Minggu, 14 Maret 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
 
 

Merdeka dengan Kisah Sukses
Memperingati ulang tahun ke-58 Proklamasi Republik Indonesia,

Bambang Bujono, Kelik Prakosa
 
Mendengarkan pidato tentang ekonomi yang membaik di tahun 2003 ini, berjalan-jalan di sekitar mal dan kafe-kafe mahal, menghadiri acara sekelompok pengusaha penggemar lukisan, serta merasakan kemacetan lalu-lintas Jakarta, mau tak mau adalah suatu optimisme yang muncul. Lanskap lebar itu adalah pemandangan yang jauh dari muram, seolah-olah hendak membantah bahwa sekitar 20 juta (ini angka dari pemerintah, 9,1%) warga tak punya pekerjaan, sejumlah pabrik belum lagi berjalan, dan belum juga masuk investasi yang signifikan.

”Sampai dengan pertengahan tahun 2003, kita bersyukur melihat perkembangan ekonomi yang terus bertambah baik…. Laju inflasi juga dapat diturunkan hingga pada tingkat yang cukup rendah. Cadangan devisa kita juga terus menguat, bahkan jauh di atas posisi masa-masa sebelum krisis. Nilai rupiah yang terpuruk juga telah mengalami penguatan secara bertahap. Tingkat suku bunga terus menunjukkan arah yang menurun sehingga diharapkan dapat menggerakkan kembali kegiatan sektor riil.”

 Artikel Lain
Kembalikan Orde Baru (?)
Biar Perang, Tak Makan Korban
Dari Sapi Sampai Orang Asing
Maukah belajar dari penjajah dan asing?
Merdeka dengan Kisah Sukses
INDONESIA YANG DITINGGALKAN DUNIA?
Segelintir teladan di tengah lumpur
SHOWBIZ, SHOWBIZ, SHOWBIZ,
Ketika Nelayan Harus Membunuh
Yang Mencoba Tidak Menyerah dan Tidak Lari

Begitulah Presiden Megawati menyampaikan pidato kenegaraan di depan DPR, Jumat pekan lalu. Alasan tren membaiknya ekonomi itulah yang membuat Indonesia berani mengakhiri kontrak kerja sama dengan IMF. Yang dipilih, pemantauan pascakerja sama dengan IMF.

Tapi di sebuah negeri berkembang seperti Indonesia, kaitan antara ekonomi dan politik sulit diabaikan guna melihat seberapa jauh membaiknya ekonomi itu bisa bertahan. Sebuah lembaga bernama Lehman Brothers dan Eurasia Group melakukan studi tentang stabilitas ekonomi dan politik di 16 negara berkembang. Majalah The Economist mengutip hasilnya. Menurut analisis dua lembaga itu, Indonesia berada di tingkat ke-16 alias paling buruk stabilitas ekonomi dan politiknya. Bila angka 100 menunjukkan stabilitas terbaik, Indonesia sampai pertengahan tahun 2003 berada di bawah angka 50. Di atas Indonesia, antara lain, Filipina, Brasil, Thailand, Meksiko (lihat tabel).

Ibarat orang yang baru saja sembuh dari sakit, Indonesia masih harus cek ke dokter secara berkala. Kondisi seperti ini masih rawan guncangan. Dua pekan lalu bom meledak di Hotel JW Marriott, dan langsung hunian hotel bintang empat dan lima di Jakarta, terutama, menurun 10%. Itulah hasil pantauan Asosiasi Hotel Internasional di Jakarta yang beranggotakan 28 hotel.

Di luar faktor itu, katakanlah nyata, ada hal-hal yang bergerak sebagai krisis tersembunyi—yang pada akhirnya akan muncul juga ke permukaan. Dikatakan tersembunyi, karena krisis itu di luar dugaan dan terjadi ketika optimisme sedang naik daun (kurang-lebih sebagaimana optimisme yang terkandung dalam pidato Presiden).

