|
|
 |
|
Liga Inggris
|
|
| |
BERMACAM-MACAM keluhan dan kekesalan, hari-hari ini, tampaknya akan banyak terdengar dari para penggemar sepak bola di Tanah Air. Maklum, terhitung 11 Agustus kemarin mereka tidak bisa lagi menyaksikan siaran langsung Liga Inggris lewat stasiun TV lokal secara cuma-cuma. Untuk menikmati aksi para pemain Manchester United atau Liverpool, umpamanya, kini setiap bulan mereka harus membayar Rp 200.000 kepada Astro sebagai memegang hak tayang Liga Primer untuk wilayah Indonesia.
Bagi kalangan berduit, uang sebesar itu mungkin tak berarti apa-apa. Tetapi bagi jutaan penggemar Liga Inggris di Indonesia, yang kebanyakan berasal dari kalangan menengah-bawah, jumlah itu cukup memberatkan. Apalagi sejak Liga Inggris ditayangkan di Indonesia pada akhir tahun 80-an, mereka tidak pernah dipungut bayaran satu rupiah pun. Asal kuat begadang di depan TV, pemirsa bisa sepuas-puasnya menyaksikan pertandingan Liga Inggris, baik yang langsung maupun siaran tunda.
Daya tarik Liga Inggris di Indonesia memang luar biasa. Walaupun ada liga-liga lainnya, seperti Italia, Spanyol, dan liga di dalam negeri, Liga Inggris-lah tampaknya yang paling banyak mendapat perhatian dari masyarakat. Mungkin tak satu pun acara di televisi yang dapat menandingi acara sepak bola untuk jumlah pemirsa. Tiap pertandingan bola yang ditayangkan televisi, pasti ditonton jutaan pemirsa, dari segala usia dan kelas sosial.
Walaupun prestasi persepakbolaan Indonesia tak begitu bagus, namun pencinta olahraga yang satu ini sangat luar biasa. Khusus untuk Liga Inggris, jutaan pasang mata akan melotot di depan TV. Jumlah pemirsa bola itulah agaknya yang mendorong Astro maju bersaing dengan sekitar 450 perusahaan lain untuk memperebutkan hak tayang pertandingan Liga Inggris. Mereka tak hanya mendapatkan hak siar saja, tapi juga tayangan tambahan yang dibuat English Premier League (EPL) alias Liga Inggris.
Tidak diketahui, berapa uang yang telah dikeluarkan oleh televisi berbayar ini. Tapi, kabarnya, para pemenang tender telah mengeluarkan uang antara US$ 50 juta hingga US$ 150 juta untuk mendapatkan hak tayang selama tiga musim (2007-2010). Itu berarti Astro paling sedikit telah mengeluarkan biaya US$ 50 juta atau sekitar Rp 475 miliar.
Kendati sudah mengeluarkan biaya yang cukup besar, banyak orang yakin Astro bakal mengeruk keuntungan yang lumayan besar dari acara Liga Inggris. Mari kita hitung. Jika satu musim kompetisi rata-rata berlangsung selama delapan bulan, berarti hak siaran tadi berlaku untuk 24 bulan saja atau dua tahun. Jika dihitung per bulan, maka biaya yang ditanggung Astro cuma sekitar Rp 20 miliar. Dengan biaya langganan Rp 200 ribu, sedikitnya TV kabel ini setiap bulannya harus mendapatkan 100 ribu pelanggan.
Target yang tidak terlalu besar untuk negara yang berpenduduk 220 juta jiwa. Apalagi, kabarnya, Astro sendiri saat ini sudah memiliki pelanggan sekitar 80.000. Pendapatan Astro ini bisa kian membengkak bila perusahaan besar yang sudah terbiasa mensponsori pertandingan bola, seperti rokok Djarum Super, juga ikut beriklan.
Di saat situasi ekonomi seperti sekarang, biaya berlangganan yang dipatok Astro memang terasa memberatkan. Tapi, bagi sebagian penduduk Indonesia, sepak bola sudah seperti candu. Karena itulah, rasa-rasanya akan banyak orang yang rela menyisihkan sebagian uang belanjanya demi menikmati tontonan menarik Liga Inggris.
Yang jadi masalah, sampai saat ini jaringan Astro masih terbatas di kota-kota besar. Itu berarti penduduk di daerah-daerah terpencil—apalagi yang berada di pulau-pulau—tetap tidak bisa menikmati tontonan Liga Inggris walaupun dari segi keuangan mereka sebenarnya mampu berlangganan TV berbayar. Inilah mungkin yang banyak dikeluhkan para penggemar Liga Inggris di Indonesia dan mereka yang mempunyai jiwa judi.
Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini
|
|
 |
|
 |
Edisi 09 - 10 Tahun VI 31 Desember - 6 Januari 2007 |
 |
|
 |
|