Jumat, 3 September 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Investor Marah, Bocah Diculik
Diduga, kasus ini bermotif dendam akibat kerugian bisnis.

Yadi Hendriana dan Cristian Rahadiansyah
 
Hari-hari yang meresahkan pasangan Meirizal-Sri Hartati akhirnya berlalu. Jumat pekan lalu, mereka bersua kembali dengan putranya, Muhammad Hegel Muttahari, yang diculik selama sembilan hari. Dengan rasa penuh haru bercampur kegembiraan, Sri Hartati memeluk erat-erat Hegel, 8 tahun. ”Alhamdulillah, anak saya telah kembali,” ucap Sri Hartati, seraya menangis pelan.

Hegel dibebaskan oleh tim gabungan dari Polsek Serpong, Polsek Penjaringan, dan Polsek Pademangan. Murid kelas 2 di Sekolah Dasar Islam Cikal Harapan di Perumahan Bumi Serpong Damai, Tangerang, Banten, itu disandera para penculik di kamar 645 Hotel Horison, Jakarta Utara. Polisi juga membekuk tiga tersangka penculikan, yakni Nurul H. Lestaluhu, Doni, dan seorang pria keponakan Nurul.

 Artikel Lain
Tosin Tak Kunjung Terjerat
Monster Itu Berganti Wajah
Pak Bos Menggondol Rp 50 Miliar
Asaba Masih Terancam
Investor Marah, Bocah Diculik
Pertemuan Rahasia di Depok
Sumbangan Bermasalah di Partai
Cyber Crime: Tersandung Data Internet
Awas, Kartu Disadap!
Menggondol Setriliun Dana Umat

Sebelum pembebasan, tak tepermanai kecemasan yang melanda Meirizal dan Sri Hartati. Mereka tak menduga si bungsu dari dua anaknya itu diculik seusai sekolah pada Rabu siang, 30 Juli 2003. Saat itu, Hegel hendak pulang ke rumahnya di Bumi Serpong Damai. Ia menunggu mobil jemputan sekolah.
Tiba-tiba, seorang lelaki menghampiri Hegel. Laki-laki ini menanyakan anak yang bernama Angel. Begitu Hegel menyebutkan namanya, lelaki itu secepatnya membawa bocah ini secara paksa. Hegel meronta-ronta dan menangis. Tapi pria itu terus membopongnya ke dalam mobil Toyota Kijang berwarna hijau. Di kendaraan ini, sudah ada enam lelaki lain.

Mobil Kijang itu segera meninggalkan sekolah Hegel. Seorang pegawai di sekolah itu yang melihat penculikan Hegel lantas menelepon Sri Hartati. Kontan, Sri jadi galau. Apalagi suaminya, Meirizal, 40 tahun, sedang di luar kota. Meirizal baru beberapa bulan ini menjadi salah satu Direktur di PT Arthamulia Ereska Perdana yang bergerak di bisnis penjualan logam mulia.
Pada pukul 18.00 WIB, seseorang yang mengaku bernama Abah menelepon Sri. Abah bilang, ia menerima order untuk menculik Hegel dari tiga orang lain. Tapi si Abah tak banyak cakap lagi, selain memberikan nomor telepon seluler (ponsel) miliknya.

Empat jam kemudian, giliran Meirizal mengontak Abah. Meirizal baru tahu peristiwa buruk yang menimpa anaknya setelah pulang ke rumah pukul 19.00 WIB. Lantas Meirizal mencoba menanyakan apa tuntutan Abah sehingga menculik Hegel. Tapi Abah cuma bicara pendek, ”Nanti juga akan tahu.”
Esok paginya, masih melalui hubungan telepon, penculik baru mengatakan bahwa mereka meminta tebusan Rp 4 miliar bila Hegel mau dibebaskan. Meirizal mengaku tak punya uang sebesar itu. Lantas penculik menurunkan tebusan menjadi Rp 400 juta. Uang ini diminta ditransfer ke sebuah rekening di BCA Bogor. Siangnya, Meirizal mengirimkan uang, tapi hanya sebesar Rp 10 juta. Ee, penculik berang. Ia kembali meminta tebusan Rp 4 miliar.

Kepada pasangan itu, penculik juga mengatakan bahwa keadaan Hegel baik-baik saja, kendati sempat terkena demam. Penculik bilang, ia memperlakukan Hegel seperti anak sendiri. Katanya lagi, ia dan Hegel sempat menonton bola melalui tayangan televisi. Hegel yang senang main bola juga dibelikannya kostum bola.

Pada hari ketiga penculikan Hegel, Meirizal kembali dihubungi seseorang, yang kali ini mengaku bernama Bambang. Orang ini mengaku sebagai penanggung jawab penculikan. Bambang meminta Meirizal mentransfer uang Rp 400 juta. Lagi-lagi Meirizal mengaku hanya bisa mengirim Rp 10 juta dan kemudian Rp 5 juta.

Tapi, Meirizal jadi curiga. Jangan-jangan aksi Bambang berbeda dengan Abah. Keyakinan ini semakin kuat begitu malamnya Abah mengabarkan bahwa ada tiga kelompok dalam aksi penculikan ini. Tapi si Abah enggan menjelaskan siapa saja mereka itu.