PELAJARAN DARI KRISIS
Sebenarnya itu sudah berlangsung di Indonesia, meski hanya bagaikan badai yang tak begitu besar yang lewat hanya sekejap. Itulah ketika rupiah menguat secara mengesankan. Untunglah itu hanya terjadi sangat sebentar dan segera orang berganti sikap dari gembira menjadi mewaspadai.

Memang, rupiah menaik adalah sebuah harapan, tapi ketika orang bergembira ketika itu pula sebenarnya ada yang dirugikan: pendapatan dari ekspor rupiahnya menurun.
Itu hanya contoh kecil bahwa dalam zaman ekonomi global sekarang, antara pergerakan modal dan kesulitan keuangan merupakan dua hal yang berkait erat. Menteri Keuangan Boediono menduga, investasi akan mulai masuk tahun depan, meski belum besar. Ini sebuah isyarat yang harus diwaspadai. Bukan karena investasi itu ”belum besar”, melainkan justru perlu diantisipasi kalau-kalau investasi tersebut menjadi besar.

Mudahnya, bila investasi cukup besar, sehingga rasa optimisme melambung, ini mengundang inflasi bilamana uang itu tertanam di bidang-bidang yang tidak produktif seperti properti dan saham. Inilah yang terjadi pada krisis 1997-1998 yang lalu. Di Thailand, Malaysia, dan Indonesia ternyata utang luar negeri swasta banyak digunakan membangun properti, terutama apartemen. Menurut The Economist, angka itu sekitar 40%. Begitu bunga naik, sulit dielakkan bahwa nilai aset properti itu turun—baik karena harga properti tidak bisa dinaikkan, atau properti tak laku karena harga harus naik.

Alhasil, ketika utang jatuh tempo, krisis pun muncul menyapa. Dari krisis masa lalu itu kita tahu, betapa mudahnya modal yang masuk segera bermanuver dan menjadi capital outflow.

Adakah Presiden (pemerintah) dalam pidato itu mengimbau agar dilakukan antisipasi itu?
Ada dua imbauan agar kita waspada. Pertama, karena kita hanya akan tumbuh sebesar 4% di tahun depan, dan itu tidak cukup untuk menanggulangi pengangguran. Kewaspadaan perlu diambil juga ”karena masih belum pulihnya iklim investasi”.
Imbauan agar waspada yang lebih beralasan adalah target defisit pada APBN 2004, sekitar 1,2% dari produk domestik bruto—meski angka defisit itu lebih kecil dibandingkan defisit APBN tahun ini yang 1,8%.

Sayang, dalam pidato itu belum tecerminkan apa saja yang akan dilakukan untuk mengurangi pengangguran. Yang disampaikan oleh Presiden baru sebatas ”proyek-proyek pembangunan yang sedang berjalan”, dan ”yang mempunyai dampak luas dalam upaya penciptaan dan peningkatan kesempatan kerja”.

Tapi, apa pun, Presiden Megawati—seperti dikatakan oleh banyak ekonom—yang tak suka membuat pernyataan-pernyataan yang mengguncangkan itu, termasuk angka-angka yang disampaikan pada pidato Tujuh Belasan ini, cukup rasional—setidaknya tak mengakibatkan penurunan ekonomi secara drastis.

Tetapi, seperti telah disinggung, krisis bisa berjalan tersembunyi, dan begitu muncul segalanya terlambat sudah.
Mengantisipasi hal itu, TRUST mencoba meriset, adakah usaha-usaha yang goyang sebentar karena krisis, tapi kemudian segera stabil kembali berkat kiat-kiat tertentu. Belajarlah dari sejarah, kata para pemimpin besar. Belajarlah dari krisis, kata mereka yang survive. Siapa pun juga tahu, belajar dari pengalaman orang lain adalah ekonomis, menghemat uang sekolah.

Kondisi ekonomi Indonesia belum menggembirakan seluruh rakyat. Namun, kata sebuah nasihat, tak berguna mengutuk kekacaubalauan; lebih baik susunlah alternatif-alternatif.

Berikan Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id