria Merrill Lynch termasuk berstatus kaya. Selain di surat-surat berharga, sekitar 24% dari mereka menanamkan dananya dalam bentuk real estate, yang sepanjang 2006 mengalami peningkatan harga dua kali lipat (200%).
Bagaimana dengan Indonesia? Kemungkinan mereka menjadi OKB berkat pasar modal. Kalau melihat perkembangan BEJ dalam setahun terakhir ini, peluang untuk menjadi kaya mendadak dari jual-beli saham memang sangat besar. Saat ini pertumbuhan earning per share (EPS) rata-rata perusahaan di Indonesia mencapai 25% lebih. Posisi ini menempatkan Indonesia sebagai negara dengan pertumbuhan EPS terbesar dibanding Singapura (8%), Malaysia (14%), Thailand (6%), dan India (15%).
Untuk dapat berinvestasi di pasar modal, kini para investor pun tak butuh uang besar. Bahkan dengan Rp 250.000 kita sudah dapat bermain saham melalui pojok–pojok BEJ yang tersebar di Indonesia. Yang menarik lagi, para investor dapat melakukan transaksi dengan jumlah tiga kali dari modal yang dimilikinya. Bahkan ada beberapa broker yang mengizinkan nasabahnya melakukan transaksi lebih dari enam kali modalnya.
Tapi jangan lupa, tidak ada satu pun usaha yang tidak memiliki risiko. Pasar modal menjanjikan keuntungan yang berlipat ganda, tetapi juga memiliki risiko yang besar. Betul, kinerja perusahaan memengaruhi nilai suatu saham di pasar modal. Selebihnya berlaku hukum pasar biasa: harga tergantung hukum permintaan-penawaran. Begitu terjun ke pasar modal, saham sebuah perusahaan dipengaruhi tingkah laku penjual-pembeli, diperbandingkan dengan instrumen investasi seperti emas dan uang, dihadapkan dengan perhitungan-perhitungan ekonomi dan situasi politik.
Karena itu, banyak yang beranggapan bahwa investasi di pasar modal hanya sebagai ajang spekulasi. Mereka beranggapan pergerakan harga saham tidak dapat diprediksi dan sama sekali tidak mencerminkan kinerja perusahaan sesungguhnya. Ini juga yang terjadi dengan saham Agis. Bukan lantaran kinerjanya yang bagus, hanya dalam tempo kurang dari lima bulan saham distributor barang-barang elektronik ini naik hingga 1.000%.
Pekan lalu, oleh satu dan lain sebab, terjadi hiruk-pikuk yang membuat sekitar 20 broker gagal bayar. Dalam kasus saham Agis, memang sejumlah investor rugi besar, tapi ada beberapa orang yang kaya mendadak karena berhasil meraup untung puluhan miliar rupiah. Orang ini besar kemungkinan tahun depan akan masuk daftar OKB versi Merrill Lynch. 


Berikan Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id