Jumat, 3 September 2010 | Berlangganan Majalah TRUST 
Sub Rubrik:

Maraknya Onderdil Palsu
Daihatsu Mobil rugi Rp 36 miliar setahun akibat suku cadangnya dipalsu. Namun, kasus pemalsuan onderdil yang terbongkar dan kemudian diadili cuma sedikit.

Lutfi Yusniar, Marah Sutan Nasution, dan Wisnu Arto Subari
 
Pemalsuan barang di Indonesia benar-benar sudah mencapai tingkat meresahkan. Coba, apa yang tidak dipalsu di sini? PT Astra Daihatsu Motor, sebagaimana diakui oleh Wakil Presiden Direkturnya, Noertjahjo Darmadji, juga dilanda pemalsuan onderdil atawa suku cadang yang gila-gilaan. Pemalsuan ini sampai menggerogoti 20% pendapatan Daihatsu Motor. Bila pendapatan Daihatsu Motor sebesar Rp 180 miliar setahun, berarti pemalsuan onderdilnya sebesar Rp 36 miliar per tahun.

Menurut Noertjahjo, pemalsuan suku cadang Daihatsu semakin merebak sejak tahun 2003. Sebetulnya, konsumen pemakai mobil Daihatsu sudah mengeluhkan onderdil palsu Daihatsu sejak tahun 2000. Kebanyakan suku cadang Daihatsu yang dipalsu berupa komponen yang laris diganti. Misalnya, kampas rem, kampas kopling, pelat kopling, saringan oli, saringan bensin, piston platina, peredam kejut, dan packing set.

 Artikel Lain
Faktur Pajak ala Tebet
Empat Perkara Warisan Lulu
Dana Cadangan BNI Bakal Tergerus
Misteri Rekening Edi Karsanto
Maraknya Onderdil Palsu
Patgulipat di Balik Beras Haram
Rentetan Manipulasi Dana di RSCM
Mafia Pembajakan Tak Tergulung
Menipu SMS, Membobol Bank
Stok Lama, Katanya

Karena itu, dengan menyewa jasa hukum dari Kantor Pengacara Soemadipradja & Taher, Daihatsu Motor gencar menginvestigasi kasus pemalsuan onderdil. Hasilnya, enam bulan kemudian, terdeteksi 40 toko pengecer dari 728 toko pengecer onderdil Daihatsu di seluruh Indonesia yang tertangkap tangan menjual onderdil Daihatsu palsu. Dari penggerebekan itu disita sebanyak 484 unit onderdil Daihatsu palsu.

Para pemilik 40 toko itu telah disomasi dan didenda antara Rp 50 juta dan ratusan juta rupiah oleh Daihatsu Motor. Besarnya denda tergantung banyaknya onderdil palsu yang telah mereka jual. Menurut Justisiari Perdana Kusumah dari Kantor Pengacara Soemadipradja & Taher, penjatuhan denda dimaksudkan agar pelaku merasa jera dan tak melakukan pemalsuan lagi.

Investigasi lantas dikembangkan. Ternyata, ditemukan lagi 10 toko pengecer yang menjual onderdil Daihatsu palsu. Beda dengan sebelumnya, 10 toko ini mendapat perhatian serius. Sebab, selain jumlah onderdil palsu yang dijual demikian banyak, mereka juga sudah sejak tahun 1994 ”membisniskan” onderdil palsu Daihatsu. Satu dari 10 toko itu adalah toko Kimberly Motor milik Oyong Liza Huslin di pertokoan Duta Mas, Jakarta Barat.

Bersama petugas dari Polda Metro Jaya, Daihatsu Motor pun meningkatkan investigasi ke tahap penyelidikan. Sampai pada 4 Maret 2004, toko Kimberly Motor—yang ternyata punya gudang cukup luas—digerebek. Berbagai macam onderdil Daihatsu palsu bernilai sekitar Rp 3 miliar disita. Selain itu, ditemukan pula onderdil palsu bermerek Honda, Toyota, Mitsubishi, dan Suzuki senilai Rp 8,7 miliar. Sebagian besar onderdil ini berupa valve seal, piston, gasket kit, dan timing belt.

Oyong lantas ditahan di Polda Metro Jaya. Kepada penyidik, Oyong mengaku tak mengimpor langsung onderdil palsu, tapi melalui perantara. Ia juga mengaku tak tahu alamat importirnya. ”Saya hanya menelepon minta dikirimi barang. Setelah itu, barang datang,” kata Oyong, seperti ditirukan oleh seorang penyidik.

Oyong juga mengaku melakukan perdagangan barang palsu semata-mata untuk mencari untung. ”Untungnya antara 10% dan 20%,” tuturnya. Kini perkara Oyong sudah disidangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Pekan ini, Oyong akan divonis.