Abah pun menambahkan bahwa ia berniat melepaskan Hegel. Alasannya, ia telah mundur dari ”proyek” penculikan. Lagi pula, Abah mengaku tak tahu motif penculikan tersebut. Hanya, kata Abah, ia tak bisa ke Jakarta lantaran tiket pesawat terbang dari Makassar, Sulawesi Selatan, sudah habis.

Bersamaan dengan itu, rupanya tim Reserse dari Polsek Serpong telah bergerak melacak penculik. Dari data transfer uang Rp 10 juta yang dilakukan Meirizal ke sebuah rekening di BCA Bogor, akhirnya ditemukan nama pemilik rekening itu, yakni Nurul H. Lestaluhu, 45 tahun. Alamat Nurul diketahui di daerah Cisarua, Bogor.

Polisi lalu meluncur ke Cisarua. Tak tahunya, wanita ini sudah setahun pindah ke Penjaringan di Jakarta Utara. Toh, polisi mendapat informasi dari warga di Cisarua, di antaranya nomor ponsel Tahir Lestaluhu, suami Nurul. Ternyata, nomor ponsel ini yang digunakan Abah bila menghubungi Meirizal. Polisi juga mendapatkan foto keluarga Tahir-Nurul.

Para polisi gabungan dari Polsek Serpong, Polsek Penjaringan, dan Polsek Pademangan kemudian membayangi tempat tinggal Nurul di Penjaringan. Namun sampai empat hari, belum ada seorang pun yang nongol di rumah kontrakan dua lantai itu. Akhirnya datang dua lelaki ke rumah itu. Dua pria ini kelihatan menggunakan sandal Hotel Horison di Jakarta Utara.

Namun, tim Reserse tak mau bertindak gegabah. ”Yang penting, kami harus bisa memastikan dulu di mana Hegel disandera. Kami harus beraksi secara hati-hati,” kata Inspektur Satu Polisi M. Amar, yang juga Kepala Sub Unit Reserse Kriminal Polsek Serpong.

Selain itu, Nurul juga belum kelihatan. Barulah pada hari kesembilan, Jumat pagi pekan lalu, Nurul muncul di rumah sasaran. Dia datang bersama keponakannya serta dua anaknya, yakni Nanang dan kakaknya. Begitu Nurul dan rombongan berada di rumah itu, polisi segera membekuk mereka. Setelah diinterogasi, Nurul mengatakan bahwa Hegel ”ditahan” di kamar 645 di lantai enam Hotel Horison.

Ketika kamar itu digerebek polisi, tak seorang pun terlihat. Tapi, polisi tetap penasaran. Mereka segera membuka pintu kamar mandi. Ternyata, ada Hegel dan seorang penculiknya, Doni. Siang itu pula, Doni, 23 tahun, Nurul, dan kemudian seorang pria yang juga tersangka penculikan diringkus. Hegel, yang mengaku dibawa ke Hotel Horison, Hotel Golden, dan Hotel Sheraton selama diculik, akhirnya bisa berkumpul kembali dengan orang tuanya.

Kini, tinggal dalang serta tiga tersangka lainnya yang diburu polisi. Ada dugaan tokoh-tokoh ini juga sudah dikenal Meirizal. Keyakinan polisi juga demikian. ”Penculikan diduga berkaitan dengan aktivitas bisnis orang tua korban,” kata Kepala Unit Reserse Polsek Serpong, Inspektur Polisi Rachmad Haryanto.

Meirizal yang pernah menjadi wartawan sempat pula menjabat Manager Public Relation PT Probest International. Perusahaan multilevel marketing dengan sistem online ini beroperasi sejak tahun 2001. Menjelang akhir tahun 2002, PT Probest dihantam masalah berat. Ratusan investornya menuntut puluhan miliar rupiah atas uang mereka yang ditanam di PT Probest.

Setelah itu, Meirizal berkiprah di PT Arthamulia Ereska Perdana, yang juga berbisnis ala multilevel marketing melalui transaksi emas. Tak tahunya, pada Juni 2003, perusahaan ini juga bangkrut. Sebanyak 150 orang investornya menuntut pengembalian uang mereka sekitar Rp 5 miliar.
Menurut Meirizal, sebenarnya investor dan pengelola perusahaan sudah sepakat di hadapan notaris untuk pengembalian dana investor. Berdasarkan hal ini, perusahaan membayar cicilan pertama sebesar Rp 900 juta. Ketika cicilan berikutnya akan dibayar, tiba-tiba anak Meirizal diculik.

Meirizal mengaku tak mengerti mengapa setelah Direktur Utama dan seorang Direktur PT Arthamulia menghilang, utang para investor dibebankan kepada dirinya. Adakah ini berarti investor PT Arthamulia berperan dalam penculikan Hegel? Meirizal tak berani memastikannya.

Namun, menurut sebuah sumber TRUST, sehari sebelum penculikan, sekitar jam 14.00 WIB, sebanyak 23 investor bertemu di restoran Wong Solo di Jalan Fatmawati, Jakarta Selatan. Mereka mematangkan kembali skenario penculikan Hegel. Selama dua minggu sebelumnya, orang-orang suruhan mereka juga sudah membayangi kediaman Meirizal.
Pada hari keenam Hegel diculik, sebanyak 20 investor juga berkumpul di kantor PT Arthamulia. Orang-orang ini tak lain dari mereka yang sebelumnya berkumpul di restoran Wong Solo. Kalau begitu, tinggal selangkah lagi buat polisi untuk menggulung komplotan penculik Hegel.

Berikan Komentar untuk artikel ini
Lihat Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id