DIIMPOR DENGAN KONTAINER
Terbongkarnya kasus Oyong mengingatkan kasus serupa pada Mei 2003. Korbannya adalah PT Astra Otoparts, produsen onderdil sepeda motor merek Aspira. Perusahaan ini mengalami kerugian sebesar Rp 40 miliar setiap tahun akibat pemalsuan onderdil. Namun, dari pengusutan selama tiga bulan, hanya dua pelaku yang bisa diajukan ke meja hijau. Keduanya masing-masing dihukum dua tahun enam bulan penjara.
Sebelumnya, pada April 2003, dua warga Cina, Sie Ka Kui alias Freddy dan Su Sin alias Jody Pangestu, juga diringkus petugas dari Polsek Metro Penjaringan, Jakarta Utara. Dari kantor dua pelaku itu di Kompleks Pergudangan Duta Harapan Indah, Penjaringan, Jakarta Utara, disita ratusan dus berisi ratusan ribu suku cadang kendaraan niaga merek palsu bernilai Rp 60 miliar.

Berbagai suku cadang itu diketahui buatan Cina dan dijual di sini dalam kemasan seperti suku cadang aslinya. Para pedagang barang palsu ini diperkirakan memetik keuntungan sampai 50%. Freddy dan Jody sudah divonis masing-masing dengan hukuman tiga tahun penjara.

Maraknya pemalsuan onderdil mobil agaknya berkaitan dengan suburnya bisnis onderdil di sini. Dari data Gabungan Industri Alat-Alat Mobil dan Motor (GIAMM), total penjualan onderdil pada 2003 mencapai nilai Rp 13,5 triliun. Itu baru hasil penjualan dari 12 industri yang tergabung dalam GIAMM. Mereka memproduksi sekitar 150 jenis suku cadang mobil dan motor. Dari total nilai penjualan onderdil tadi, sebanyak 80% berasal dari onderdil mobil.

Rupanya, kebutuhan onderdil di pasar dalam negeri begitu besar. Namun, kebutuhan ini tak bisa dipenuhi oleh produsen onderdil resmi. Mereka hanya mampu memenuhi 40% kebutuhan pasar. Sudah begitu, harga onderdil asli lebih mahal ketimbang barang imitasinya. Saringan bensin Toyota Soluna asli, misalnya, berharga Rp 188.500 sebuah, sementara itu barang tiruannya hanya Rp 65 ribu.

Repotnya, onderdil palsu juga sulit dibedakan dengan yang asli. Sampai-sampai kalangan agen pemegang merek mobil resmi menyebut onderdil palsu sebagai guy box—maksudnya, dusnya asli, tapi isinya palsu.

Tak mengherankan bila para pedagang di sini memanen untung besar dari perdagangan onderdil palsu. Menurut Noertjahjo, dari empat toko piston, umpamanya, paling banter hanya satu toko yang benar-benar menjual onderdil asli. Keterlaluan, memang.

Itu sebabnya, arus impor onderdil palsu dari mancanegara semakin kencang. Diduga sedikitnya ada empat negara asal onderdil palsu, yakni Cina, Korea, Thailand, dan Taiwan. Barang dari Korea atau Taiwan biasanya rongsokan, tapi kondisinya masih bagus. Yang dari Cina dan Thailand barang baru dari pabrik.

Para importir selalu membeli onderdil palsu itu per kontainer. Tentu saja kontainer-kontainer barang palsu ini bisa masuk ke Indonesia berkat ”permainan” importir dengan petugas, termasuk petugas Bea dan Cukai di pelabuhan. Oyong diduga termasuk dalam jaringan importir ini. Menurut sumber TRUST, importir suku cadang palsu ini bisa dikelompokkan sesuai dengan spesialisasi masing-masing. ”Ada yang khusus piston, karburator, dan lainnya,” tutur sumber ini.

Kata sumber itu, importir suku cadang palsu masih terpusat di Asem Reges, Jakarta Pusat. Namun, pendistribusiannya tersebar di beberapa sudut Jakarta. Pengepakan karburator ada di Asem Reges, sementara itu pengemasan peredam kejut dan piston berpusat di Sunter, Jakarta Utara. Adapun jenis onderdil cepat ganti yang palsu lebih banyak bertengger di pertokoan kawasan Pasar Minggu, Kali Malang, dan Bekasi. Hebatnya, onderdil impor imitasi khusus bus dan truk bisa dipesan melalui importir khusus di Cikokol, Tangerang.

Namun, itu bukan berarti tak ada pasokan onderdil palsu dari ”produsen” di dalam negeri. Jaringan onderdil palsu bikinan dalam negeri tak kalah hebatnya ketimbang jaringan onderdil tiruan yang diimpor. Asal usul barang-barang palsu ini tak jauh-jauh dari sentra industri logam serta onderdil seperti Pasuruan, Malang, Bekasi, Jakarta, dan Tangerang.
Di Jawa Timur, suku cadang palsu yang hendak dipasarkan ditampung dalam gudang di daerah Kedungdoro, Surabaya. Di sana, onderdil palsu tadi dikemas dalam kardus yang dicetak di daerah Ngagel.

Majalah Trust/Verboden/01/2004

Berikan Komentar untuk artikel ini

Edisi 09 - 10 Tahun VI
31 Desember - 6 Januari 2007
www.mnc.co.id